Manggarai Timur Tertinggal dalam Pemulihan BTS, Baru Capai 57,33 Persen

Manggarai Timur menjadi wilayah dengan pemulihan jaringan telekomunikasi paling rendah di antara kabupaten yang masih terdampak gempa Nusa Tenggara Timur. Tingkat pemulihan di daerah tersebut baru mencapai 57,33 persen dengan 32 site BTS masih perlu diperbaiki.

Jumlah site tersisa di Manggarai Timur juga menjadi yang terbanyak dalam pemantauan Kementerian Komunikasi dan Digital. Kondisi ini menempatkan kabupaten tersebut sebagai salah satu fokus utama pemulihan jaringan.

Secara keseluruhan, 683 dari 794 site BTS terdampak telah kembali beroperasi hingga pukul 18.00 WIB pada Minggu. Capaian pemulihan jaringan di 11 kabupaten dan kota itu berada di angka 86,02 persen.

Masih ada 111 site yang belum kembali normal dan terus ditangani oleh Komdigi bersama penyelenggara telekomunikasi. Pemulihan layanan dibutuhkan agar warga dapat mengakses informasi, menghubungi keluarga, dan menggunakan layanan darurat.

Nagekeo Masih Menyisakan 19 Site

Nagekeo, wilayah pusat gempa magnitudo 7,7, masih memiliki 19 site BTS yang belum pulih. Tingkat pemulihan di kabupaten itu mencapai 76,25 persen.

Manggarai juga menghadapi pekerjaan pemulihan yang besar dengan 27 site tersisa. Meski demikian, tingkat pemulihan di daerah tersebut telah mencapai 82,35 persen.

Di sisi lain, Flores Timur hanya menyisakan satu site yang belum beroperasi. Kabupaten itu menjadi wilayah dengan capaian tertinggi di antara delapan daerah yang masih memiliki gangguan, yakni 97,56 persen.

KabupatenSite Belum PulihCapaian Pemulihan
Manggarai Timur32 site57,33 persen
Manggarai27 site82,35 persen
Nagekeo19 site76,25 persen
Ende11 site89,52 persen
Ngada10 site87,18 persen
Sikka7 site94,07 persen
Manggarai Barat4 site96,36 persen
Flores Timur1 site97,56 persen

Pasokan Listrik Menjadi Persoalan Utama

Industri telekomunikasi mengidentifikasi gangguan daya sebagai penyebab terbesar terhambatnya pemulihan. Sebanyak 701 site mengalami masalah pasokan listrik, sementara 93 site mengalami gangguan transmisi jaringan.

Setiap lokasi membutuhkan langkah penanganan yang disesuaikan dengan kondisi kerusakannya. Perbaikan mencakup penanganan sumber daya listrik dan jalur transmisi telekomunikasi.

Tiga kabupaten, yaitu Alor, Lembata, dan Timor Tengah Utara, telah mencatatkan pemulihan jaringan secara penuh. Delapan kabupaten lain masih dipantau untuk mempercepat pemulihan site yang tersisa.

Jaringan Menopang Respons Bencana

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan bahwa pemulihan layanan terus dikawal sejak gempa terjadi. “Kehadiran jaringan komunikasi di tengah bencana bukan sekadar soal konektivitas,” ujar Meutya.

Pusat Monitoring Telekomunikasi berkoordinasi dengan Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio, pemerintah daerah, dan operator telekomunikasi. Pemantauan diarahkan terutama pada wilayah yang masih memiliki jumlah gangguan tinggi atau capaian pemulihan rendah.

Gempa di Nagekeo menyebabkan 53 orang meninggal dunia dan 135 orang terluka. Sebanyak 5.000 warga mengungsi, sementara rumah penduduk serta sejumlah fasilitas publik mengalami kerusakan.

Warga di daerah terdampak diimbau tetap mendahulukan keselamatan selama jaringan dipulihkan. Arahan resmi dari BMKG, pemerintah daerah, dan instansi penanganan bencana perlu menjadi pedoman bagi masyarakat.

Baca Juga