Brasil menarik Duta Besar Julio Bitelli dari Buenos Aires setelah Presiden Argentina Javier Milei menyerang Presiden Luiz Inacio Lula da Silva dan Hakim Mahkamah Agung Alexandre de Moraes. Pemerintah Brasil memandang ucapan tersebut sebagai penghinaan serius yang menyasar pemerintah, rakyat, dan demokrasi negara itu.
Bitelli dipanggil pulang ke Brasilia ketika perselisihan politik di Sao Paulo berubah menjadi persoalan antarnegara. Ketegangan tersebut menyoroti dampak pernyataan kepala negara asing terhadap hubungan diplomatik Brasil dan Argentina.
Milei Menyerang Dua Tokoh Brasil
Dalam rapat umum di Sao Paulo, Milei menggunakan sebutan “pencuri” dan “narapidana” ketika berbicara mengenai Lula. Ia tidak menyebut nama Lula secara langsung, tetapi ungkapan itu dikaitkan dengan perkara hukum yang pernah menjerat presiden Brasil tersebut.
Milei juga menyebut Alexandre de Moraes sebagai “sampah botak”. Moraes adalah hakim yang memimpin persidangan terhadap mantan Presiden Jair Bolsonaro.
Menurut informasi yang tersedia, Moraes menjatuhkan hukuman lebih dari 27 tahun penjara kepada Jair Bolsonaro atas tuduhan perencanaan kudeta setelah kekalahan pemilu. Hakim itu juga menolak permohonan Milei untuk menjenguk Bolsonaro yang berada dalam tahanan rumah di Brasilia.
Serangan Milei disampaikan saat ia mendukung peluncuran kampanye presiden Flavio Bolsonaro. Flavio merupakan putra Jair Bolsonaro dan pemilu yang menjadi target kampanyenya dijadwalkan pada Oktober mendatang.
Brasil Menilai Ada Campur Tangan
Milei menyatakan Flavio Bolsonaro sebagai satu-satunya figur yang mampu menghentikan Lula. Bagi Brasil, pernyataan itu bukan hanya serangan personal, melainkan juga keterlibatan terbuka dalam politik nasional negara lain.
Lula menegaskan bahwa pemerintahnya tidak menerima sikap tersebut. “Di Brasil, kami tidak menerima siapa pun yang mencampuri urusan yang bukan urusannya,” kata Lula.
Penarikan duta besar menjadi sinyal protes resmi Brasil terhadap Argentina. Hubungan kedua negara kini menghadapi tekanan tambahan di tengah pertarungan politik yang melibatkan pemerintahan Lula dan keluarga Bolsonaro.
Perjalanan Hukum dan Politik Lula
Sebutan Milei mengungkit perkara korupsi dan penyuapan yang pernah membuat Lula dipenjara. Ia menjalani masa penahanan selama sedikit lebih dari 18 bulan sebelum dakwaan serta hukumannya dibatalkan.
| Tahun | Perkembangan |
|---|---|
| 2018 | Lula dijatuhi hukuman 12 tahun penjara dalam kasus korupsi dan penyuapan. |
| 2021 | Mahkamah Agung Brasil membatalkan seluruh dakwaan dan hukuman. |
| 2022 | Lula menang atas Jair Bolsonaro dengan 50,9 persen suara. |
Pembatalan seluruh dakwaan pada 2021 membuka kembali jalan politik Lula. Setahun kemudian, ia mengalahkan Jair Bolsonaro dalam pemilu dengan selisih tipis dan memperoleh 50,9 persen suara.
Riwayat tersebut menjadi latar bagi retorika Milei di Sao Paulo, tetapi Brasil menolak penggunaan isu hukum lama untuk menyerang presidennya. Dengan duta besar yang dipanggil pulang, sengketa ini telah bergerak melampaui polemik pidato kampanye.






