Kemitraan sekitar 60 miliar dollar AS antara Irak dan sejumlah perusahaan Amerika Serikat membawa agenda yang lebih besar dari sekadar investasi energi. Salah satu fokusnya adalah membangun jalur ekspor minyak alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan Irak pada Selat Hormuz.
Jalur pipa itu dirancang untuk membawa minyak dari Basra menuju Haditha, sebelum diteruskan ke Turkiye dan Suriah. Jika terealisasi, rute tersebut membuka akses ke Pelabuhan Ceyhan serta Pelabuhan Baniyas di pesisir Mediterania.
Nilai strategis proyek ini terlihat dari posisi Hormuz dalam perdagangan global. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia selama ini melewati selat tersebut, sehingga gangguan kecil pun dapat mengerek kekhawatiran pasar energi.
Target Kapasitas dan Rute Ekspor
Jaringan Pipa Minyak Irak-Suriah diproyeksikan memiliki kapasitas sekitar 2 juta barel per hari. Pemerintah Irak dan Suriah telah menyepakati percepatan rehabilitasi serta rekonstruksi jaringan untuk mendukung rute tersebut.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan dukungan terhadap kesepakatan itu. Dukungan tersebut mencakup keterlibatan konsorsium internasional yang dipimpin perusahaan AS dalam aspek teknis dan pembiayaan.
| Data Energi | Angka | Makna Strategis |
|---|---|---|
| Kemitraan Irak-AS | Sekitar 60 miliar dollar AS | Mencakup beberapa sektor, termasuk energi |
| Pipa Irak-Suriah | Sekitar 2 juta barel per hari | Alternatif ekspor menuju Mediterania |
| Tujuh proyek pipa regional | Sekitar 14 juta barel per hari | Perkiraan kapasitas gabungan akhir 2028 |
| Arus Hormuz sebelum perang | Sekitar 23 juta barel per hari | Volume yang ingin dialihkan sebagian |
Pipa bukan satu-satunya jalur yang sudah digunakan Irak untuk menjangkau Suriah. Sebagian minyak telah dialihkan dengan truk menuju Baniyas, tetapi pengiriman darat dipandang lebih mahal dan kurang efisien daripada rute laut.
Perlintasan utama di perbatasan Irak utara dan Suriah juga dibuka kembali pada April 2026 setelah tertutup lebih dari satu dekade. Jalur itu dapat membantu konektivitas energi, walau kapasitas pipa tetap dibutuhkan untuk meningkatkan volume ekspor secara berarti.
Peran Chevron dalam Proyek Baru
Perdana Menteri Irak Ali Falah al-Zaidi bertemu jajaran eksekutif Chevron di Houston sehari sebelum penandatanganan kerja sama. Ia mendorong perusahaan tersebut untuk memperluas dan mempercepat investasi di Irak.
Chevron di Irak menandatangani tiga perjanjian dengan pemerintah setempat. Dua perjanjian berfokus pada peningkatan produksi minyak, sedangkan satu perjanjian ditujukan bagi investasi jaringan pipa untuk jalur ekspor baru.
Al-Zaidi menyatakan pemerintahnya ingin membangun investasi dan kemitraan jangka panjang, bukan sekadar mendatangkan kontraktor proyek. Ia juga menegaskan komitmen Irak memperkuat komunikasi dengan Kamar Dagang Amerika Serikat.
Presiden Pengembangan Bisnis Korporasi Chevron Jake Spiering menyebut jaringan pipa penting bagi keamanan energi. Duta Besar Amerika Serikat untuk Turkiye Thomas Barrack menilai program itu dapat membuat Selat Hormuz tidak lagi menjadi faktor utama.
Hambatan Pembangunan Lintas Negara
Meski menjanjikan, proyek ini belum memiliki kepastian waktu operasi sebagai pengganti efektif Hormuz. Goldman Sachs memperkirakan pembangunan pipa di satu negara saja membutuhkan sedikitnya dua setengah tahun, sementara proyek Irak melibatkan dua negara atau lebih.
Goldman Sachs mencatat ada tujuh proyek jaringan pipa yang sedang dikembangkan di kawasan. Proyek-proyek itu diperkirakan dapat mengalihkan sekitar 60 persen volume minyak yang kini melewati Hormuz pada akhir 2028.
Tekanan untuk mencari jalur alternatif meningkat sejak perang Amerika Serikat-Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Iran beberapa kali mengancam menutup Hormuz, sementara Irak harus menjaga kepentingan energinya di tengah keberadaan pangkalan militer AS dan kelompok bersenjata yang didukung Iran.
Menurut laporan Kompas yang mengutip AP News, penandatanganan kemitraan dilakukan di Kamar Dagang Amerika Serikat pada 17 Juli 2026. Pergerakan harga minyak memperlihatkan urgensi proyek tersebut, dengan WTI sempat naik hampir 5 persen menjadi 88 dollar AS per barel pada perdagangan Jumat sore waktu setempat.






