Tak Lagi Memanjat Pohon Cari Sinyal, Desa di Flores Timur Kini Mengejar Kapasitas

Warga di sejumlah pelosok Flores Timur pernah memanjat pohon hanya untuk mendapatkan sinyal telekomunikasi. Kini, internet telah tersedia di berbagai fasilitas publik, tetapi peningkatan kapasitas menjadi pekerjaan berikutnya agar koneksi dapat melayani lebih banyak pengguna.

Perubahan itu terasa penting bagi wilayah dengan kondisi kepulauan dan pegunungan. Sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, dan desa tidak lagi selalu harus mengirim data dari tempat yang jauh hanya karena jaringan tidak tersedia di lokasi mereka.

Kepala Dinas Kominfo Flores Timur Silvester Suban Toa Kabelen menggambarkan kesulitan warga sebelum konektivitas meluas. “Kadang naik pohon karena di bawah tidak ada sinyal, jadi harus naik pohon,” katanya dalam agenda BAKTI Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Enam BTS Membawa Akses ke Fasilitas Publik

BAKTI Komdigi telah membangun enam BTS di Flores Timur dan membantu sekitar 262 akses internet. Layanan tersebut dimanfaatkan oleh pemerintahan, desa, sekolah, serta fasilitas kesehatan yang sebelumnya mengalami hambatan jaringan.

Kehadiran akses digital mengurangi kebutuhan perjalanan khusus untuk mengirim laporan, data pendidikan, dan informasi kesehatan. Konektivitas juga memperluas sarana komunikasi masyarakat yang sebelumnya dibatasi oleh medan geografis.

Namun, tersedianya sinyal belum otomatis menjawab seluruh kebutuhan pengguna. SMAN 1 Titehena menghadapi kebutuhan kapasitas lebih besar karena jaringan dipakai untuk administrasi dan asesmen dalam waktu yang sama.

Sekitar 450 siswa bersama 50 guru dan pengawas dapat menggunakan sambungan secara bersamaan ketika asesmen berlangsung. Kepala sekolah Konradus Kudarto berharap kapasitas jaringan diperbaiki agar infrastruktur yang ada dapat dimanfaatkan maksimal.

“Ada Sesuatu yang Harus Dibenahi”

Konradus menilai peningkatan kapasitas perlu dilakukan setelah layanan terpasang di lapangan. “Saya datang dengan harapan besar supaya ada peningkatan kapasitasnya. Sudah ada di lapangan, tapi ada sesuatu yang harus dibenahi supaya itu bisa dimaksimalkan,” ujar Konradus.

Kondisi di sekolah tersebut memperlihatkan pergeseran kebutuhan konektivitas di daerah. Masalahnya tidak lagi terbatas pada ada atau tidaknya sinyal, melainkan kemampuan jaringan menangani aktivitas digital bersama-sama.

Untuk wilayah 3T, BAKTI menggunakan infrastruktur terestrial dan non-terestrial guna menjangkau daerah sulit. Jaringan itu mencakup satelit, serat optik, layanan internet publik, dan BTS 4G untuk kawasan 3T maupun perbatasan.

InfrastrukturData UtamaPemanfaatan
Satria-1Kapasitas 150 GbpsKonektivitas fasilitas publik wilayah 3T sejak 2024
Palapa Ring12.148 km dan 131 titik NOCJaringan serat optik di 57 kabupaten/kota
BAKTI AKSILebih dari 31.864 titik layananInternet gratis bagi layanan publik
BAKTI SINYAL6.747 titik BTS 4GKonektivitas 3T dan wilayah perbatasan

Satria-1 mendukung layanan di sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, serta pos TNI dan Polri. Direktur Utama BAKTI Komdigi Fadhilah Mathar menyatakan penggunaan satelit memungkinkan perpaduan solusi terestrial dan non-terestrial untuk mempercepat konektivitas digital.

Palapa Ring menjadi tulang punggung serat optik bagi kawasan non-komersial. Jaringan tersebut memiliki bentang sekitar 12.148 kilometer serta melayani 131 titik Network Operation Center di 57 kabupaten/kota.

Peluang Baru bagi Ekonomi Desa

Konektivitas di wilayah 3T juga diarahkan untuk mendukung literasi digital, UMKM, pariwisata, dan kemitraan dengan BUMDes maupun BUMDesma. Internet memberi peluang bagi desa untuk memakai informasi digital dalam kegiatan ekonomi sehari-hari.

Contohnya terjadi di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, saat petani menggunakan internet untuk mencari informasi harga komoditas. Mereka tidak lagi sepenuhnya mengandalkan informasi dari pembeli lokal ketika akan menjual hasil pertanian.

Kepala Desa Baina Barat Yuslan mengatakan warga dapat membandingkan harga dan mencari calon pembeli dengan penawaran lebih baik. Media sosial juga dipakai untuk mempromosikan produk UMKM kepada konsumen di luar desa.

Perjalanan Flores Timur dari memanjat pohon demi sinyal menuju pemanfaatan internet di fasilitas publik menunjukkan dampak nyata pembangunan konektivitas. Tantangan berikutnya adalah memastikan kapasitas jaringan tetap memadai saat kebutuhan pendidikan, layanan publik, dan ekonomi digital terus meningkat.

Baca Juga