Permintaan tangga menyerupai piano dengan lampu yang menyala saat diinjak menjadi salah satu detail paling menonjol dalam cerita pembangunan rumah Ruben Onsu dan Sarwendah. Ruben menyebut banyaknya keinginan yang harus diselaraskan dengan desain bangunan membuat proses pengerjaan berlangsung cukup lama.
Konsep tersebut tidak hanya menyangkut fungsi tangga sebagai akses antarlantai, tetapi juga menambahkan unsur pencahayaan dekoratif. Setiap pijakan dirancang agar dapat memicu lampu menyala ketika digunakan.
Ruben mengenang permintaan Sarwendah
Ruben menceritakan detail itu dalam video yang kemudian diunggah ulang akun Threads @rumormedia pada Selasa (12/8/2026). Video tersebut memuat kenangannya saat rumah masih dibangun bersama Sarwendah, sebelum keduanya bercerai.
“Dia request tangga seperti piano, jadi kalau diinjak lampunya menyala, diinjak lampu menyala. Jadi, kalau enggak orang lampu menyala berarti setan yang jalan. Pokoknya banyak maunya deh,” ucap Ruben Onsu.
Ucapan Ruben memperlihatkan bahwa rancangan rumah tersebut memuat sejumlah permintaan personal. Setiap detail perlu disesuaikan agar tetap cocok dengan bentuk ruang dan kebutuhan bangunan secara keseluruhan.
Proyek rumah memengaruhi agenda keluarga
Pengerjaan rumah yang memakan waktu juga berdampak pada kegiatan keluarga. Ruben mengatakan rencana bepergian bersama anak-anak menjelang akhir tahun akhirnya ditunda karena masih ada urusan rumah yang perlu diselesaikan.
Ia menjelaskan survei barang belum bisa dilakukan secara bebas karena pembelian perabot harus mengikuti ukuran bangunan. Keputusan memilih furnitur perlu menunggu pengukuran ruang agar barang yang dibeli sesuai dengan interior.
“Tahun ini mendekati akhir tahun, tadinya mau pergi akhirnya enggak pergi-pergi lagi, enggak pergi lagi. Belum lagi mau survei barang kan tidak bisa karena barang tidak bisa dibeli, kan harus mengukur agar sesuai dengan ukuran rumah,” jelas Ruben.
Ukuran ruang menjadi pertimbangan utama
Ruben menekankan bahwa furnitur tidak dapat dipilih hanya berdasarkan selera. Ukuran, bentuk, dan kecocokan perabot dengan rumah menjadi pertimbangan agar tampilan ruangan tidak terganggu.
“Furniture itu kan harus sesuai ukuran rumah, beli furniture itu harus dalam bentuk, jadi enggak sesuai yang kita mau maka akan merusak mata,” tuturnya. Penyesuaian tersebut membuat sejumlah kebutuhan rumah harus menunggu tahapan pembangunan tertentu.
Lamanya proyek juga sempat membuat Ruben dan anak-anak ingin segera berhenti berpindah tempat. Ia mengatakan keluarga berharap dapat menetap setelah rumah yang dibangun selesai dikerjakan.
“Jadi, aku sama anak-anak bahkan sampai bilang sudah cukup ya karena bakalan enggak pindah-pindah, kelamaan,” lanjutnya. Keinginan itu muncul karena proses pembangunan memerlukan banyak penyesuaian, dari desain tangga hingga kebutuhan interior.
Beritasatu.com menyebut cerita rumah tersebut kembali menjadi perhatian di tengah pembahasan mengenai hubungan Ruben Onsu dan Sarwendah setelah perceraian. Nama anak-anak mereka, Thalia dan Thania, juga ikut muncul dalam konteks cerita keluarga yang menantikan rumah itu dapat ditempati.






