Enam tampilan menjadi pilihan Lil Public untuk menerjemahkan banyak karakter dalam novel Toko Jajanan Ajaib Zenitendo. Koleksi Tendo Series tidak berusaha merangkum seluruh cerita, melainkan memilih tokoh dan emosi yang dapat menyatu dengan identitas monster jenama tersebut.
Hasilnya tampil di JF3 Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading, pada Kamis (23/07). Model berjalan dengan ekor, alas kaki berbulu, sarung tangan besar, dan penutup kepala yang mengubah bentuk tubuh mereka menjadi karakter imajinatif.
Daftar tampilan Tendo Series
Lil Public menampilkan enam rancangan utama dalam koleksi tersebut. Keterangan yang dimuat lifestyle.kompas.com mencatat nama-nama tampilan sebagai berikut.
| No. | Tampilan | Koleksi |
|---|---|---|
| 1 | Goburin Cardigan | Tendo Series |
| 2 | Yukie Jacket | Tendo Series |
| 3 | Akira Jacket | Tendo Series |
| 4 | Keiji Jacket | Tendo Series |
| 5 | Hidea Cardigan | Tendo Series |
| 6 | Ide Moto Beskap | Tendo Series |
Setiap tampilan berangkat dari karakter atau lapisan emosi dalam cerita. Rasa takut, iri, ragu, hingga dorongan untuk diterima diterjemahkan melalui potongan dan aksesori yang dramatis.
Karakter dipilih melalui pembacaan cerita
Muhammad Hafiz, salah satu pendiri Lil Public, mengatakan tim terlebih dahulu membedah isi novel sebelum menentukan karakter yang akan digunakan. Setelah itu, pemungutan suara dilakukan untuk menyaring pilihan yang paling sesuai untuk koleksi.
“Zenitendo kan karakternya banyak banget. Enggak mungkin semuanya kita bikin,” kata Hafiz. Langkah tersebut membuat koleksi berfokus pada bagian cerita yang dinilai menarik dan sejalan dengan bahasa visual Lil Public.
Novel Zenitendo ditulis oleh Reiko Hiroshima dan telah diterjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Al Liefta mengatakan tim memilihnya setelah membaca dan meneliti karya sastra yang dinilai memiliki kecocokan dengan dunia monster Lil Public.
“Tim kita baca buku dulu, riset macam-macam,” ujar Al dalam konferensi pers JF3 Fashion Festival 2026 di Summarecon Mall Kelapa Gading. Proses itu dilakukan sebelum tim mulai mengembangkan rancangan di meja gambar.
Model tidak sekadar mengenakan motif
Pada karya sebelumnya, monster Lil Public lebih banyak muncul sebagai ilustrasi pada busana. Tendo Series mengubah pendekatan itu dengan menjadikan model sebagai perwujudan monster secara langsung.
Al menyebut tujuan utama koleksi adalah membuat tubuh model ikut masuk ke dalam karakter. “Kita pengen si modelnya menjadi monster,” ungkapnya.
Furry monster headpiece, custom 3D art headpiece, ekor, dan sepatu berbentuk kaki monster berbulu menjadi elemen pembeda. Salah satu penutup kepala yang menjuntai hingga menutup wajah juga memberi gambaran sosok yang ingin menghindari pandangan dunia.
Tren global tetap dipertahankan
Lil Public memasukkan polkadot, kombinasi biru dan cokelat, serta warna butter yellow yang tampil dalam mode musim panas. Polkadot dirancang dengan ukuran lingkaran besar dan kecil yang disebar acak, sehingga tidak menyerupai susunan klasik.
Meski mengambil sejumlah kecenderungan global, koleksi tetap kembali pada karakter abstrak Lil Public. Setelah Zenitendo, Hafiz menyatakan minatnya untuk berkolaborasi dengan Dee Lestari, penulis novel Aroma Karsa.






