Sedikitnya 85 akun pengguna pemerintah Taiwan dilaporkan dibobol dalam serangan siber yang memadukan peretasan manual dengan agen kecerdasan artifisial atau AI. Pelaku juga mengakses lebih dari 2.500 catatan personel, sebelum sasaran serangan meluas ke sektor energi.
Perluasan insiden ke badan keselamatan nuklir dan sedikitnya tujuh perusahaan energi membuat serangan siber Taiwan ini mendapat perhatian besar. Target tersebut mencakup lembaga pemerintah dan infrastruktur penting yang memiliki peran strategis.
Skala Insiden yang Terungkap
| Aspek | Temuan |
|---|---|
| Akun pemerintah dibobol | Sedikitnya 85 akun |
| Catatan personel diakses | Lebih dari 2.500 catatan |
| Sasaran lanjutan | Badan keselamatan nuklir dan sedikitnya tujuh perusahaan energi |
| Rata-rata serangan pada 2025 | 2,63 juta kali per hari |
Kementerian Urusan Digital Taiwan atau MDA mulai mendeteksi aktivitas mencurigakan pada 20 Juli. Lembaga itu menyebut aktivitas tersebut sebagai serangan abnormal yang berasal dari luar negeri.
National Institute of Cyber Security lalu mengeluarkan serangkaian peringatan selama penyelidikan berlangsung. Temuan awal memperlihatkan bahwa operasi tersebut tidak berhenti pada satu institusi pemerintah.
Peran Agen AI dalam Operasi Peretasan
Perusahaan AI Israel, Dream, menyatakan penyerang memakai agen AI sumber terbuka untuk membangun perangkat peretasan otonom. Sistem itu digambarkan dapat bekerja menyerupai tim siber terkoordinasi dalam menjalankan tahapan serangan.
Pendekatan ini memungkinkan pelaku menggabungkan pengintaian, pencarian kerentanan, dan eksploitasi secara lebih terstruktur. Open Claw disebut sebagai salah satu agen AI yang dipakai dalam pola serangan campuran tersebut.
Dream menilai insiden di Taiwan sebagai salah satu contoh awal pelanggaran sistem yang menggunakan metode semacam itu. Namun, perusahaan tersebut tidak mengaitkan operasi ini dengan kelompok peretas tertentu.
Dugaan Keterkaitan dengan China
Dream menduga operator serangan mempunyai kaitan dengan China, antara lain berdasarkan penggunaan bahasa China Sederhana dalam komunikasi internal operasi. Indikasi itu belum dapat diperlakukan sebagai penetapan identitas resmi pelaku.
Pemerintah Taiwan juga tidak secara langsung menuding Beijing sebagai pihak di balik serangan tersebut. Sikap resmi MDA hanya menegaskan bahwa karakteristik operasi itu menunjukkan asal serangan dari luar negeri.
MDA menyatakan sumber serangan, metode, dan cakupan dampaknya telah diperiksa secara menyeluruh. “Unit-unit yang terdampak secara bertahap telah menyelesaikan penanganannya,” kata MDA sebagaimana dikutip CNN Indonesia dari The Guardian.
Tekanan Siber yang Terus Meningkat
Badan Keamanan Nasional Taiwan sebelumnya mencatat rata-rata serangan siber China terhadap infrastruktur penting mencapai 2,63 juta kali setiap hari pada 2025. Angka itu disebut meningkat 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Taiwan selama beberapa tahun menuding China menjalankan ancaman hibrida yang mencakup latihan militer, disinformasi, dan aktivitas peretasan. Badan Keamanan Nasional Taiwan menyebut sebagian serangan siber terjadi bersamaan dengan latihan militer di sekitar pulau tersebut.
Pemerintah Taiwan kini menetapkan pedoman perlindungan dan memperkuat pemantauan sistem untuk menghadapi ancaman berbasis agen AI. Langkah itu dinilai penting karena kemampuan AI dapat memperbesar kapasitas pelaku dalam menyerang banyak target secara lebih cepat.






