Perilaku yang dinilai aneh atau kurang baik tidak selalu memiliki arti negatif dalam studi psikologi. Dari meja kerja yang berantakan hingga kesukaan pada seni abstrak, sejumlah kebiasaan disebut berkaitan dengan kreativitas, fokus, atau cara memproses informasi.
Hubungan tersebut tidak dapat digunakan untuk menetapkan kecerdasan seseorang. IQ dan kemampuan kognitif tidak bisa dinilai hanya berdasarkan satu atau dua kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
| No. | Kebiasaan | Aspek yang Dikaitkan |
|---|---|---|
| 1 | Banyak bertanya | Rasa ingin tahu |
| 2 | Seni abstrak dan musik instrumental | Pemahaman pola |
| 3 | Waktu sendiri | Refleksi dan kreativitas |
| 4 | Menunda-nunda | Curah gagasan |
| 5 | Mencorat-coret | Fokus dan ingatan |
| 6 | Berbicara sendiri | Konsentrasi |
| 7 | Sarkas | Kreativitas |
| 8 | Ruang berantakan | Gagasan rumit |
| 9 | Mengumpat | Keluasan kosakata |
| 10 | Begadang | Kognitif dan berpikir kritis |
1. Mempertanyakan Banyak Hal
Kebiasaan bertanya dapat mencerminkan rasa ingin tahu yang kuat. Seseorang dengan kecenderungan tersebut biasanya aktif mencari penjelasan tentang subjek tertentu, pengalaman orang lain, maupun cara sebuah proses berlangsung.
2. Menyukai Seni Abstrak dan Musik Instrumental
Seni abstrak tidak selalu menawarkan makna yang langsung terlihat. Ruang penafsiran itu, termasuk dalam musik instrumental, dapat menarik bagi orang yang menikmati keterlibatan kreatif dan tantangan memahami pola.
3. Menikmati Waktu Sendiri
Kesendirian dapat menyediakan waktu untuk refleksi, berpikir kritis, dan memahami emosi pribadi. Studi dalam Journal of British Psychology menyebut orang cerdas dapat kurang bahagia ketika terlalu banyak bersosialisasi serta lebih puas saat merenung atau menekuni hobi.
4. Menunda-nunda
Penundaan tidak selalu terjadi karena seseorang mengabaikan pekerjaan. Studi dalam Journal of Research in Psychology mengaitkan kebiasaan itu dengan orang ber-IQ tinggi ketika mereka masih mengembangkan ide, mencari formula terbaik, atau membayangkan proyek secara kreatif.
5. Mencorat-coret di Kertas
Mencorat-coret ketika mendengar penjelasan atau mengikuti rapat dapat terlihat seperti tanda tidak fokus. Penelitian dalam Applied Cognitive Psychology menyatakan kegiatan itu dapat membantu perhatian, ingatan, dan kreativitas.
6. Berbicara kepada Diri Sendiri
Berbicara sendiri bukan otomatis tanda adanya gangguan kesehatan mental. Penelitian dalam The Quarterly Journal of Experimental Psychology menyebut kebiasaan ini dapat membantu daya ingat, fokus, konsentrasi, dan kejernihan pikiran.
7. Menggunakan Sarkasme
Sarkasme mengharuskan seseorang memahami konteks dan makna tersirat dalam percakapan. Studi dalam Organizational Behavior and Human Decision Processes mengaitkan penggunaannya dengan peningkatan kreativitas.
8. Nyaman di Ruang yang Tidak Rapi
Lingkungan yang berantakan umumnya dianggap dapat mengganggu konsentrasi. Namun, studi dalam Psychological Science mengaitkan kondisi tersebut dengan kreativitas serta kemampuan mengabaikan gangguan demi berfokus pada gagasan kompleks.
9. Sering Mengumpat
Penggunaan kata kasar kerap dipandang hanya sebagai perilaku yang tidak baik. Studi dalam Language Sciences menyebut kecenderungan mengumpat dapat menunjukkan koleksi kosakata lebih luas sekaligus menjadi sarana meredakan ketegangan.
10. Begadang
Studi yang dimuat dalam BMJ Public Health menemukan kecenderungan orang yang begadang memiliki keterampilan kognitif dan berpikir kritis lebih tinggi daripada orang yang produktif pada pagi hari. Hasil tersebut tidak berarti kurang tidur dianjurkan karena penelitian itu hanya menunjukkan adanya kaitan antara pola kebiasaan dan kemampuan tertentu.
Berbagai temuan itu menggambarkan bahwa perilaku sehari-hari dapat memiliki konteks yang lebih luas daripada penilaian umum. Penilaian kemampuan seseorang tetap memerlukan pertimbangan yang tidak berhenti pada kebiasaan ganjil yang terlihat di permukaan.






