Lima nama korban gugur kembali dibacakan dalam refleksi 30 tahun peristiwa Kudatuli di kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat. Bersamaan dengan itu, peserta kembali menyoroti 23 orang yang hingga kini disebut belum memiliki kepastian nasib.
Nama Asmayadi Soleh, Suganda Siagian, Slamet, Uju bin Asep, dan Sariwan menjadi bagian dari penghormatan pada Minggu (26/7/2026). Refleksi itu juga mengenang 149 orang yang mengalami luka-luka akibat peristiwa 27 Juli 1996.
Korban Menjadi Pusat Refleksi Tiga Dekade
Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengajak peserta mengheningkan cipta untuk korban jiwa, orang hilang, dan korban luka. Para kader, senior partai, serta jajaran pengurus pusat mengikuti ajakan tersebut setelah pementasan teatrikal.
“Saya mengajak para senior partai dan saudara-saudara sekalian untuk hening sejenak,” ujar Hasto di hadapan peserta. Momen itu menempatkan penghormatan terhadap korban sebagai inti peringatan tiga dekade Kudatuli.
| Kelompok Korban | Jumlah | Status dalam Refleksi |
|---|---|---|
| Korban gugur | 5 orang | Nama disebut dalam acara |
| Orang hilang | 23 orang | Belum ada kepastian nasib |
| Korban luka-luka | 149 orang | Turut didoakan |
Beritasatu.com menyebut penghormatan itu juga ditujukan kepada orang-orang yang menanggung trauma mendalam selama tiga dekade. Peringatan tersebut kembali mengangkat dampak kemanusiaan dari kekerasan yang terjadi pada masa lalu.
Hasto menyebut penghormatan kepada para hilang penting dilakukan karena belum ada kepastian mengenai nasib mereka. Angka 23 orang hilang menjadi salah satu fakta yang terus melekat dalam ingatan tentang peristiwa Kudatuli.
Teater Gates Menghadirkan Kembali Ketegangan Peristiwa
Sebelum hening cipta, Teater Gates mementaskan gambaran penyerangan kantor DPP PDI. Pementasan itu menunjukkan massa kubu Soerjadi menyerbu kantor yang dipertahankan pendukung Megawati Soekarnoputri.
Dalam gambaran pertunjukan tersebut, penyerbuan disebut berlangsung dengan dukungan rezim Orde Baru. Hasto tampak menangis saat menyaksikan kembali kisah kekerasan yang dipentaskan di hadapan peserta.
Megawati mengikuti kegiatan secara daring. Sejumlah tokoh dan pengurus juga hadir, termasuk Ganjar Pranowo, Adian Napitupulu, Yasonna H Laoly, Sidarto Danusubroto, dan Akbar Faisal.
Pesan tentang Demokrasi dan Keadilan
Hasto menilai Kudatuli sebagai catatan kelam represi kekuasaan pada masa lalu. Ia menyoroti peristiwa itu sebagai upaya untuk membungkam kebebasan berpendapat.
“Sebab apa yang terjadi saat itu sangatlah dahsyat, kekuasaan otoriter orde baru mencoba membunuh demokrasi, mematikan kemanusiaan, dan mengubur keadilan,” kata Hasto. Pernyataan itu disampaikan dalam rangkaian peringatan di kantor DPP PDIP.
Kepala Badan Sejarah Indonesia DPP PDIP Bonnie Triyana menilai refleksi tersebut tidak sekadar mengungkit pedihnya masa lalu. Ia menyebut kegiatan itu sebagai ikhtiar moral agar sejarah kelam tidak dilupakan dan keadilan tetap ditegakkan.
Pementasan seni, pembacaan data korban, dan hening cipta membentuk rangkaian utama acara tersebut. Refleksi 30 tahun Kudatuli kembali menegaskan bahwa korban jiwa, korban luka, dan para hilang masih menjadi bagian penting dari ingatan sejarah PDIP.






