Gempa Flores pada 12 Desember 1992 menjadi peringatan paling berat dari aktivitas Sesar Naik Flores. Guncangan bermagnitudo 7,8 itu memicu tsunami dan menewaskan lebih dari 2.500 orang.
Catatan sejarah menunjukkan ancaman di jalur ini tidak hanya berupa guncangan kuat. Sejumlah gempa yang berkaitan dengan sesar tersebut juga pernah memicu tsunami di Bali, Lombok, hingga Flores.
Jejak 5 Gempa Besar
Lima peristiwa berikut memperlihatkan besarnya dampak gempa pada jalur Sesar Naik Flores. Data mencakup kejadian dari awal abad ke-19 sampai gempa Flores 1992.
| Peristiwa | Magnitudo | Dampak tercatat |
|---|---|---|
| Bali-Lombok, 22 November 1815 | M7,0 | Tsunami di Bali utara dan Lombok |
| Bima, 28 November 1836 | M7,5 | Mengguncang wilayah Bima |
| Bali-Lombok, 13 Mei 1857 | M7,0 | Tsunami di Bali dan Lombok |
| Seririt, 14 Juli 1976 | M6,6 | 67.419 rumah rusak dan 559 orang meninggal |
| Flores, 12 Desember 1992 | M7,8 | Tsunami dan lebih dari 2.500 orang meninggal |
1. Gempa Bali-Lombok 1815
Gempa M7,0 mengguncang Bali dan Lombok pada 22 November 1815. Peristiwa ini tercatat menimbulkan tsunami di Bali bagian utara serta Lombok.
Kejadian tersebut menjadi salah satu catatan awal tentang dampak gempa kuat di jalur utara kedua pulau itu. Tsunami menunjukkan bahwa ancaman dari sumber gempa bawah laut perlu diperhitungkan.
2. Gempa Bima 1836
Bima diguncang gempa M7,5 pada 28 November 1836. Peristiwa ini termasuk kejadian kuat yang berkaitan dengan aktivitas Sesar Naik Flores.
Data yang tersedia mencatat guncangan besar di wilayah Bima. Magnitudonya menjadi salah satu yang tertinggi dalam lima kejadian tersebut sebelum gempa Flores 1992.
3. Gempa Bali-Lombok 1857
Gempa M7,0 kembali mengguncang Bali dan Lombok pada 13 Mei 1857. Gempa itu dilaporkan memicu tsunami di kedua wilayah.
Peristiwa 1857 memperlihatkan bahwa tsunami bukan hanya terjadi sekali pada kawasan Bali dan Lombok. Catatan ini menguatkan pentingnya kewaspadaan terhadap sumber gempa di laut utara pulau-pulau tersebut.
4. Gempa Seririt 1976
Kerusakan besar terjadi ketika gempa M6,6 mengguncang Seririt, Bali, pada 14 Juli 1976. Sebanyak 67.419 rumah dilaporkan rusak dalam peristiwa itu.
Korban meninggal di Bali mencapai 559 orang. Dampak tersebut memperlihatkan bahwa gempa dengan magnitudo lebih rendah daripada kejadian 1992 tetap dapat menimbulkan bencana luas.
5. Gempa Flores 1992
Gempa M7,8 pada 12 Desember 1992 merupakan kejadian paling mematikan dalam daftar ini. Tsunami yang menyusul guncangan menyebabkan lebih dari 2.500 orang meninggal.
Besarnya korban menjadikan peristiwa itu salah satu catatan paling penting dalam sejarah kebencanaan di kawasan Flores. Dampaknya menegaskan risiko gempa-tsunami dari jalur patahan aktif tersebut.
Segmen Aktif di Busur Belakang
Sesar Naik Flores atau Flores Back-Arc Thrust merupakan patahan naik aktif di dasar laut. Jalurnya membentang dari utara Bali dan Nusa Tenggara hingga Wetar.
Patahan ini terbentuk akibat tekanan tektonik dari tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Aktivitasnya kembali menjadi perhatian setelah gempa M7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8), yang disebut dipicu oleh sesar tersebut.
Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 dari Pusat Studi Gempa Nasional mencatat beberapa segmen memiliki pergerakan aktif. Segmen Bali bergerak 6,9 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum 7,4.
Segmen Lombok-Sumbawa memiliki laju 9,9 milimeter per tahun dan magnitudo maksimum 8,0. Flores Barat serta Flores Tengah masing-masing tercatat bergerak 11,6 milimeter per tahun, sedangkan Flores Timur 5,6 milimeter per tahun.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono, menekankan bahwa waktu gempa belum dapat diprediksi. “Kapan akan terjadi gempa, kita belum mampu memprediksi, tetapi kita harus siap menghadapinya,” ujarnya.






