Tuntutan agar Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mundur menjadi titik utama protes Partai Kecoak yang terus membesar di India. Ribuan demonstran muda tetap menduduki jalanan pusat New Delhi pada Kamis (23/7/2026), meski pemerintah memberlakukan pembatasan baru.
Aksi tersebut menekan pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi karena pengumuman pengadilan cepat belum meredakan kemarahan massa. Para pemimpin gerakan menegaskan demonstrasi akan terus berjalan sampai tuntutan pengunduran diri dipenuhi.
Kemarahan Berawal dari Sistem Ujian
Gerakan ini muncul lebih dari sebulan sebelumnya setelah dugaan kebocoran soal ujian masuk perguruan tinggi kedokteran dan seleksi pegawai pemerintah. Bagi jutaan anak muda India, perkara itu menjadi simbol kegagalan sistem ujian nasional.
Massa tidak hanya meminta penanganan terhadap perkara kebocoran soal. Mereka juga menuntut reformasi sistem ujian dan kompensasi bagi keluarga siswa yang mengakhiri hidup akibat kasus tersebut.
Partai Kecoak bermula sebagai kampanye satire daring pada Mei. Aksi kecil di berbagai kota pada Juni kemudian berkembang menjadi gerakan jalanan dengan basis dukungan yang lebih luas.
Kalangan profesional dan keluarga ikut memberi dukungan ketika isu ujian berubah menjadi saluran kekecewaan publik. Gerakan ini menunjukkan keresahan yang melampaui persoalan administrasi pendidikan semata.
Respons Modi Belum Mengakhiri Aksi
Modi pada Kamis mengumumkan pembentukan pengadilan cepat khusus untuk menangani perkara kebocoran soal. Pengadilan tersebut dirancang untuk mempercepat proses hukum di tengah sistem peradilan India yang dikenal berjalan lambat.
Dalam unggahan di platform X, Modi menyatakan, “Tidak ada yang lebih penting daripada kesejahteraan dan masa depan generasi muda kita.” Pernyataan itu menjadi respons publik pertama Modi terhadap persoalan yang memicu protes.
| Tuntutan Massa | Respons Pemerintah | Status Aksi |
|---|---|---|
| Pradhan mengundurkan diri | Pengadilan cepat diumumkan | Demonstrasi berlanjut |
| Reformasi sistem ujian | Percepatan penanganan perkara | Massa tetap berkemah |
Pendiri kelompok, Abhijeet Dipke, menanggapi perkembangan itu dengan unggahan meme wajah Pradhan. Ia menulis, “Hai, nama saya Tidak Ada,” sebuah respons yang mempertahankan corak satire Partai Kecoak.
Bentrokan dan Pembatasan di Pusat Ibu Kota
Ketegangan telah meningkat sejak Senin (20/7/2026), ketika ribuan orang berusaha menuju gedung parlemen. Polisi membubarkan mereka dengan gas air mata dan pentungan.
Bentrokan juga terjadi pada malam sebelum aksi Kamis, tetapi demonstran kembali berkumpul pada pagi harinya. Kemampuan massa untuk kembali setelah pembubaran paksa menunjukkan protes masih memiliki daya tahan kuat.
Otoritas memblokade sejumlah jalan menuju lokasi aksi untuk membatasi pergerakan massa. Sebanyak 16 stasiun kereta bawah tanah di pusat New Delhi turut dihentikan sementara operasionalnya.
Kompas yang mengutip Associated Press melaporkan bahwa pembatasan akses belum menghentikan demonstran mendatangi titik aksi. Mereka tetap memilih berkemah di jalan sebagai bentuk penolakan terhadap langkah pemerintah.
Aktivis Bergabung dalam Gerakan
Perhatian terhadap protes semakin besar setelah aktivis Sonam Wangchuk bergabung dan menjalani mogok makan selama lebih dari tiga pekan. Polisi memindahkan Wangchuk secara paksa ke rumah sakit pada akhir pekan sebelumnya.
Bagi banyak anak muda, aksi jalanan menjadi ruang terbuka untuk menyampaikan ketidaksetujuan terhadap pemerintah. Meluasnya gerakan ini sejalan dengan tren di Asia Selatan, ketika generasi muda menjadi penggerak berbagai protes antipemerintah dalam beberapa tahun terakhir.






