Peringatan Tsunami Flores Berakhir 07.30 WIB, Gelombang Tertinggi Capai 0,94 Meter

BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami akibat gempa Magnitudo 7,7 di Flores pada pukul 07.30 WIB. Pengakhiran dilakukan setelah pemantauan tidak lagi menunjukkan kenaikan muka air laut yang signifikan maupun membahayakan.

Sebelum status dihentikan, gelombang tertinggi setinggi 0,94 meter terpantau di Maurole, Ende, pada pukul 05.27 WIB. Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB dan segera memicu peringatan untuk sejumlah kawasan pesisir.

Peringatan Diperbarui Berulang Kali

BMKG menerbitkan peringatan dini pertama pada pukul 05.00 WIB, dua menit setelah gempa terjadi. Pembaruan kedua kemudian disampaikan pukul 05.09 WIB berdasarkan perkembangan data pengamatan.

Tahap observasi berikutnya dirilis pada pukul 05.55 WIB, 06.28 WIB, 06.49 WIB, dan 07.05 WIB. Peringatan dini tahap keempat yang disertai pengakhiran status diterbitkan pukul 07.30 WIB.

Dalam peringatan awal, Manggarai Utara, Ngada Utara, Ende, Flores Timur, dan Jeneponto berstatus SIAGA. BMKG memperkirakan potensi tsunami di wilayah tersebut berada pada kisaran 0,5 hingga 3 meter.

Bima, Dompu, dan Wajo berstatus WASPADA dengan potensi gelombang kurang dari 0,5 meter. Masyarakat pesisir diminta tetap mengikuti arahan otoritas setempat selama peringatan masih berlaku.

Rekaman Gelombang di Berbagai Lokasi

Stasiun pengamatan tinggi muka laut merekam perubahan muka air di sejumlah pesisir NTT dan Sulawesi. Maurole di Ende menjadi lokasi dengan catatan gelombang paling tinggi.

LokasiKetinggian GelombangWaktu Pengamatan
Maurole, Ende0,94 meter05.27 WIB
Bulukumba0,54 meter05.58 WIB
Pelabuhan Kewapante, Sikka0,38 meter05.16 WIB
Labuan Bajo0,36 meter05.26 WIB
Bau-Bau0,30 meter05.47 WIB

Pengukuran juga menunjukkan gelombang di Sikka, Flores Timur, Kolaka, Dompu, dan Bakalang-Alor. Tingginya berada di antara 0,14 meter sampai 0,25 meter.

Pusat Gempa Dekat Nagekeo

Menurut BMKG, episenter berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT. Titik gempa tercatat pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur.

Gempa berkedalaman 15 kilometer dan termasuk kategori gempa dangkal. Analisis BMKG menyebut peristiwa ini terkait aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.

Kondisi gempa dangkal di wilayah laut menjadi faktor yang memerlukan antisipasi cepat terhadap kemungkinan perubahan muka air laut. Pemantauan berkelanjutan kemudian menjadi dasar bagi setiap pembaruan status tsunami.

Guncangan Terasa Kuat di Sejumlah Wilayah

Intensitas VII MMI dilaporkan di Aesesa, Riung, dan Kota Mbay. Pada tingkat tersebut, bangunan dapat mengalami kerusakan ringan dan warga berpotensi keluar rumah karena guncangan kuat.

Wolowae dan Kota Bajawa mengalami intensitas VI MMI, sedangkan Kota Ende, Kota Borong, dan Kota Ruteng berada pada intensitas V MMI. Hingga pukul 08.00 WIB, BMKG mencatat 52 gempa susulan dengan magnitudo M 3,6 hingga M 6,2.

Warga diingatkan untuk menghindari bangunan yang retak atau mengalami kerusakan struktur. BMKG juga meminta masyarakat tidak terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga