Masalah kelebihan berat badan pada anak dapat membawa dampak hingga jauh melewati masa tumbuh kembang. Studi Cost of Inaction memperkirakan obesitas anak berpotensi menimbulkan beban ekonomi sebesar 294 miliar dollar AS atau sekitar Rp 5.287 triliun sepanjang masa hidup kelompok yang terdampak.
Dampak itu terkait dengan kemungkinan meningkatnya biaya kesehatan, menurunnya produktivitas tenaga kerja, dan berkurangnya potensi pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Karena itu, obesitas anak dipandang bukan semata persoalan individu, melainkan juga isu pembangunan sumber daya manusia.
Investasi Kesehatan Perlu Dimulai Sejak Dini
Associate Director Market Access and Public Affairs Novo Nordisk Indonesia Banarsono Trimandojo menilai kualitas kesehatan generasi muda akan menentukan masa depan Indonesia. Ia menekankan bahwa upaya dan investasi untuk meningkatkan kesehatan anak perlu dimulai sedini mungkin.
“Masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas kesehatan generasi mudanya. Oleh karena itu, segala upaya dan investasi untuk meningkatkan kesehatan anak harus dimulai sedini mungkin,” ujar Banarsono dalam keterangannya.
Perhitungan beban ekonomi tersebut disusun University of Lausanne bersama UNICEF Indonesia dan Kementerian Kesehatan. Kajian itu memproyeksikan konsekuensi yang dapat muncul apabila kelompok anak terdampak tidak mendapatkan kebijakan pencegahan yang memadai.
Kondisi kesehatan pada masa anak-anak dapat memengaruhi kualitas hidup saat mereka tumbuh dewasa. Risiko tersebut membuat pencegahan perlu melibatkan keluarga, sekolah, layanan kesehatan, serta kebijakan yang mendukung pilihan hidup sehat.
Intervensi Tidak Cukup Bertumpu pada Anak
Pencegahan obesitas tidak hanya bergantung pada pilihan individu. Lingkungan anak perlu menyediakan edukasi gizi, kesempatan beraktivitas fisik, dan akses terhadap pilihan makanan yang lebih sehat.
Novo Nordisk dan UNICEF di Indonesia menjalankan kolaborasi melalui riset, advokasi kebijakan, serta intervensi sekolah. Salah satu hasil kajiannya mendukung pencegahan obesitas, termasuk penerapan pelabelan gizi Nutri Level pada kemasan pangan siap konsumsi.
Pelaksanaan di sekolah meliputi promosi aktivitas fisik, penyediaan makanan sehat di kantin, pengembangan kebun sekolah, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan pada layanan primer. Langkah ini ditujukan agar kebiasaan sehat dapat terbentuk dalam rutinitas harian anak.
| Program | Jangkauan | Hasil Pendukung |
|---|---|---|
| Petualangan Bergizi | Lebih dari 2.000 anak, berkembang menjadi sekitar 50.000 anak | Terintegrasi ke UKS/M di sembilan provinsi |
| CDiC | 2.671 anak dengan diabetes tipe 1 sejak 2021 | Lebih dari 8.000 tenaga kesehatan dilatih dan 49 klinik diperkuat |
Petualangan Bergizi kini terintegrasi ke dalam Usaha Kesehatan Sekolah atau Madrasah. Perluasan itu membuat program menjangkau sekitar 50.000 anak di sembilan provinsi, dari sebelumnya lebih dari 2.000 anak.
Tantangan Penanganan Diabetes Tipe 1
Penguatan kesehatan anak juga mencakup layanan bagi anak dengan diabetes tipe 1. Program Changing Diabetes in Children atau CDiC dijalankan bersama Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia untuk memperkuat layanan bagi kelompok tersebut.
Kegiatan CDiC mencakup edukasi pasien dan keluarga, pelatihan tenaga kesehatan, penguatan klinik diabetes anak, serta perluasan akses insulin dan pemantauan gula darah. Sejak diluncurkan pada 2021, program ini telah memberikan edukasi kepada sekitar 20.000 pasien, keluarga, dan masyarakat.
Project Leader CDiC Indonesia Aman Bhakti Pulungan menyatakan diabetes tipe 1 pada anak masih kerap terlambat dikenali. Gejalanya sering disalahartikan sebagai penyakit lain, padahal diagnosis dan penanganan dini berperan besar terhadap kualitas hidup anak.
“Diabetes tipe 1 pada anak masih sering terlambat dikenali karena gejalanya kerap disalahartikan sebagai penyakit lain. Padahal, diagnosis dan penanganan yang tepat sejak dini sangat menentukan kualitas hidup anak serta membantu mencegah komplikasi yang mengancam jiwa,” kata Aman.
Penguatan layanan, edukasi gizi, aktivitas fisik, dan diagnosis tepat waktu menjadi bagian dari langkah perlindungan kesehatan anak. Upaya yang dimulai sejak dini diharapkan dapat mengurangi risiko komplikasi kesehatan sekaligus beban ekonomi pada masa mendatang.






