AI Belum Terbukti Jadi Penyebab, tetapi Kecemasan Kerja Anak Muda Terus Menguat

Perkembangan AI belum dapat dipastikan sebagai penyebab langsung naiknya pengangguran kaum muda di dunia. Meski demikian, teknologi tersebut telah memperbesar kecemasan anak muda tentang peluang kerja dan kemampuan memperoleh pendapatan yang stabil.

Direktur Departemen Ketenagakerjaan, Keterampilan, dan Usaha Berkelanjutan ILO Sukti Dasgupta menyebut masih terlalu dini untuk menetapkan hubungan sebab-akibat antara AI dan kenaikan pengangguran kaum muda. Ia menilai pertemuan antara ekspansi teknologi dan tekanan pasar kerja cukup nyata untuk mendapat perhatian dan penelitian lebih lanjut.

Kekhawatiran itu muncul ketika pekerjaan yang lazim menjadi pintu masuk karier mulai berkurang. Posisi administrasi dan perkantoran, pekerjaan penjualan, serta manufaktur selama ini banyak menyerap pekerja yang baru memulai karier.

Menyusutnya pekerjaan pemula membuat anak muda yang belum memiliki pengalaman panjang menghadapi persaingan lebih ketat. Tantangannya bukan hanya menciptakan lapangan kerja baru, melainkan juga mempertahankan jalur masuk ke pekerjaan layak saat kebutuhan tenaga kerja berubah.

Pengangguran Global Kembali Naik

ILO mencatat tingkat pengangguran anak muda global untuk usia 15 hingga 24 tahun naik dari 12,3 persen pada 2024 menjadi 12,4 persen pada tahun lalu. Angka tersebut setara dengan sekitar 67 juta anak muda yang belum memperoleh pekerjaan.

Lembaga tersebut memproyeksikan tingkat pengangguran kaum muda global berada pada 12,3 persen pada 2026 dan 2027. Penurunan tipis dalam proyeksi itu tetap menjadi perhatian karena indikator lain menunjukkan semakin banyak anak muda yang terputus dari pendidikan dan pekerjaan.

Kelompok NEET naik menjadi 20 persen dan memengaruhi lebih dari 257 juta orang. Istilah ini digunakan untuk anak muda yang tidak bekerja, tidak bersekolah, serta tidak mengikuti pelatihan.

Pemulihan pasar kerja kaum muda setelah pandemi Covid-19 tidak berlangsung lama. Perlambatan ekonomi global, rendahnya penciptaan pekerjaan, ketegangan geopolitik, dan perubahan teknologi membuat peralihan dari sekolah ke dunia kerja semakin berat.

Risiko Hambatan Struktural

Kepala ILO Gilbert Houngbo menilai generasi muda membutuhkan pekerjaan layak untuk membangun masa depan dengan keyakinan. “Generasi yang tidak dapat menemukan pekerjaan layak tidak akan mampu membangun masa depannya dengan penuh keyakinan,” katanya.

Menurut Houngbo, keterisolasian kaum muda dari pekerjaan berkualitas dapat mengurangi talenta, produktivitas, dan kohesi sosial sebuah negara. Risiko itu dapat semakin besar jika tingginya pengangguran berjalan bersamaan dengan pertumbuhan kelompok NEET.

Tekanan antarwilayah pun berbeda. Peningkatan pengangguran terbesar terjadi di Afrika Utara, Amerika Utara, serta Eropa Utara, Selatan, dan Barat.

SubkawasanTingkat Pengangguran Anak MudaKeterangan
Negara-negara Arab26,2 persenTertinggi di dunia
Afrika Utara22,6 persenHambatan struktural tinggi

Negara-negara Arab dan Afrika Utara tetap menjadi subkawasan dengan tingkat pengangguran anak muda tertinggi secara global. ILO mengingatkan bahwa kenaikan dari level yang sudah tinggi dapat menunjukkan hambatan struktural yang makin mengakar, terutama bagi talenta muda dan perempuan muda.

Asia Tengah dan Barat serta Eropa Timur mengalami penurunan pengangguran, tetapi jumlah anak muda kategori NEET meningkat. Amerika Latin dan Karibia mencatat penurunan pada kedua indikator, yang antara lain terkait menyusutnya jumlah penduduk usia muda.

Perdebatan mengenai kecerdasan buatan perlu ditempatkan dalam konteks tekanan pasar kerja yang lebih luas. Ketersediaan pekerjaan awal akan menentukan apakah perubahan teknologi membuka peluang transisi baru atau justru memperpanjang jarak anak muda dari kegiatan ekonomi produktif.

Baca Juga