Pengakuan di Televisi dan Sidang Tertutup Mengiringi Eksekusi Dua Terdakwa Iran

Eksekusi dua terdakwa di Isfahan kembali menyoroti penggunaan pengakuan yang disiarkan televisi pemerintah Iran sebelum persidangan berlangsung. Amirhossein Safari dan Abolfazl Sepahi dieksekusi pada Selasa, 28 Juli 2026, dalam perkara yang melibatkan 12 pemuda.

Pelaksanaan hukuman itu menaikkan jumlah terdakwa yang telah dieksekusi dalam Perkara Alikhani Square menjadi empat orang. Delapan terdakwa lain masih menghadapi ancaman hukuman mati.

Perhatian terhadap perkara ini menguat karena salah satu terdakwa, Shervin Bagherian Jebeli, baru berusia 18 tahun beberapa hari sebelum ia ditangkap. PBB mencatat pengakuannya terkait kekerasan terhadap petugas keamanan disiarkan televisi pemerintah dalam waktu satu minggu setelah penangkapan.

Tayangan pengakuan tersebut muncul sebelum persidangan dimulai. Vonis mati dalam perkara ini dinilai sangat bergantung pada pengakuan yang ditampilkan melalui media pemerintah.

Nasib terdakwa dalam perkara yang sama

Nama atau kelompokStatus yang dilaporkanKeterangan
Amirhossein SafariDieksekusiDieksekusi pada 28 Juli 2026
Abolfazl SepahiDieksekusiDieksekusi pada 28 Juli 2026
Shervin Bagherian JebeliTerancam eksekusiBerusia 18 tahun beberapa hari sebelum ditangkap
Delapan terdakwa lainTerancam hukuman matiTermasuk dalam perkara Alikhani Square

Kantor berita lembaga peradilan Iran, Mizan, mengidentifikasi Safari dan Sepahi sebagai dua orang yang dieksekusi pada Selasa pagi. Eksekusi berlangsung ketika pengamanan di Isfahan diperketat.

Sebelum hukuman dijalankan, keluarga Safari dipanggil ke Penjara Pusat Isfahan, menurut sumber yang dekat dengan keluarganya. Pertemuan itu diduga menjadi kesempatan terakhir keluarga untuk bertemu Safari.

Dugaan pelanggaran dalam penahanan

Perkara Alikhani Square berhubungan dengan gelombang demonstrasi pada Januari. Otoritas Iran menuduh 12 pemuda tersebut terlibat dalam pembunuhan empat personel keamanan, pembakaran, dan perusakan.

Iran International, seperti dikutip Kompas.com, melaporkan usia terdakwa berkisar dari belasan tahun hingga awal 20-an. Mereka disebut mengalami penahanan sewenang-wenang dan penghilangan paksa, sementara sejumlah terdakwa dilaporkan mengalami penganiayaan.

Rangkaian dugaan tersebut menjadi alasan utama meningkatnya perhatian terhadap Hukuman Mati di Iran dalam perkara ini. Kritik tidak hanya tertuju pada eksekusi, melainkan juga pada jalannya proses yang mendahuluinya.

PBB mempertanyakan dasar vonis

Sebelum eksekusi terbaru, para ahli PBB yang dipimpin Mai Sato telah meminta Iran menghentikan eksekusi terhadap sepuluh terdakwa yang ketika itu masih tersisa. Mereka menilai proses hukum terhadap 12 pemuda itu tidak memenuhi standar peradilan yang adil.

Para ahli tersebut menyoroti hukuman mati yang dijatuhkan kepada 12 orang dalam satu persidangan tertutup. Mereka juga mempertanyakan tidak adanya kejelasan tentang tanggung jawab individual masing-masing terdakwa.

“Mencantumkan hukuman mati bagi 12 orang dalam satu persidangan, di ruang sidang tertutup, dan tanpa kejelasan mengenai tanggung jawab individual masing-masing terdakwa melanggar standar peradilan yang adil yang telah ditetapkan,” tegas para ahli PBB tersebut.

Pengadilan Revolusi menggelar persidangan tersebut, tetapi putusannya tidak dipublikasikan. Ketiadaan dokumen putusan terbuka menambah kekhawatiran terhadap proses Eksekusi di Isfahan dan nasib delapan terdakwa yang masih tersisa.

Baca Juga