Proyek AI ISAT Incar Laba Rp1,4 Triliun, Belanja Modal US$5,9 Miliar Jadi Ujian

ISAT menargetkan kontribusi laba bersih hingga Rp1,4 triliun per tahun dari Zankore mulai 2028. Namun, ambisi tersebut berjalan beriringan dengan kebutuhan belanja modal sekitar US$5,9 miliar untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan berskala besar.

Pasar menyambut peluncuran proyek itu dengan kenaikan harga saham ISAT sebesar 15 persen dalam sepekan. Meski demikian, nilai ekonomi Zankore masih harus dibuktikan melalui penyelesaian pembangunan, penyerapan kapasitas komputasi, dan pengendalian biaya operasional.

Target Finansial dan Skala Proyek

Riset Mirae Aset Sekuritas memperkirakan Zankore dapat menghasilkan pendapatan US$13 miliar dalam lima tahun. EBITDA kumulatif proyek ini diproyeksikan mencapai sekitar US$9 miliar pada periode yang sama.

IndikatorTarget atau ProyeksiPeriode
Kapasitas awal200 MWTahap awal
Potensi ekspansiHingga 1 GigawattJangka pengembangan
Pendapatan ZankoreUS$13 miliarLima tahun
EBITDA kumulatifSekitar US$9 miliarLima tahun
Laba bersih untuk ISATRp1,4 triliun per tahunMulai 2028

Zankore dirancang sebagai AI Factory yang mengolah data mentah menjadi produk kecerdasan buatan melalui sistem terintegrasi. Fasilitas berbasis teknologi NVIDIA ini akan memulai kapasitas pada 200 MW dan berpeluang diperluas hingga 1 Gigawatt.

Skala tersebut menempatkan Zankore sebagai proyek AI Factory terbesar di Asia Tenggara. Penyelesaian fasilitas dijadwalkan pada semester I 2027 sebelum kontribusi laba diproyeksikan muncul pada 2028.

Biaya Infrastruktur Menjadi Risiko Utama

Bisnis infrastruktur AI membutuhkan investasi besar untuk GPU, server, dan pusat data. Beban depresiasi serta bunga dapat menekan keuntungan apabila utilisasi kapasitas komputasi belum mencapai tingkat optimal.

Risiko serupa terlihat pada CoreWeave atau CRWV yang mencatat pertumbuhan pendapatan agresif, tetapi masih membukukan kerugian. Tekanan keuangannya terutama berasal dari depresiasi dan beban bunga setelah investasi besar pada infrastruktur komputasi AI.

ISAT memiliki penyangga berupa suntikan modal US$800 juta dari Ooredoo Group. Dana ini dinilai dapat mengurangi kebutuhan perseroan menambah leverage yang berpotensi meningkatkan beban bunga.

Namun, dukungan modal tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan risiko proyek. Perlambatan permintaan akibat kondisi ekonomi dan kenaikan suku bunga bank sentral tetap dapat memperpanjang masa pengembalian investasi.

Kolaborasi Teknologi dan Kepemilikan

Zankore dikerjakan bersama Ooredoo Group, NVIDIA, dan Nokia. Ooredoo Group menguasai 49 persen kepemilikan, sedangkan ISAT bersama NVIDIA dan Nokia secara kolektif memegang 51 persen.

Porsi kepemilikan ISAT diperkirakan berada pada kisaran 15 persen hingga 30 persen. Kontribusi bisnis Zankore terhadap ekuitas ISAT disebut mencapai Rp8,8 triliun.

NVIDIA menyediakan GPU generasi terbaru dan perangkat lunak AI sebagai inti kapasitas komputasi. Teknologi MaxLPS dari NVIDIA dirancang untuk mengoptimalkan kapasitas komputasi lebih dari 40 persen dengan daya yang tersedia.

Nokia mendukung jaringan berbasis AI yang aman dan berkinerja tinggi, sementara Ooredoo menyediakan dukungan pendanaan serta jaringan regional. Kombinasi tersebut memperkuat fondasi proyek, tetapi permintaan pelanggan tetap menjadi penentu utama realisasi targetnya.

Perhatian Investor pada Eksekusi

Mirae Aset dan Indopremier menetapkan target harga saham ISAT di kisaran Rp2.700 hingga Rp3.600 per saham. Nilai wajar berada di sekitar Rp3.000-an per saham apabila proyeksi laba Zankore dapat diwujudkan.

Bagi investor jangka panjang, perkembangan pembangunan dan tingkat pemakaian kapasitas akan lebih penting dibanding sentimen awal pasar. Kemampuan Zankore mengubah investasi besar menjadi pendapatan berkelanjutan akan menentukan dampaknya terhadap ISAT.

Baca Juga