Trevoh Chalobah membuka lembaran baru bersama Como 1907 setelah menjalani perjalanan panjang dan tidak selalu mulus di Chelsea. Bek Inggris itu memilih klub Italia tersebut karena percaya pada peran yang disiapkan Cesc Fabregas serta arah perkembangan tim.
Keputusan itu menandai akhir kebersamaan Chalobah dengan Chelsea, klub yang akademinya ia masuki sejak 2007. Selama berkarier di sana, ia beberapa kali berada di dalam dan luar rencana skuad utama.
Ketahanan Setelah Situasi Berubah
Posisi Chalobah di Chelsea terus berubah di bawah pelatih berbeda. Ketidakpastian itu berlanjut ketika Enzo Maresca secara terbuka tidak lagi memasukkannya ke dalam proyeksi tim.
Chalobah sempat dipinjamkan ke Crystal Palace sebelum akhirnya kembali ke Chelsea. Pengalaman tersebut membuatnya terbiasa menghadapi masa sulit tanpa kehilangan fokus terhadap tujuan karier.
“Itulah salah satu kelebihan dan kemampuan saya, yaitu bangkit kembali dari kesulitan dan tidak membiarkan apa pun memengaruhi saya,” tegas Chalobah. Menurutnya, tantangan dalam sepak bola maupun kehidupan selalu bisa muncul dari situasi yang berada di luar kendali seseorang.
Dalam konteks itu, tawaran Como hadir sebagai kesempatan untuk membangun peran baru. Chalobah melihat dirinya dapat membantu tim dengan bekal pengalaman, kekuatan fisik, dan kemampuan memimpin.
Fabregas Memberi Gambaran yang Jelas
Pembicaraan dengan Fabregas menjadi faktor besar dalam keputusan Chalobah pindah ke Italia. Pelatih Como itu menjelaskan visi permainan, arah klub, serta posisi yang dipandang cocok untuk sang bek.
“Dia berperan sangat besar. Dia menjelaskan apa yang dia inginkan, bagaimana dia melihat klub ini dan bagaimana dia melihat saya cocok di klub ini,” ujar Chalobah. Penjelasan tersebut menguatkan keyakinannya untuk menerima tantangan bersama Como.
Keduanya sebenarnya telah saling mengenal sejak Fabregas masih bermain di London sampai 2019. Chalobah juga sudah memahami standar tinggi yang biasa diterapkan mantan gelandang Spanyol itu kepada pemain muda.
“Saya ingat betapa menuntutnya dia terhadap pemain-pemain muda. Jadi ya, saya sangat mengenalnya,” kata Chalobah, dikutip BBC Sport. Familiaritas terhadap karakter Fabregas membantu pemain tersebut memahami tuntutan yang akan dihadapi di klub barunya.
Transfer Besar di Tengah Minat Inter
Como dilaporkan mendatangkan Chalobah dengan biaya 30 juta euro ditambah bonus. Transfer itu tetap terwujud meski Inter Milan, juara bertahan Serie A dan Coppa Italia, disebut turut menaruh minat kepada pemain tersebut.
Bagi Chalobah, faktor penentu bukan sekadar peluang pindah dari Chelsea. Ia menilai proyek yang tengah disusun Como dan ambisi yang disampaikan manajer menjadi alasan lebih kuat untuk memilih tujuan tersebut.
“Ini bukan keputusan yang diambil dalam semalam, ini adalah keputusan yang sangat matang dan sulit,” kata Chalobah. Ia ingin menjadi bagian dari kisah Como yang sedang dibangun.
Panggilan Terakhir untuk Inggris
Periode ini juga membawa momen penting bagi Chalobah di tingkat internasional. Pada musim panas ini, ia dipanggil menyusul ke skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026 setelah sebelumnya tidak masuk daftar awal 26 pemain pilihan Thomas Tuchel.
Tuchel memiliki peran khusus dalam perjalanan Chalobah karena pernah memberinya debut di Chelsea. Pelatih itu kemudian kembali membuka peluang bagi Chalobah melalui panggilan pada saat-saat akhir menuju Piala Dunia.
“Kisah ini sudah tertulis sebelum saya lahir. Dialah yang memberi saya kesempatan debut di Chelsea dan dialah manajer yang sama yang memanggil saya untuk Piala Dunia di menit-menit terakhir,” ujar Chalobah. Dengan pengalaman tersebut, ia memasuki masa baru di Como dengan tantangan klub dan tim nasional yang sama-sama penting.






