Keselamatan masyarakat menjadi alasan utama dihentikannya penutupan Festival Golo Koe 2026 di Labuan Bajo. Keputusan itu diambil setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu (15/8).
Keuskupan Labuan Bajo memilih tidak melanjutkan perayaan yang sedianya menjadi puncak festival. Panitia dan pihak terkait juga mengarahkan perhatian pada warga di sejumlah wilayah Flores yang terdampak bencana.
Keputusan untuk Melindungi Seluruh Pihak
Penghentian kegiatan mempertimbangkan keselamatan peserta, masyarakat, pelaku UMKM, tamu undangan, panitia, petugas, serta komunitas yang terlibat. Semua pihak yang sebelumnya mendukung pelaksanaan penutupan diminta memahami langkah tersebut.
Keuskupan Labuan Bajo menganggap situasi kebencanaan perlu mendapat ruang perhatian yang lebih besar daripada agenda perayaan. Keputusan itu sekaligus disampaikan sebagai bentuk empati dan solidaritas kepada masyarakat terdampak.
“Perayaan yang semula menjadi momentum penutup festival kini dikesampingkan demi memberikan ruang bagi keprihatinan terhadap situasi kebencanaan,” demikian pernyataan penyelenggara Festival Golo Koe. Siaran pers tersebut diterima Media Indonesia pada Sabtu (15/8).
Penutupan yang Semula Disiapkan di Waterfront City
Rangkaian penutupan Festival Golo Koe 2026 sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada pukul 17.00 WITA. Lokasi kegiatan berada di Waterfront City Labuan Bajo.
Sejumlah agenda utama telah disiapkan sebagai bagian penutup rangkaian festival. Namun, seluruh agenda itu tidak dilaksanakan setelah keputusan penghentian ditetapkan.
| Rincian | Keterangan |
|---|---|
| Lokasi acara | Waterfront City Labuan Bajo |
| Waktu semula | Sabtu, pukul 17.00 WITA |
| Agenda terdampak | Misa, konser, pentas seni, pameran UMKM, dan kegiatan pendukung |
| Keputusan | Seluruh kegiatan penutupan dihentikan |
Misa Penutupan Festival Golo Koe termasuk agenda yang dibatalkan. Konser musik, pentas seni, pameran UMKM, serta kegiatan pendukung lainnya juga tidak jadi berlangsung.
Konteks Gempa di Flores
Gempa yang menjadi dasar penghentian acara berkekuatan magnitudo 7,7. Pusat gempa berada sekitar 45 kilometer di timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Informasi mengenai gempa dan situasi pascagempa membuat penyelenggara tidak melanjutkan kegiatan di Labuan Bajo. Keuskupan Labuan Bajo menyampaikan keputusan resmi pada 15 Agustus 2026.
Penghentian penutupan festival menunjukkan perubahan fokus dari agenda perayaan menjadi kepedulian terhadap kondisi warga terdampak. Penanganan korban dan pemulihan wilayah dipandang sebagai perhatian yang perlu didahulukan.
Masyarakat Diminta Mengikuti Arahan Resmi
Keuskupan Labuan Bajo mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan waspada dalam kondisi pascagempa. Warga diminta mengikuti informasi serta arahan yang disampaikan pemerintah dan pihak berwenang.
Keselamatan diri dan keluarga diminta menjadi prioritas, termasuk bagi masyarakat yang semula akan menghadiri acara penutupan. Imbauan itu disampaikan untuk merespons situasi kebencanaan yang terjadi di Flores.
Keuskupan juga menyampaikan doa bagi warga yang terkena dampak bencana. Penyelenggara berharap kondisi di wilayah terdampak segera pulih dan kembali aman serta kondusif.
Dengan tidak digelarnya penutupan Festival Golo Koe 2026, ruang perhatian diarahkan pada kebutuhan masyarakat setelah gempa. Langkah tersebut menempatkan keselamatan sebagai dasar utama dalam menghadapi keadaan darurat.






