Serangan Bot Naik 63 Persen di APAC, AI E-Commerce Membuka Celah Baru

Perusahaan perdagangan digital di Asia Pasifik menghadapi lonjakan serangan bot hingga 63 persen sepanjang 2025. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi dibandingkan kawasan lain ketika pemanfaatan AI makin luas dalam layanan belanja daring.

Ancaman tersebut tidak hanya berisiko mengganggu situs web, tetapi juga dapat menekan transaksi, akses akun pelanggan, serta layanan loyalitas. Otomatisasi yang memudahkan pelanggan kini sekaligus memperluas titik masuk yang perlu dilindungi perusahaan.

Laporan State of the Internet (SOTI): Securing the Agentic Storefront: Attacks on Commerce dari Akamai mencatat tekanan serangan juga muncul pada lapisan aplikasi. Serangan DDoS Layer 7 sepanjang 2025 naik 39 persen, dari sekitar 260 miliar menjadi 361 miliar kejadian.

DDoS Layer 7 membanjiri aplikasi dengan lalu lintas palsu agar layanan melambat atau tidak dapat diakses. Lapisan ini menjadi sasaran penting karena berada pada area yang dipakai pengguna untuk berinteraksi langsung dengan layanan web.

Ritel Menjadi Sasaran Utama Serangan API

Serangan DDoS Layer 7 yang mengarah ke API paling banyak menyasar ritel, dengan porsi 51 persen. Perhotelan menyumbang 28 persen, sedangkan perjalanan mencatat 21 persen dari serangan terhadap API tersebut.

IndikatorData AkamaiKonteks
Kenaikan aktivitas bot63 persenPerdagangan digital APAC sepanjang 2025
Kenaikan DDoS Layer 739 persenDari 260 miliar menjadi 361 miliar kejadian
Serangan DDoS API ke ritel51 persenPorsi terbesar menurut sektor
Serangan web perjalanan ke API25 persenDari serangan web sektor perjalanan

API berperan sebagai penghubung antara sistem pembayaran, inventaris, logistik, pemesanan, dan program loyalitas. Gangguan pada salah satu titik ini dapat langsung memengaruhi kelancaran pengalaman pelanggan saat bertransaksi.

Risiko tersebut terasa besar di industri perjalanan dan perhotelan Asia Pasifik. Tingginya penggunaan aplikasi seluler, platform yang saling terhubung, serta program loyalitas memperluas permukaan serangan di sektor ini.

Bisnis perjalanan menyumbang 22 persen dari serangan web terhadap perusahaan perdagangan digital di Asia Pasifik. Dari porsi itu, 25 persen secara khusus menargetkan API yang menopang layanan perjalanan.

AI Menambah Tantangan Identifikasi Bot

Pada Juli hingga Desember 2025, e-commerce menyumbang 38 persen dari seluruh lalu lintas bot AI yang diamati Akamai di berbagai industri Asia Pasifik. Angka ini menunjukkan perdagangan digital menjadi salah satu lingkungan terpadat bagi otomatisasi berbasis AI.

Perusahaan ritel mengembangkan agentic commerce untuk membantu pemilihan produk, memberikan rekomendasi personal, dan mendorong penyelesaian transaksi. Namun, aktivitas otomatis yang sah dapat terlihat mirip dengan bot berbahaya dalam skala besar.

Pelaku serangan dapat memanfaatkan otomatisasi untuk melakukan credential stuffing. Metode ini menggunakan kombinasi akun dan kata sandi curian untuk mencoba mengambil alih akun pelanggan.

Ancaman lain datang dari web scraping, yakni pengambilan data otomatis tanpa izin. Sistem keamanan perlu membedakan perilaku pelanggan, layanan AI yang sah, dan pola otomatisasi yang berpotensi merugikan bisnis.

Director of Security Technology and Strategy APJ Akamai, Reuben Koh, mengatakan setiap integrasi digital dapat menghadirkan pintu baru bagi pelaku serangan. “Setiap interaksi dengan chatbot, proses pemesanan, maupun integrasi program loyalitas menghadirkan titik masuk digital baru yang perlu diidentifikasi, dipahami, dan diamankan,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Perlindungan Tidak Bisa Lagi Bersifat Menyeluruh

Akamai menyarankan perusahaan memetakan API yang mendukung proses penting, termasuk pembayaran, inventaris, transaksi, dan program loyalitas. Langkah ini diperlukan untuk mengenali titik rentan sebelum dimanfaatkan penyerang.

Pengelolaan otomatisasi juga perlu didasarkan pada tingkat risiko, bukan dengan memblokir atau mengizinkan semua aktivitas secara menyeluruh. Pendekatan tersebut ditujukan agar perlindungan berjalan tanpa menghambat pelanggan yang menggunakan layanan sah.

Menjelang musim belanja dan liburan, perusahaan perlu menguji ketahanan terhadap DDoS, memantau toko daring palsu, serta menyiapkan kapasitas menghadapi lonjakan trafik. Kolaborasi tim keamanan siber dan pencegahan fraud menjadi penting agar perluasan AI tidak mengorbankan ketahanan bisnis.

Baca Juga