Mahasiswa yang memakai internet untuk kegiatan nonakademik lebih dari tiga jam sehari tercatat lebih sering melaporkan pikiran bunuh diri. Dalam penelitian pada mahasiswa Amerika Serikat, kemungkinan pelaporan kondisi tersebut sekitar 45 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan penggunaan internet lebih sedikit.
Temuan ini menempatkan kebiasaan digital sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian kesehatan mental mahasiswa. Namun, hubungan dalam data penelitian tidak berarti durasi layar menjadi satu-satunya penjelasan atas kondisi psikologis seseorang.
Perundungan Daring Memiliki Kaitan Lebih Kuat
Pengalaman perundungan atau pelecehan di internet juga menunjukkan kaitan yang penting. Mahasiswa yang mengalaminya memiliki kemungkinan melaporkan pikiran bunuh diri 77 persen lebih tinggi.
Kaitan tersebut ditemukan pada beragam kelompok gender. Hasil ini menunjukkan bahwa pengalaman negatif di ruang digital perlu diperhatikan secara terpisah dari lamanya penggunaan internet.
| Faktor yang Diamati | Kaitan dengan Pelaporan Pikiran Bunuh Diri |
|---|---|
| Aktivitas daring nonakademik lebih dari 3 jam per hari | Sekitar 45 persen lebih tinggi |
| Perundungan atau pelecehan online | 77 persen lebih tinggi |
| Pria cisgender dengan penggunaan internet tinggi | Hampir dua kali lipat dibanding penggunaan minimal |
Studi ini tidak hanya menghitung waktu yang dihabiskan pada media sosial. Kegiatan seperti bermain gim, membuka berbagai situs, dan memakai platform digital lain untuk tujuan nonakademik juga masuk dalam pengukuran.
Karena cakupannya luas, perhatian terhadap pola penggunaan digital tidak cukup bila hanya berfokus pada satu aplikasi. Rutinitas daring sehari-hari secara keseluruhan menjadi bagian dari konteks yang dinilai peneliti.
Hubungan Paling Menonjol pada Pria Cisgender
Hubungan antara penggunaan internet lebih dari tiga jam dan pikiran bunuh diri terlihat paling kuat pada mahasiswa pria cisgender. Pada kelompok ini, kemungkinan pelaporan pikiran bunuh diri hampir dua kali lipat dibandingkan mahasiswa dengan penggunaan internet minimal.
Peneliti menempatkan temuan tersebut sebagai pola keterkaitan yang perlu dicermati, bukan diagnosis bagi individu. Kondisi kesehatan mental tetap dapat dipengaruhi banyak faktor yang tidak dapat disederhanakan hanya menjadi satu kebiasaan digital.
Penelitian dipimpin Seungbin Oh, asisten profesor konseling kesehatan mental dan kedokteran perilaku di Boston University Chobanian & Avedisian School of Medicine. Studi itu memakai data Healthy Minds Network, koalisi riset yang melibatkan Boston University, University of California Los Angeles, University of Michigan, dan Wayne State University.
Mayoritas respondennya adalah mahasiswa di Amerika Serikat berusia 18 hingga 25 tahun. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam American Journal of Public Health.
Ruang Digital Bukan Semata Ancaman
Internet tetap memegang peran penting bagi mahasiswa untuk membangun identitas, berhubungan dengan orang lain, dan mengekspresikan emosi. Karena itu, hasil penelitian ini tidak menyatakan bahwa ruang digital selalu berdampak buruk.
Di sisi lain, perbandingan sosial, pengucilan, pelecehan, dan paparan berlebihan dapat menjadi tekanan yang hadir dalam aktivitas online. Tekanan itu dapat berlangsung di tengah penggunaan digital yang telah menjadi rutinitas.
Oh menyatakan, “Kami menemukan bahwa waktu menatap layar yang berlebihan dan pengalaman pelecehan daring secara independen dan signifikan terkait dengan peningkatan risiko munculnya pikiran untuk bunuh diri di kalangan mahasiswa.” Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya menilai durasi aktivitas daring dan pengalaman buruk di internet sebagai dua unsur berbeda.
Data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS mencatat angka bunuh diri pada usia 10 hingga 24 tahun meningkat 62 persen dari 2007 sampai 2021. Dalam konteks itu, tenaga kesehatan mental diharapkan turut menanyakan kebiasaan digital serta pengalaman perundungan online saat menilai kondisi mahasiswa.






