Pemerintah akan segera memulai pembangunan Giant Sea Wall untuk melindungi pesisir utara Pulau Jawa yang menghadapi abrasi, rob, dan kenaikan permukaan air laut. Presiden Prabowo Subianto menegaskan proyek ini tidak boleh menunggu bencana terjadi lebih dahulu.
Rencana tersebut mencakup bentang wilayah dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur, sehingga menjadi salah satu proyek perlindungan pesisir berjangka panjang. Pemerintah memperkirakan keseluruhan pembangunan membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 tahun.
Skala proyek membuat pelaksanaannya akan melintasi masa jabatan lebih dari satu presiden. Meski demikian, Prabowo menyatakan pemerintahannya bertekad memulai pembangunan tanggul laut raksasa tersebut.
Perlindungan bagi Warga dan Industri
Koridor Pantura menjadi perhatian karena puluhan juta penduduk menggantungkan kehidupan di kawasan pesisir utara Jawa. Wilayah ini juga menampung aktivitas ekonomi dan pusat industri nasional yang tersebar dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Ancaman kenaikan air laut dinilai tidak hanya berisiko terhadap permukiman warga, tetapi juga terhadap keberlanjutan kegiatan ekonomi. Pemerintah memandang perlindungan pesisir sebagai kebutuhan untuk menjaga kawasan yang telah mulai terdampak perubahan kondisi laut.
CNBC Indonesia melaporkan pemerintah menempatkan proyek ini sebagai perlindungan bagi konsentrasi industri di sepanjang jalur Pantura. Dengan demikian, pembangunan tanggul besar dipandang berkaitan dengan keselamatan warga sekaligus kesinambungan aktivitas industri.
| Aspek | Rencana Giant Sea Wall |
|---|---|
| Bentang wilayah | Banten hingga Gresik |
| Jumlah segmen | 15 segmen |
| Perkiraan pengerjaan | Sekitar 15-20 tahun |
| Fungsi | Penahan abrasi dan rob, pasokan air bersih, serta kawasan ekonomi baru |
Dirancang dalam 15 Segmen
Berdasarkan kajian berbagai pihak, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, jalur pembangunan dibagi menjadi 15 segmen. Pembagian ini mengikuti cakupan wilayah yang sangat panjang dari Provinsi Banten sampai Kabupaten Gresik.
Giant Sea Wall tidak direncanakan sebagai tanggul penahan rob semata. Infrastruktur ini juga diproyeksikan mendukung penyediaan air bersih dan membuka jalur pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pesisir.
Prabowo meminta agar pengembangan proyek tersebut menjadi hasil rekayasa anak bangsa. Arah ini dimaksudkan agar kebutuhan perlindungan pantai, pasokan air, dan kegiatan ekonomi dapat berjalan beriringan.
Pesan untuk Tidak Menunda
Prabowo menyampaikan penegasan itu saat pidato penyampaian RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (14/8). Ia menyebut tanggul besar di utara Jawa sebagai kebutuhan mutlak bagi kawasan yang menghadapi ancaman air laut.
Dalam pidatonya, Prabowo mengajak Indonesia belajar dari Belanda yang membangun infrastruktur perlindungan jangka panjang tanpa menunggu bencana. Menurutnya, langkah besar perlu dilakukan untuk menyelamatkan puluhan ribu hektare kawasan yang mulai terdampak kenaikan air laut.
“Tanggul besar untuk mengamankan pantai utara Pulau Jawa ini mutlak harus kita lakukan. Jangan kita tunggu bencana datang,” tegas Prabowo.
Pembangunan proyek ini akan menjadi proses panjang dengan tantangan besar di sepanjang pesisir utara Jawa. Namun, pemerintah menempatkannya sebagai infrastruktur perlindungan jangka panjang untuk menjaga Pantura di masa mendatang.






