Penyewaan Menara Terancam Mandek, Mastel Dorong Pemain Beralih ke Konektivitas

Ruang pertumbuhan bisnis penyewaan menara telekomunikasi dinilai semakin sempit seiring konsolidasi pasar operator seluler. Masyarakat Telematika Indonesia atau Mastel mendorong pelaku usaha untuk tidak lagi hanya bertumpu pada sewa tower dan penyediaan daya listrik.

Arah bisnis yang disarankan adalah pengelolaan konektivitas antar-menara melalui serat optik, radio, serta infrastruktur aktif terintegrasi. Perubahan ini dipandang penting karena pertumbuhan menara fisik secara spasial berpotensi stagnan, bahkan berkurang.

Ketua Umum Mastel Sarwoto Atmosutarno menilai pemain menara juga perlu mempertimbangkan konsolidasi. Langkah tersebut dibutuhkan agar pelaku usaha mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan infrastruktur jaringan.

“Pemain bisnis menara kita sarankan juga berkonsolidasi. Bukan hanya menyediakan tower dan power bisnis, tetapi juga harus mempersiapkan bisnis konektivitas antar menara seperti FO/radio lainnya,” ujar Sarwoto kepada teknologi.bisnis.com, Jumat (14/8/2026).

Regulasi Daerah Masih Menjadi Hambatan

Transformasi dari pengelola aset pasif menuju infrastruktur aktif tidak hanya berkaitan dengan kesiapan teknologi. Ekspansi jaringan di lapangan masih menghadapi beban efisiensi dan kerumitan proses perizinan di daerah.

Izin pembangunan serta prosedur yang panjang kerap menghambat percepatan penyediaan infrastruktur telekomunikasi. Mastel berharap regulator dapat menghadirkan aturan yang lebih adaptif dan mempermudah proses perizinan.

Dukungan kebijakan dinilai penting agar industri dapat menopang konektivitas digital secara berkelanjutan. Kebutuhan ini menjadi lebih mendesak ketika pelaku usaha mulai memperluas peran dari penyedia lokasi menara menjadi pengelola jaringan yang lebih menyeluruh.

Bisnis Menara Tidak Sama dengan FTTH

Mastel mengingatkan penataan industri menara tidak bisa disamakan dengan lanskap jaringan Fiber to the Home atau FTTH. Karakter konsolidasi pada kedua sektor tersebut berbeda, terutama pada kondisi infrastruktur di satu titik lokasi.

Menurut Sarwoto, menara masih dapat terkonsolidasi, sedangkan jaringan FTTH dapat memiliki lima hingga sembilan tiang milik pemain berbeda pada satu titik. Perbedaan ini perlu menjadi perhatian dalam pembahasan penataan jaringan broadband dan akses digital masyarakat.

Efektivitas program internet publik juga bergantung pada fokus yang dipilih pemerintah. Pertimbangannya mencakup pilihan antara mengejar kecepatan serta latensi rendah atau meningkatkan keterjangkauan harga layanan.

Pasar Operator Berpusat pada Tiga Kelompok

Tekanan terhadap bisnis menara muncul ketika peta persaingan operator seluler kini terpusat pada TelkomGroup, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XLSmart. TelkomGroup mengusung strategi Fixed Mobile Convergence atau FMC, sementara konsolidasi pasar mengubah kebutuhan infrastruktur operator secara umum.

Dalam kondisi tersebut, penyewaan tower konvensional tidak lagi dipandang cukup untuk menjaga pertumbuhan usaha. Pelaku industri didorong membangun kemampuan mengelola jaringan penghubung antar titik infrastruktur.

Ekspansi serat optik atau fiberisasi dinilai sebagai salah satu langkah antisipatif yang relevan. Pengelolaan layanan BTS melalui skema managed service juga dapat memperluas portofolio bisnis pemain menara.

Perkembangan spektrum frekuensi yang lebih netral turut memperkuat kebutuhan tersebut. Spektrum dapat digunakan untuk layanan tetap, seluler, maupun konvergensi keduanya, sementara modul BTS diproyeksikan semakin umum dan fleksibel seperti perangkat seluler ritel.

Baca Juga