Dislipidemia dapat berkembang tanpa gejala dan tidak selalu terlihat dari berat badan seseorang. Orang dengan tubuh langsing pun dapat memiliki kadar lipid darah yang tidak normal serta menghadapi risiko penyakit jantung.
Karena itu, penilaian kesehatan tidak cukup berhenti pada angka timbangan atau indeks massa tubuh. Riwayat keluarga, kebiasaan bergerak, cara memasak, dan ukuran lingkar perut memberi gambaran risiko yang lebih luas.
Lingkar Perut Dapat Menjadi Sinyal Awal
Penumpukan lemak di sekitar organ dalam disebut lemak visceral dan dapat terjadi pada orang dengan BMI normal. Lemak tersebut berada di sekitar usus, pankreas, serta hati, lalu berkaitan dengan peradangan dalam tubuh.
Kondisi ini dapat memicu peningkatan LDL dan berhubungan langsung dengan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Obesitas sentral pada populasi Asia perlu diwaspadai bila lingkar pinggang laki-laki melebihi 90 sentimeter atau perempuan lebih dari 80 sentimeter.
Ukuran lingkar pinggang menjadi pelengkap penting bagi penilaian berat badan. Seseorang dapat terlihat proporsional, tetapi tetap memiliki penumpukan lemak visceral yang tidak tampak dari luar.
| Risiko Tersembunyi | Petunjuk atau Dampaknya |
|---|---|
| Kelainan genetik | LDL dapat tinggi sejak lahir. |
| Makanan gorengan | Cara memasak dapat memengaruhi kolesterol. |
| Kurang aktivitas fisik | Pembakaran kolesterol darah berkurang. |
| Obesitas sentral | Lemak visceral memicu peradangan dan risiko kardiovaskular. |
4 Alasan Tubuh Langsing Tidak Selalu Aman
1. Faktor keturunan
Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari PERKI, menjelaskan bahwa faktor bawaan dapat membuat LDL tinggi sejak lahir. Kondisi itu dikenal sebagai familial hypercholesterolemia.
Kelainan tersebut memengaruhi produksi, sintesis, serta pemecahan kolesterol dalam tubuh. Pola makan sehat tidak selalu cukup untuk menormalkan kadar kolesterol jahat pada orang dengan kondisi genetik ini.
2. Cara memasak yang tidak sehat
Risiko kolesterol tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak makanan dikonsumsi. Cara makanan diolah juga berpengaruh, terutama bila konsumsi makanan gorengan menjadi kebiasaan harian.
Seseorang dapat makan dalam porsi sedikit dan tetap bertubuh langsing, namun kadar kolesterolnya belum tentu aman. Pilihan metode memasak yang tidak mendukung kesehatan jantung dapat menjadi salah satu penyebabnya.
3. Jarang bergerak
Minim olahraga dan kebiasaan duduk terlalu lama dapat mengganggu pengelolaan kolesterol dalam tubuh. Asupan makan yang tidak besar memang dapat menjaga berat badan, tetapi tidak menggantikan peran aktivitas fisik.
Menurut Dr. Susetyo, kurang bergerak membuat pembakaran kolesterol darah menjadi minimal. Kolesterol dapat terus menumpuk meski angka berat badan masih berada dalam rentang normal.
4. Lemak visceral
Lemak visceral merupakan risiko yang sering luput karena tidak selalu mengubah penampilan tubuh secara mencolok. Penumpukannya berkaitan dengan peradangan dan kenaikan LDL yang perlu diperhatikan.
Pemantauan lingkar perut membantu mengenali obesitas sentral pada orang dengan berat badan normal. Langkah ini penting karena BMI normal tidak selalu mencerminkan distribusi lemak yang sehat.
Pemeriksaan Berkala Tetap Diperlukan
Pemeriksaan profil lipid dianjurkan secara rutin, khususnya bagi orang dengan riwayat keluarga penyakit kardiovaskular, diabetes, atau hipertensi. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi risiko lebih awal ketika tidak ada gejala yang dirasakan.
Untuk pasien dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi, pedoman terbaru merekomendasikan LDL-C di bawah 55 mg/dL dan penurunan sedikitnya 50 persen dari kadar awal. Menjaga kesehatan jantung memerlukan gabungan aktivitas fisik, cara memasak yang lebih baik, pemantauan lingkar pinggang, serta pemeriksaan kolesterol.






