Kemampuan anak untuk fokus, belajar, dan menerima gagasan baru tidak hanya dibentuk oleh satu faktor. Pada lima tahun pertama kehidupannya, makanan bergizi dan interaksi yang berulang sama-sama dibutuhkan untuk mendukung perkembangan otak.
Masa ini merupakan saat jaringan saraf berkembang sangat cepat. Apa yang dikonsumsi dan dialami anak setiap hari dapat berkaitan dengan pembentukan koneksi antarsel sarafnya.
Dokter spesialis anak dr. Yoga Andika, Sp.A, menempatkan nutrisi sebagai fondasi sebelum anak menerima berbagai rangsangan dari lingkungan. Fondasi tersebut membantu menyiapkan struktur otak untuk membangun jaringan yang lebih kuat.
Stimulasi kemudian membantu menguatkan cabang-cabang jaringan saraf yang sudah berkembang. Rangsangan yang dilakukan secara berulang dinilai dapat membantu konektivitas otak terbentuk lebih baik.
Bukan Sekadar Cepat Menjawab
Perkembangan otak anak tidak hanya menyangkut kemampuan mengingat atau menjawab pertanyaan dengan cepat. Proses ini juga berkaitan dengan cara anak menerima, mengolah, dan merespons informasi.
Salah satu proses yang berlangsung pada masa awal kehidupan adalah sinaptogenesis. Istilah ini merujuk pada pembentukan sambungan antarsel saraf yang jumlahnya dapat meningkat dari ribuan menjadi sangat banyak.
Karena itu, masa kanak-kanak awal tidak dapat dipandang sekadar sebagai fase pertumbuhan tinggi dan berat badan. Perkembangan fisik, kecukupan asupan, dan pengalaman anak memiliki peran dalam periode pembentukan jaringan otak ini.
Lemak dan Lapisan Pelindung Saraf
Lemak menjadi salah satu komponen utama yang diperlukan untuk pertumbuhan otak. Zat ini dibutuhkan untuk membentuk mielin, yaitu lapisan yang membungkus saraf dan membantu informasi bergerak lebih cepat.
dr. Yoga menggambarkan mielin sebagai jalan tol bagi informasi di otak. Jika lapisan pelindung itu belum berkembang baik, pengiriman informasi saraf dapat berlangsung lebih lambat.
Aliran informasi yang kurang lancar dapat membuat anak lebih sulit memusatkan perhatian. Sebaliknya, proses mielinisasi membantu impuls saraf bergerak lebih lancar ketika selubung pelindung saraf menebal.
| Komponen Gizi | Dukungan yang Disebutkan |
|---|---|
| Sphingomyelin dan phospholipid | Menjadi komponen lemak dalam selubung mielin. |
| AA dan DHA | Disebut terdapat dalam sumber protein hewani seperti ikan. |
| Zat besi, asam folat, vitamin B12, dan zinc | Mendukung perkembangan jaringan saraf. |
| Omega 3, omega 6, choline, dan alpha-lactalbumin | Termasuk komponen yang dibutuhkan dalam dukungan gizi anak. |
Protein hewani disebut memiliki kepadatan gizi yang dapat mendukung kebutuhan tersebut. Ikan menjadi salah satu pilihan yang disebut menyediakan AA dan DHA.
Meski ada sumber makanan tertentu yang mendukung kebutuhan saraf, menu anak tetap perlu disusun beragam. Keragaman makanan membantu memenuhi zat gizi makro dan mikro secara saling melengkapi.
Gizi dan Aktivitas Harus Berjalan Bersama
Mengajak anak berbicara, memberikan mainan edukatif, atau mengenalkan hal baru merupakan bentuk stimulasi yang berguna. Namun, kegiatan tersebut tidak menggantikan fungsi kecukupan gizi dalam membangun dasar perkembangan otak.
Di sisi lain, pemenuhan gizi saja bukan satu-satunya kebutuhan untuk mengasah kemampuan berpikir. Anak juga memerlukan pengalaman, pengulangan, dan interaksi yang membuat koneksi saraf digunakan secara aktif.
Vera Niki Gozali, Category Marketing Manager Wyeth Nutrition S-26, menyatakan pihaknya menjalankan riset neurokognisi melalui kolaborasi dengan Brown University. Riset itu disebut berfokus pada pencarian kandungan gizi yang telah diuji klinis untuk mendukung proses mielinisasi.
Perhatian pada aktivitas dan menu harian sejak dini dapat membantu anak membangun kesiapan belajar. Kombinasi gizi seimbang serta stimulasi yang sesuai mendukung perkembangan fokus dan kesiapan anak menerima ide baru.






