Peralihan satu juta sepeda motor ke tenaga listrik berpotensi mengurangi penggunaan BBM sekitar 356 juta liter dalam setahun. Jika jumlahnya mencapai 10 juta unit, pengurangan konsumsi diperkirakan menembus sekitar 3,56 miliar liter per tahun.
Potensi itu membuat motor listrik kembali relevan saat pemerintah membahas penataan akses Pertalite. Selain dampak pada konsumsi energi, pengguna per unit juga diperkirakan dapat menghemat biaya BBM sekitar Rp2,68 juta setiap tahun.
Penghematan Menjadi Daya Tarik Utama
Kementerian ESDM pernah membuat perhitungan mengenai dampak penggunaan kendaraan roda dua listrik. Pada 2022, penggunaan 900 ribu motor listrik diproyeksikan memangkas konsumsi BBM sekitar 320 juta liter per tahun.
Dalam hitungan yang sama, penggunaan 900 ribu unit tersebut diperkirakan mengurangi kompensasi Pertalite hingga sekitar Rp480 miliar per tahun. Angka itu memperlihatkan bahwa perubahan jenis kendaraan dapat berpengaruh pada belanja subsidi dan kebutuhan bahan bakar.
| Jumlah Motor Listrik | Pengurangan BBM per Tahun |
|---|---|
| 1 juta unit | Sekitar 356 juta liter |
| 5 juta unit | Sekitar 1,78 miliar liter |
| 10 juta unit | Sekitar 3,56 miliar liter |
Estimasi untuk skenario satu juta hingga 10 juta unit memakai rasio yang sama dengan kalkulasi Kementerian ESDM. Hasil akhirnya dapat berbeda karena pola pemakaian motor dan jenis BBM sebelumnya tidak selalu sama pada setiap pengguna.
Penataan Akses untuk Kelompok Mampu
Pemerintah mengkaji pembatasan Pertalite secara bertahap bagi kelompok masyarakat mampu. Kelompok pengeluaran desil 9 dan 10 termasuk dalam kelompok yang dibahas dalam rencana penataan tersebut.
Pembahasan kembali mencuat setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bertemu Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Kebijakan subsidi kemudian tidak hanya dipandang dari sisi penerima, tetapi juga dari tersedianya pilihan kendaraan yang lebih efisien.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia Budi Setiyadi menilai subsidi perlu diberikan kepada masyarakat yang memang membutuhkan. Bagi konsumen yang mampu dan siap beralih, motor listrik dapat menjadi pilihan transportasi harian dengan biaya operasional lebih rendah.
Relevansi peralihan tersebut semakin besar karena jumlah kendaraan roda dua di Indonesia sudah sangat tinggi. Badan Pusat Statistik mencatat populasi sepeda motor pada 2025 mencapai sekitar 139,45 juta unit.
Adopsi Tidak Lepas dari Kesiapan Industri
Manfaat penghematan belum otomatis membuat masyarakat berpindah ke kendaraan listrik. Konsumen masih membutuhkan jaminan bahwa produk yang tersedia berkualitas, aman, ekonomis, dan mudah digunakan.
Harga kendaraan yang makin terjangkau menjadi salah satu kebutuhan yang disorot Aismoli. Keberadaan suku cadang dan layanan purnajual juga menentukan tingkat kepercayaan terhadap produk motor listrik.
Pengisian daya dan penukaran baterai menjadi bagian penting dari ekosistem yang harus diperluas. Perlindungan konsumen diperlukan untuk memberi kepastian kepada pengguna kendaraan berbasis baterai.
“Yang ingin kita bangun bukan sekadar lebih banyak motor listrik di jalan. Kita ingin masyarakat memiliki pilihan mobilitas yang semakin ekonomis sekaligus membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap BBM,” ujar Budi.
Produsen kendaraan, industri baterai, pemasok komponen, bengkel, distributor, dan penyedia infrastruktur perlu bergerak dalam satu ekosistem. Kelengkapan dukungan tersebut akan menentukan seberapa jauh motor listrik dapat menjawab perubahan pola konsumsi energi ketika Pertalite ditata.






