Tak Perlu Menjauhi Telur karena Bisul, Kenali Bedanya dengan Reaksi Alergi

Telur tidak perlu dijauhi hanya karena kekhawatiran akan bisul. Dokter dan ahli gizi menegaskan tidak ada bukti bahwa konsumsi telur menjadi penyebab terbentuknya bisul.

Kekhawatiran tersebut dapat membuat asupan protein dan mikronutrien penting berkurang, terutama bila telur dihindari tanpa dasar diagnosis. Telur justru dikenal sebagai bahan pangan dengan protein berkualitas tinggi serta sejumlah zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

Telur Mendukung Perbaikan Jaringan

Ahli gizi Siti Sora menjelaskan telur mengandung asam amino esensial lengkap. Telur juga memasok vitamin A, vitamin B12, dan kolin.

Protein dalam telur berperan mendukung perbaikan jaringan serta fungsi sistem imun. Oleh sebab itu, protein tidak dipandang sebagai pemicu terbentuknya bisul.

Siti Sora menyatakan makan telur, bahkan dalam jumlah cukup banyak, tidak terbukti menyebabkan bisulan. Akun @rizalnutritionist juga menyampaikan penjelasan serupa dalam unggahan pada 21/10/2024.

Unggahan tersebut menekankan bahwa bisul berasal dari infeksi bakteri, sedangkan telur memiliki berbagai kandungan gizi. Pemahaman ini menjadi penting agar orang tua tidak membatasi pemberian telur kepada anak karena mitos lama.

Infeksi dan Alergi Tidak Dapat Disamakan

Dokter Ayman Alatas menerangkan bahwa bisul umumnya berkaitan dengan infeksi bakteri Staphylococcus aureus. Sementara jerawat dikaitkan dengan bakteri Cutibacterium acnes.

KeluhanDasar Penjelasan
BisulUmumnya terkait infeksi bakteri Staphylococcus aureus.
JerawatDikaitkan dengan bakteri Cutibacterium acnes.
Reaksi alergi telurSistem imun merespons protein pada putih atau kuning telur.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa keluhan kulit tidak selalu berasal dari makanan yang dikonsumsi. Menyamakan bisul dengan alergi dapat mengaburkan penyebab serta mekanisme kondisi yang sebenarnya.

Alergi telur dapat memicu ruam atau gatal pada orang yang telah didiagnosis memiliki kondisi tersebut. Gejalanya biasanya muncul dalam beberapa menit hingga dua jam setelah konsumsi telur.

Reaksi itu muncul karena sistem imun merespons protein dari putih atau kuning telur. Dr. Ayman menyebut sensitivitas atau alergi dapat memperburuk masalah kulit yang telah ada melalui reaksi inflamasi sistemis.

Namun, kemungkinan perburukan pada individu yang sensitif bukan bukti bahwa telur langsung menyebabkan bisul atau jerawat. Orang dengan alergi telur dapat membatasi konsumsi sesuai diagnosis yang telah diterima.

Cerita yang Menghidupkan Kembali Mitos

Anggapan telur memicu bisul kembali menjadi perbincangan setelah Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono membagikan pengalaman masa kecilnya. Ia tumbuh di Grobogan, Jawa Tengah, dalam keluarga yang memelihara ayam di dekat rumah.

Telur sering menjadi pilihan makanan karena ikan sulit didapat di wilayah yang jauh dari pantai. Sudaryono mengatakan ia terbiasa menyantap telur dalam jumlah banyak hingga mengalami bisulan pada beberapa bagian tubuh.

Kisah itu memunculkan perdebatan mengenai hubungan antara makan telur dan bisul. Ahli gizi dr. Tar Shot Yen kemudian membantah anggapan tersebut melalui akun Instagram @drtanshotyen.

“Maaf pak, telur nggak bikin bisulan. Pun, jika kebanyakan,” tulis dr. Tan. Ia mengingatkan bahwa edukasi manfaat telur perlu diperkuat agar kecukupan gizi anak tidak terganggu oleh kekhawatiran yang tidak tepat.

Bagi orang tanpa alergi telur, bahan pangan ini dapat tetap dikonsumsi sebagai bagian dari asupan harian. Sementara itu, kebersihan kulit tetap perlu dijaga mengingat bisul berkaitan dengan infeksi bakteri.

Baca Juga