Album debut Beda tidak dirancang untuk mengikuti arah pasar, melainkan untuk memperkenalkan Melisa Darusman secara lebih utuh. Karya berisi sembilan lagu itu menempatkan kejujuran kreatif dan penerimaan diri sebagai pijakan utamanya.
Founder Astari Records, Anggie Setia Ariningsih, mengatakan album tersebut tidak bertujuan membentuk Melisa menjadi sosok lain. Menurutnya, Beda justru mengajak pendengar mengenali siapa Melisa sebenarnya.
“Beda bukan album yang berusaha membuat Melisa menjadi seseorang yang lain,” kata Anggie. Pernyataan itu menegaskan arah album yang mengutamakan karakter personal ketimbang tuntutan tren sesaat.
Sembilan lagu tentang emosi yang dekat
Melisa membawa tema lelah, takut, kehilangan, keraguan, harapan, keberanian, dan perjuangan menjadi diri sendiri dalam album ini. Rangkaian tema tersebut menjadikan Album Beda tidak terbatas pada cerita cinta.
Melisa berharap pendengar dapat melihat bagian dari pengalaman mereka melalui lirik dan melodi yang dibawakan. Ia menilai setiap orang mungkin memiliki cerita berbeda, tetapi rasa tidak cukup dan ketakutan menghadapi hidup dapat dialami banyak orang.
“Jika album ini bisa menemani seseorang dalam perjalanan itu, maka tujuan kami sudah tercapai,” ujar Melisa dalam keterangan resmi. Album ini pun diposisikan sebagai teman bagi proses penerimaan diri yang tidak selalu berjalan mudah.
Jejak musikal dari beberapa era
Melisa memilih sentuhan musik era 1980-an hingga 2000-an sebagai warna utama dalam Beda. Nuansa tersebut mengikat sembilan lagu dan membawa kesan akrab yang dapat dinikmati pendengar lintas generasi.
Ia berharap pendekatan musikal itu memungkinkan karyanya diterima oleh lebih banyak kelompok usia. Bagi Melisa, musik yang dibangun dari kejujuran tetap mampu menemukan pendengarnya.
Sebelum meluncurkan album penuh, Melisa telah memperkenalkan lima singel secara bertahap. Kini, semua lagu dalam Beda tersedia di berbagai platform musik digital di Indonesia dan mancanegara.
Keterlibatan para musisi
Penggarapan album ini melibatkan Titi DJ, Kamga, Uap Widya, Dimas Pradipta, Bembong Rifqy, dan Davin Lienardi. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari proses Melisa membangun perkenalan pertamanya melalui format album.
Kamga, musisi sekaligus pengarah vokal, memandang Beda sebagai rangkuman perjalanan musik Melisa. Ia melihat Melisa hadir sebagai penyanyi, pendengar, dan pencerita lagu-lagu Indonesia.
“Beda terasa seperti kumpulan mixtape dari Melisa yang merangkum perjalanan musiknya sebagai penyanyi, pendengar, dan pencerita lagu-lagu Indonesia,” ujar Kamga. Ia juga menilai lirik-lirik album itu terdengar seperti luapan dari lubuk hati yang dalam.
Salah satu lagu dalam album, Lelah, diciptakan sekitar 16 tahun sebelum akhirnya direkam dan dibawakan Melisa. Tim produksi menilai lagu tersebut tetap relevan karena membahas tantangan hidup yang masih dirasakan banyak orang.
Dengan perpaduan tema emosional dan nuansa musik lintas era, Beda menandai awal perjalanan album Melisa Darusman. Karya ini menghadirkan ruang musikal bagi pendengar yang sedang menavigasi kehilangan, keraguan, hingga keberanian untuk menerima diri.






