Gempa berkekuatan M7,7 di wilayah timur laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, menjadi perhatian karena kondisi tanah lunak dapat membuat getaran terasa lebih kuat di permukaan. Badan Geologi Kementerian ESDM mengingatkan batuan lapuk dan sedimen permukaan berpotensi memperbesar efek guncangan di area tertentu.
Risiko tersebut penting diperhatikan warga, terutama di kawasan yang berada dekat tebing atau memiliki kondisi tanah rentan. Masyarakat diminta tetap tenang, memeriksa kondisi bangunan, serta mengikuti arahan BPBD dan petugas di daerah masing-masing.
Getaran Kuat Terasa di Sejumlah Wilayah
BMKG mencatat guncangan dengan intensitas V MMI dirasakan di Kota Bima dan Kabupaten Dompu. Pada tingkat ini, getaran umumnya dirasakan banyak orang dan dapat membuat benda-benda ringan bergoyang.
Ruteng mengalami intensitas IV-V MMI, sementara Ende, Labuan Bajo, Maumere, dan Sumba Timur juga berada pada kisaran IV-V MMI. Getaran gempa turut dilaporkan terasa hingga Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan.
| Wilayah | Intensitas Guncangan |
|---|---|
| Ruteng | IV-V MMI |
| Kota Bima dan Kabupaten Dompu | V MMI |
| Ende, Labuan Bajo, Maumere, dan Sumba Timur | IV-V MMI |
Tanah Lunak Menjadi Faktor Penguat Getaran
Badan Geologi mengelompokkan kondisi tapak lokal di sekitar episentrum dalam Kelas Tanah C, D, dan E berdasarkan data Vs30. Klasifikasi itu mencakup tanah sangat padat atau batuan lunak, tanah sedang, hingga tanah lunak.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menyatakan kondisi tanah tersebut dapat memengaruhi intensitas getaran yang diterima di permukaan. “Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak ini berarti potensi guncangan gempa bumi di area tersebut terasa lebih intens,” ujar Lana dalam keterangannya pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Wilayah di sekitar sumber gempa memiliki bentang alam yang beragam, mulai dari dataran hingga kawasan berbukit dan pegunungan. Daerah ini juga tersusun atas batuan gunung api berumur Tersier serta batuan sedimen berumur Kuarter.
Karakter geologi tersebut membuat dampak guncangan tidak selalu sama di setiap lokasi. Kawasan dengan lapisan sedimen permukaan dan batuan yang telah melapuk perlu mendapat perhatian lebih setelah gempa kuat.
Parameter Gempa Sempat Berubah
Gempa terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58.23 WIB, di timur laut Nagekeo. Episentrumnya berada di laut dan berkaitan dengan aktivitas sesar naik.
BMKG pada data awal mencatat magnitudo M7,0 dengan kedalaman 10 kilometer di koordinat 8,33° LS dan 121,32° BT. Sementara GFZ semula melaporkan M6,25 pada kedalaman 10 kilometer sebelum memperbarui parameternya menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.
| Sumber Data | Magnitudo | Kedalaman | Lokasi |
|---|---|---|---|
| BMKG data awal | M7,0 | 10 km | 8,33° LS – 121,32° BT |
| GFZ data awal | M6,25 | 10 km | 8,375° LS – 121,545° BT |
| Pembaruan parameter | M7,7 | 15 km | Timur Laut Nagekeo |
Berdasarkan parameter sumbernya, gempa ini memiliki mekanisme sesar naik yang berasosiasi dengan Flores Back Arc Thrust. Badan Geologi menempatkan kawasan tersebut dalam kategori rawan gempa tingkat menengah hingga tinggi.
Warga dianjurkan menjauhi tebing yang berpotensi mengalami pergerakan tanah, terutama saat hujan. Informasi mengenai gempa dan potensi tsunami juga perlu dipastikan berasal dari sumber resmi agar tidak memicu kepanikan.






