Guncangan terkuat akibat gempa M 7,7 di Nusa Tenggara Timur mencapai VII MMI di sejumlah wilayah Pulau Flores. BMKG mengaitkan gempa dangkal ini dengan aktivitas Flores Back Arc Thrust, struktur sesar naik busur belakang Flores.
Gempa berpusat pada kedalaman 15 kilometer, lebih dangkal dibanding gempa M 7,8 di kawasan tersebut pada 1992 yang berada pada kedalaman 28 kilometer. Kedalaman pusat gempa yang relatif dangkal membuat dampak kerusakan fisik dinilai lebih berat.
Wilayah dengan Guncangan Paling Kuat
Intensitas VII MMI tercatat di Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Riung di Kabupaten Ngada, Kota Ambai, serta kawasan Manggarai dan Ruteng. Pada skala ini, getaran dapat dirasakan sangat kuat oleh masyarakat di wilayah terdampak.
BMKG juga mencatat intensitas VI MMI di Wolowae, Nagekeo, dan Kota Bajawa. Sejumlah daerah lain merasakan gempa pada skala V MMI.
Flores Back Arc Thrust memiliki riwayat aktivitas gempa merusak. Karena itu, BMKG terus memantau perubahan aktivitas seismik dan pergerakan sesar secara real-time setelah gempa utama.
235 Gempa Susulan Masih Tercatat
Hingga pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat 235 gempa susulan setelah gempa utama. Lembaga tersebut memperkirakan proses peluruhan alami aktivitas gempa dapat berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan stabilisasi sesar memerlukan jeda sebelum aktivitas seismik kembali normal. Pemantauan dilakukan dengan mempertimbangkan riwayat dan karakteristik wilayah yang terdampak.
“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” kata Faisal dalam rapat koordinasi penanganan darurat gempa Provinsi NTT di Jakarta.
Masyarakat diminta mengikuti pembaruan dari kanal resmi dan menjauhi bangunan yang retak akibat guncangan. Imbauan ini berlaku selama potensi gempa susulan masih dipantau.
Tsunami Terdeteksi di Sejumlah Titik
Gempa ini sempat memicu tsunami yang teramati di pesisir Flores, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. BMKG menggunakan model multi-skenario untuk memetakan ancaman gelombang setelah gempa utama.
| Wilayah | Tinggi Gelombang | Status Pengamatan |
|---|---|---|
| Reo Manggarai dan Manggarai Timur | 1,61 meter | Puncak gelombang tercatat |
| Maurole, Ende | 0,94 meter | Gelombang terukur |
| Bulukumba dan Sape, Bima | Lebih dari 0,5 meter | Gelombang teramati |
Status Siaga digunakan untuk potensi tsunami setinggi 0,5 meter hingga 3 meter, sedangkan Waspada berlaku untuk gelombang di bawah 0,5 meter. Peringatan dini tsunami diterbitkan dua menit 16 detik setelah gempa dan diperbarui sekitar 10 menit kemudian ketika parameter dinilai lebih presisi.
Seluruh peringatan dini tsunami diakhiri pada pukul 07.30 WIB setelah kondisi muka laut kembali aman. Tsunami dari gempa ini turut terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Data Lapangan Disiapkan untuk Pemulihan
BMKG Pusat bersama 14 Unit Pelaksana Teknis BMKG se-NTT menerjunkan tim ahli ke Ngada, Nagekeo, dan titik rawan lain di Pulau Flores. Tim melakukan survei mikrozonasi serta makroanalisis untuk mendukung langkah pemulihan pascabencana.
Survei tersebut mengukur jenis tanah dan responsnya terhadap guncangan gempa. Hasil analisis akan disampaikan kepada pemangku kepentingan sebagai dasar rekonstruksi dan penguatan bangunan tahan gempa.
BMKG meminta warga mengandalkan informasi resmi yang didukung lebih dari 2.000 sensor kegempaan nasional, termasuk 553 sensor seismograf. Koordinasi penanganan terus dilakukan bersama BNPB, Basarnas, TNI-Polri, dan pemerintah daerah.






