6 Film Indonesia yang Membuktikan Perjuangan Bisa Dimulai dari Sekolah dan Keluarga

Sekolah, keluarga, dan kemampuan membaca menjadi ruang penting dalam enam film Indonesia bertema perjuangan ini. Ceritanya menegaskan bahwa perjuangan dapat dimulai dari upaya memahami hak, mempertahankan pekerjaan, atau tetap memilih tanah air di tengah keterbatasan.

Daftar ini juga memperlihatkan benturan yang berbeda pada tiap zaman, dari aturan kolonial hingga tekanan media sosial. Ada pula pengalaman warga Indonesia yang harus membangun hidup di luar negeri tanpa kepastian dapat kembali.

Enam judul tersebut menghadirkan tokoh-tokoh yang melawan keadaan melalui pilihan dan keteguhan mereka. Berikut ringkasan tema, tahun rilis, dan klasifikasi masing-masing film.

JudulTahunPerjuanganKlasifikasi
Tanah Surga… Katanya2012Menjaga pilihan tinggal di IndonesiaSU
Sokola Rimba2013Belajar membaca demi hak tanah adatSU
Kartini2017Akses pendidikan perempuanR13
Bumi Manusia2019Melawan ketidakadilan kolonial17+
Budi Pekerti2023Menjaga keluarga dan pekerjaan13+
Eksil2024Mempertahankan identitas13+

1. Tanah Surga… Katanya (2012)

Hasyim menjadi pusat cerita Tanah Surga… Katanya yang disutradarai Herwin Novianto. Mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia-Malaysia 1965 itu memilih bertahan di Indonesia, meski tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia, Kalimantan, dengan keterbatasan ekonomi dan pembangunan.

Keputusan Hasyim diuji oleh pilihan Haris, anaknya, yang ingin menetap di Malaysia demi kehidupan yang dianggap lebih baik. Cerita juga menampilkan Astuti yang mengajar di sekolah memprihatinkan serta dokter Anwar yang melayani kesehatan masyarakat.

Film ini mengangkat rasa kebangsaan yang berhadapan langsung dengan kebutuhan warga perbatasan. Tanah Surga… Katanya berklasifikasi SU dan tersedia di Vidio.

2. Sokola Rimba (2013)

Di Hutan Bukit Duabelas, Jambi, pendidikan menjadi jalan yang ditempuh Butet untuk membantu masyarakat adat Orang Rimba. Sokola Rimba karya Riri Riza terinspirasi pengalaman Saur Marlina Manurung atau Butet Manurung mengajarkan baca, tulis, dan berhitung.

Butet yang diperankan Prisia Nasution bertemu Bungo, anak yang ingin membaca surat perjanjian terkait tanah adat. Tujuan itu memunculkan penolakan dari lingkungan kerja dan sebagian masyarakat yang memandang pendidikan dapat mendatangkan malapetaka.

Film ini menempatkan literasi sebagai kebutuhan untuk memahami hak sendiri. Sokola Rimba berklasifikasi SU dan dapat ditonton melalui Netflix maupun Prime Video.

3. Kartini (2017)

Kartini berlatar awal 1900-an ketika perempuan pribumi menghadapi keterbatasan besar untuk memperoleh pendidikan. Dian Sastrowardoyo memerankan R.A. Kartini yang menyaksikan ibunya, Ngasirah, direndahkan karena tidak memiliki darah ningrat.

Minat Kartini pada bacaan dan diskusi mengarahkan pandangannya pada kesetaraan serta hak perempuan. Bersama Roekmini dan Kardinah, ia mendirikan sekolah untuk masyarakat miskin dan membuka lapangan pekerjaan bagi warga Jepara.

Film arahan Hanung Bramantyo ini menunjukkan perjuangan yang lahir dari pemikiran dan tindakan sosial. Film R13 tersebut tersedia di Vidio.

4. Bumi Manusia (2019)

Kisah Minke dalam Bumi Manusia membawa persoalan pendidikan dan ketidakadilan ke era Hindia Belanda awal abad ke-20. Sebagai pemuda pribumi yang bersekolah di HBS, ia kemudian dekat dengan Annelies, putri Nyai Ontosoroh.

Diskriminasi sistem kolonial tampak ketika hukum berupaya memisahkan Annelies dari keluarganya. Minke dan Nyai Ontosoroh melawan melalui pendidikan, tulisan, serta keberanian memperjuangkan hak.

Film Hanung Bramantyo ini berkategori 17+ dan tersedia di Netflix. Perjuangan dalam cerita tersebut tidak digambarkan sebagai perlawanan fisik semata.

5. Budi Pekerti (2023)

Budi Pekerti mengangkat ancaman terhadap martabat keluarga pada era digital. Prani, guru BK yang diperankan Sha Ine Febriyanti, menghadapi risiko kehilangan pekerjaan setelah video perselisihannya dengan pengunjung pasar tersebar di media sosial.

Tekanan yang muncul turut mengguncang Tita dan Muklas, anak-anak Prani, yang berusaha membantu ibunya. Mereka juga menghadapi situasi Didit, ayah mereka, yang sedang mengalami depresi.

Film karya Wregas Bhanuteja ini berklasifikasi 13+ dan tersedia di Netflix. Ceritanya menyoroti dampak penghakiman publik yang dapat meluas ke seluruh anggota keluarga.

6. Eksil (2024)

Eksil adalah dokumenter garapan Lola Amaria tentang mahasiswa Indonesia penerima beasiswa pemerintah Presiden Soekarno yang berada di luar negeri pada 1965. Peristiwa politik tahun itu membuat mereka tidak dapat pulang ke Indonesia.

Para mahasiswa tersebut tersebar di China, Uni Soviet, Belanda, Cekoslowakia, Jerman, dan Swedia. Sebagian kehilangan kewarganegaraan lalu menjalani hidup puluhan tahun jauh dari keluarga serta tanah air.

Film berklasifikasi 13+ ini merekam perjuangan menjaga identitas sambil menata kehidupan baru di negeri orang. Eksil sebelumnya diputar secara terbatas di sejumlah bioskop Indonesia.

Baca Juga