Tuntut Menteri Pendidikan Dicopot, Gerakan Partai Kecoak Ubah Strategi Aksi

Tuntutan pencopotan Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan tetap menjadi pusat aksi Cockroach Janta Party di New Delhi. Namun, setelah bentrokan dengan polisi, kelompok itu mengubah strategi dari rencana mars ke parlemen menjadi aksi duduk di Jantar Mantar.

Perubahan bentuk aksi dilakukan untuk mengurangi risiko luka di kalangan peserta, terutama anak muda. CJP menegaskan langkah tersebut bukan tanda mundur dari tekanan terhadap pemerintah terkait dugaan kebocoran soal Ujian NEET.

Juru bicara CJP, Ashutosh Ranka, menyatakan tuntutan kelompoknya tidak berubah. “Kami tidak akan berhenti. Pradhan harus dicopot,” katanya.

Pendiri CJP, Abhijeet Dipke, juga menegaskan kelompoknya tidak akan kembali berupaya berjalan menuju parlemen. Ia mengkhawatirkan aparat kembali melukai demonstran muda jika aksi serupa dilakukan lagi.

Tekanan Berlanjut Setelah Kamp Aksi Dibongkar

Sekitar 150 hingga 200 demonstran kembali mendatangi Jantar Mantar sehari setelah bentrokan pada Senin (20/7/2026). Mereka datang saat gerimis turun dan mendapati kamp aksi yang digunakan sekitar satu bulan telah dibongkar.

Dipke menyatakan pembongkaran itu tidak akan menghentikan gerakan mereka. “Kami tidak akan mundur,” ujarnya di hadapan para pendukung.

Jantar Mantar dan kawasan pusat kota Delhi masih berada dalam pengamanan ketat setelah kericuhan. Dalam kondisi tersebut, CJP memilih mempertahankan kehadiran massa melalui aksi duduk daripada kembali mencoba mendekati parlemen.

Dugaan Kebocoran Ujian Menjadi Pemicu

Protes CJP menguat di tengah kemarahan atas dugaan kebocoran soal ujian masuk kedokteran NEET. Kelompok itu menilai persoalan tersebut memperlihatkan buruknya tata kelola sistem pendidikan India.

Karena alasan itu, CJP meminta Dharmendra Pradhan memikul tanggung jawab politik melalui pengunduran diri atau pencopotan dari jabatan menteri. Isu pendidikan kemudian bertemu dengan keresahan lebih luas yang dirasakan anak muda India dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik.

Gerakan ini mula-mula berkembang di media sosial sebelum meluas menjadi aksi di jalan. Nama Cockroach Janta Party dipilih sebagai satire politik yang menyindir Bharatiya Janata Party atau BJP, partai yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi.

Julukan “cockroach” atau kecoak sendiri muncul setelah Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, membandingkan anak muda menganggur dengan kecoak dalam sebuah persidangan. Dipke kemudian mengadopsinya sebagai simbol kelompok yang dipandang rendah, tetapi tetap bertahan dan menyuarakan tuntutan.

Versi Berbeda soal Bentrokan

Kericuhan terjadi ketika demonstran berusaha melewati barikade dalam aksi menuju parlemen. Kepolisian Delhi menyebut massa bertindak tidak tertib, agresif, dan penuh kekerasan.

CJP membantah gambaran tersebut dengan menuduh polisi melakukan pemukulan brutal terhadap peserta aksi. Dipke mengklaim seorang perempuan berada dalam kondisi kritis setelah terkena pukulan tongkat saat pembubaran massa, tetapi belum ada tanggapan dari pihak berwenang.

Pihak terdampakJumlahDasar informasi
Personel kepolisian terluka118 orangKepolisian Delhi
Demonstran terluka60 orangKepolisian Delhi
Peserta aksi ditahanSedikitnya 70 orangMasih dalam proses hukum

Melalui unggahan di X, Dipke meminta maaf kepada pendukung yang mengalami luka-luka dalam peristiwa tersebut. Permintaan maaf itu secara khusus ditujukan kepada perempuan yang disebutnya menjadi korban pemukulan oleh polisi pria.

Setelah penahanan terjadi, CJP membuka pendataan bagi demonstran yang ditahan atau menghadapi proses hukum. Kelompok itu menyatakan akan menyiapkan bantuan hukum bagi peserta yang memerlukan pendampingan.

Dengan meninggalkan rencana mars, CJP kini menempatkan aksi duduk sebagai sarana utama untuk menjaga protes tetap berlangsung. Strategi berubah, tetapi tuntutan atas pertanggungjawaban pemerintah dalam kasus Ujian NEET tetap dipertahankan.

Baca Juga