Penurunan berat badan yang besar dapat diikuti rambut yang menipis atau rontok. Risiko ini lebih tinggi saat pembatasan makan membuat tubuh kekurangan energi, protein, dan mikronutrien penting.
Folikel rambut memerlukan pasokan nutrisi terus-menerus untuk mempertahankan pertumbuhan. Sel folikel termasuk yang paling cepat membelah, sehingga perubahan asupan dapat terlihat pada kondisi rambut.
Diet Rendah Kalori Dapat Menghambat Pertumbuhan
Diet ketat yang memangkas kalori secara berlebihan berpotensi membuat folikel kekurangan energi. Masalah dapat bertambah bila menu harian juga tidak menyediakan protein yang cukup.
Protein memasok asam amino yang menjadi bahan pembentuk rambut. Kekurangan protein dapat membuat helai rambut lebih rapuh, pertumbuhannya terganggu, dan jumlah rambut yang lepas meningkat.
Kerontokan juga dapat muncul beberapa waktu setelah operasi bariatrik. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kekurangan nutrisi akibat gangguan penyerapan setelah tindakan operasi.
Orang yang menjalani operasi bariatrik mungkin memerlukan suplemen mikronutrien berdasarkan arahan tenaga kesehatan. Pemantauan ini penting untuk mencegah masalah kekurangan gizi, termasuk gangguan pada rambut.
Zat Gizi yang Perlu Dievaluasi
Kekurangan zat besi, vitamin D, dan zinc kerap ditemukan pada orang dengan masalah rambut rontok. Ketiganya berperan dalam proses yang diperlukan folikel, seperti pembelahan sel dan sintesis protein.
| Nutrisi | Peran untuk folikel | Dampak kekurangan |
|---|---|---|
| Zat besi | Mendukung kebutuhan folikel rambut | Dikaitkan dengan telogen effluvium |
| Vitamin D | Mendukung pertumbuhan folikel | Rendah pada sebagian kondisi kerontokan |
| Zinc | Mendukung pemulihan dan sintesis protein | Pertumbuhan melambat serta kerontokan |
Zat besi yang rendah dikaitkan dengan telogen effluvium, yakni gangguan siklus pertumbuhan rambut. Salah satu dugaan menyebut tubuh memprioritaskan cadangan zat besi untuk fungsi yang lebih penting daripada pertumbuhan rambut.
Vitamin D mendukung kesehatan folikel dan kadarnya ditemukan lebih rendah pada sebagian orang dengan alopecia areata maupun kerontokan berpola. Dalam studi terhadap 109 orang, kelompok yang mengalami kerontokan memiliki kadar vitamin D lebih rendah dibandingkan kelompok tanpa kerontokan.
Zinc membantu fungsi imun, pembelahan sel, sintesis protein, dan pemulihan folikel. Kekurangan tembaga, biotin, vitamin B12, folat, serta riboflavin juga dikaitkan dengan masalah kerontokan.
Jangan Menganggap Suplemen Selalu Aman
Menambah suplemen tanpa mengetahui kebutuhan tubuh tidak selalu membantu mengatasi rambut menipis. Suplemen berlebihan, terutama selenium, vitamin E, dan vitamin A, dapat berkaitan dengan kerontokan.
Vitamin A yang terlalu tinggi dapat menyebabkan hipervitaminosis A ketika hati tidak lagi mampu menyimpan kelebihannya. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu fungsi folikel rambut.
Ada laporan seorang perempuan kehilangan seluruh rambut kepala setelah mengonsumsi kacang brasil dalam jumlah besar setiap hari selama 20 hari. Kadar selenium darahnya hampir lima kali lipat dari kisaran normal.
Perhatikan Pola Hidup Secara Menyeluruh
Kulit kepala secara normal dapat melepaskan sekitar 100 helai rambut per hari. Kerontokan menyeluruh atau menetap perlu mendapat perhatian karena penyebabnya dapat melibatkan kondisi medis dan kecukupan nutrisi.
Merokok, alkohol, stres berkepanjangan, dan tidur yang buruk juga dikaitkan dengan risiko kerontokan lebih tinggi. Pemeriksaan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah perubahan rambut berkaitan dengan pola makan, kekurangan zat gizi, atau faktor lain.






