Minyak di Atas US$83 dan ULN Naik, Tekanan Rupiah Berpotensi Berlanjut

Harga minyak mentah dunia yang naik di atas US$83 per barel dan peningkatan Utang Luar Negeri Indonesia menjadi dua sentimen yang membayangi rupiah. Di tengah kondisi tersebut, rupiah diperkirakan dapat melemah hingga Rp17.920 per dolar AS pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Tekanan terhadap mata uang Indonesia sudah terlihat pada penutupan Selasa sore, 18 Agustus 2026. Rupiah turun 64 poin atau 0,36 persen dari Rp17.798 menjadi Rp17.862 per dolar AS.

Kenaikan minyak terjadi ketika hubungan Amerika Serikat dan Iran memanas. Bagi Indonesia, harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk membayar impor energi.

Impor minyak mentah membutuhkan pembayaran dalam denominasi dolar AS. Ketika biaya impor energi meningkat, permintaan dolar AS berpotensi ikut bertambah dan memberi tekanan pada rupiah.

ULN Bertambah dari Posisi Mei

Di dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri Indonesia tumbuh 4,4 persen secara tahunan. Nilainya mencapai US$453,4 miliar atau setara Rp8.089,1 triliun pada posisi terbaru.

PeriodePosisi ULNSetara Rupiah
Mei 2026US$444,4 miliarRp7.928,5 triliun
Posisi terbaruUS$453,4 miliarRp8.089,1 triliun

Posisi tersebut lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang tercatat US$444,4 miliar atau Rp7.928,5 triliun. Kenaikan ULN menjadi salah satu data yang diperhatikan pasar dalam menilai sentimen terhadap nilai tukar.

Pelaku pasar akan mencermati respons Bank Indonesia terhadap perkembangan tersebut. Pandangan bank sentral mengenai stabilitas moneter akan menjadi penting ketika tekanan eksternal dan domestik muncul secara bersamaan.

Rapat BI Menentukan Arah Berikutnya

Bank Indonesia dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada Rabu. Pasar memperkirakan BI Rate tetap berada di level 5,75 persen.

Sepanjang April hingga Juni 2026, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak total 75 basis poin. Karena itu, pernyataan bank sentral setelah rapat akan dinilai untuk melihat arah kebijakan berikutnya.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan perhatian pasar bukan hanya tertuju pada keputusan suku bunga. Stabilitas rupiah, inflasi domestik, likuiditas perbankan, dan proyeksi pertumbuhan kredit hingga akhir tahun juga akan dicermati.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp 17.860 – Rp 17.920 per dolar AS,” kata Ibrahim dalam keterangannya pada Selasa, 18 Agustus 2026. Ia menyebut panduan BI dapat menjadi salah satu penentu arah nilai tukar setelah stabilisasi agresif dalam beberapa bulan terakhir.

Rentang Rp17.860 hingga Rp17.920 per dolar AS menjadi area yang dipantau pasar pada perdagangan Rabu. Komunikasi Bank Indonesia akan menentukan apakah tekanan dari minyak dunia dan data ULN dapat diredam atau berlanjut.

Baca Juga