Jalan Berisiko Menyerempet Nyawa, Polisi Tembus Desa Nitung Setelah Gempa

Tim Polres Sikka harus melewati jalan rawan longsor untuk mencapai Desa Nitung yang terisolasi setelah gempa NTT. Wakapolres Sikka Kompol Marselus Yugo Amboro menggambarkan jalur tersebut sebagai perjalanan yang “menyerempet nyawa”.

Rombongan akhirnya tiba pada Minggu (16/8) sekitar pukul 20.00 Wita setelah menempuh perjalanan darat sekitar dua jam dari bibir pantai. Pembukaan akses ini menjadi titik penting karena warga sebelumnya belum dapat menerima bantuan selama hampir dua hari.

Material Longsor Menutup Jalur Desa

Batu-batu besar dan tanah longsor menutup akses darat menuju Desa Nitung di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka. Aparat perlu membersihkan jalur di tengah kemungkinan tanah bergerak kembali dan material reruntuhan yang masih berada di jalan.

“Kesulitan kami adalah jalan yang masih rawan longsor, dan itu jalan menyerempet nyawa,” kata Yugo. Risiko tersebut menjelaskan mengapa desa di Pulau Palue itu sempat tidak bisa dijangkau segera setelah gempa.

Menurut CNN Indonesia, tim kepolisian masih berada di Desa Nitung hingga Senin (17/8) pagi. Kehadiran tim di lokasi diarahkan untuk membantu membuka ruang distribusi bantuan bagi pengungsi.

Ribuan Warga Bertahan di Tenda

Lebih dari 2.000 warga mengungsi karena banyak rumah tidak lagi aman ditempati. Mereka bertahan di tenda pengungsian seadanya ketika desa belum tersambung dengan akses bantuan.

Gangguan tidak hanya terjadi pada jalur transportasi. Listrik dan komunikasi putus total pascagempa, sehingga warga menghadapi keterbatasan layanan dasar serta kesulitan dalam koordinasi.

IndikatorCatatanKondisi
Rumah terdampakLebih dari 100 unitRusak berat akibat gempa
Warga mengungsiLebih dari 2.000 orangMenempati tenda seadanya
Korban1 meninggal, 2 luka beratAkibat reruntuhan rumah
Infrastruktur layananListrik dan komunikasiPutus total

Seorang warga meninggal setelah tertimpa reruntuhan bangunan rumah. Dua warga lainnya mengalami luka berat, menambah daftar dampak yang harus dihadapi warga Desa Nitung.

Wilayah dengan Dampak Berat

Yugo menyebut kerusakan rumah di desa itu mencapai lebih dari seratus unit berdasarkan pantauan di lapangan. Ia menilai Desa Nitung kemungkinan menjadi wilayah yang terdampak paling parah di Kabupaten Sikka.

Penilaian tersebut berkaitan dengan skala kerusakan, jumlah warga yang mengungsi, dan sulitnya jalur menuju lokasi. Sebelum akses dibuka, kondisi itu membuat bantuan belum bisa didorong masuk ke desa.

Pulau Palue, tempat Desa Nitung berada, memiliki jumlah penduduk 10.728 jiwa. Meski jalur darat sudah ditembus, kondisi jalan yang masih rawan longsor tetap menjadi faktor penting dalam pengiriman kebutuhan bagi para pengungsi.

Pembukaan jalan memberi peluang untuk mengakhiri keterisolasian warga secara bertahap. Namun, keamanan jalur perlu terus diperhatikan karena material longsor dapat kembali menghambat distribusi bantuan.

Baca Juga