Berangkat untuk Kerja, Pulang dengan Luka atau Kabar Kematian dari Medan Perang Rusia

Seorang warga Bangladesh pulang dengan serpihan logam masih tertinggal di kakinya setelah kendaraan yang ditumpanginya menginjak ranjau. Seorang warga Kenya lainnya hanya menyisakan foto berseragam militer dan kabar kematian bagi keluarganya.

Dua kisah itu memperlihatkan risiko yang dihadapi sebagian migran asing setelah menerima tawaran pekerjaan di Rusia. Mereka disebut direkrut melalui iming-iming pekerjaan, gaji tinggi, penipuan, atau pemaksaan sebelum akhirnya terkait dengan operasi militer di Ukraina.

Dari pekerjaan gudang ke operasi militer

Arman Mondol berangkat dari Bangladesh setelah menerima tawaran pekerjaan sebagai pengepak barang di gudang. Keluarganya berharap pekerjaan tersebut dapat menjadi jalan keluar dari kemiskinan.

Untuk membayar jasa perekrut, ayah Mondol yang bekerja sebagai petani menjual tanah dan mengambil utang. Mondol kemudian memasuki Rusia memakai visa turis melalui Arab Saudi.

Setiba di Rusia, ia dipaksa menandatangani kontrak berbahasa Rusia yang tidak dipahaminya. Mondol mengatakan tentara asing diperlakukan lebih buruk dan sering ditempatkan di garis terdepan operasi.

Dalam satu operasi, kendaraan yang ditumpanginya menginjak ranjau dan hanya dua orang yang bertahan hidup. Mondol termasuk penyintas, tetapi harus menjalani perawatan di rumah sakit militer.

Ia kemudian berhasil melarikan diri dan mendapat bantuan Kedutaan Besar Bangladesh di Moskwa untuk pulang. Meski telah kembali, Mondol masih kesulitan mendapatkan pekerjaan dan mengalami dampak fisik dari luka yang dideritanya.

Keluarga yang kehilangan kabar

Oscar Khagola Mutoka meninggalkan Kenya pada pertengahan 2025 untuk mencari pekerjaan di Rusia. Ayahnya, Charles Mutoka, mengatakan telah berulang kali meminta Oscar membatalkan keberangkatan tersebut.

Oscar tidak menjelaskan tujuan pasti perjalanan kepada keluarganya. Sepekan setelah tiba di Rusia, ia mengirim foto dengan seragam militer dan setelah itu komunikasi terputus.

Keluarga akhirnya menerima informasi bahwa Oscar telah meninggal, sedangkan jenazahnya belum dipulangkan. Pada Mei 2026, mereka mengadakan pemakaman simbolis dengan makam kosong untuk menjadi tempat berdoa.

Charles menyatakan tidak mengetahui apakah putranya benar-benar telah dimakamkan atau lokasi makamnya. Ketidakpastian mengenai nasib jasad Oscar menjadi bagian paling berat bagi keluarga.

KasusJalur KeberangkatanDampak yang Dilaporkan
Arman Mondol, BangladeshTawaran kerja gudang dan visa turis melalui Arab SaudiTerluka akibat ranjau, melarikan diri, lalu pulang.
Oscar Khagola Mutoka, KenyaBerangkat mencari pekerjaanKeluarga menerima foto seragam dan kabar kematian.
Yoan Viondi Mendoza, KubaTawaran gaji besar serta peluang kewarganegaraanDilaporkan dikirim ke garis depan dan muncul dalam daftar korban tewas.

Gaji besar dan tawaran kewarganegaraan

Yoan Viondi Mendoza dari Kuba dijanjikan gaji 2.000 dollar AS per bulan, serta peluang memperoleh kewarganegaraan Rusia. Nominal itu tampak tinggi dibanding rata-rata upah di Kuba yang disebut sekitar 20 dollar AS per bulan.

Kakaknya, Michael Duro, mengatakan Yoan sebelumnya ingin menyusul keluarganya ke Amerika Serikat. Namun, hambatan biaya dan administrasi membuat rencana tersebut sulit, sampai ia mendapat tawaran “proyek” di Rusia.

Pada September 2023, Reuters merekam keberangkatan sejumlah pemuda Kuba ke Rusia, termasuk Yoan yang berusia 23 tahun. Percakapan dengan perekrut memperlihatkan adanya tawaran kontrak Angkatan Darat Rusia dan kemungkinan kewarganegaraan.

Duro mengatakan Yoan kemudian ditempatkan di garis depan dan pernah berusaha melarikan diri. Komunikasi kembali terputus setelah Yoan meminta agar dikeluarkan dari medan tersebut.

Target kelompok rentan

HUR memperkirakan lebih dari 27.000 warga negara asing telah direkrut Rusia untuk bertempur dalam perang Ukraina. Studi Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia, Truth Hounds, dan Biro Internasional Kazakhstan untuk HAM dan Supremasi Hukum juga menyimpulkan adanya jaringan perekrutan global.

Ilja Nusow, salah satu penulis laporan tersebut, mengatakan sasaran perekrutan adalah orang-orang yang berada dalam kerentanan ekonomi, sosial, dan hukum. Ia menyebut metode yang digunakan dapat berupa tawaran pekerjaan, penipuan, hingga pemaksaan.

“Target perekrutan adalah orang-orang yang hidup dalam kondisi ekonomi, sosial, dan hukum yang rentan. Caranya beragam, mulai dari iming-iming pekerjaan, penipuan, hingga pemaksaan,” ujar Nusow kepada Deutsche Welle.

Menurut Nusow, tidak semua warga asing yang bertempur untuk Rusia tepat disebut tentara bayaran. Sebagian telah memperoleh kewarganegaraan Rusia, sedangkan sebagian lain disebut tidak pernah memiliki niat awal untuk ikut perang.

Apabila perekrutan terjadi melalui penipuan, pemaksaan, dan eksploitasi, praktik itu dapat masuk kategori perdagangan manusia. Pemerintah Rusia membantah tuduhan tersebut, sementara Sergei Lavrov pada Maret mengatakan para sukarelawan mengikuti operasi militer sesuai hukum Rusia.

Perekrutan warga asing telah memicu protes dari Nepal hingga Peru. Staf Koordinasi Penanganan Tawanan Perang Ukraina memperkirakan Rusia dapat merekrut hingga 18.500 warga asing sepanjang 2026.

Baca Juga