Kerah samleh pada kebaya encim menjadi salah satu detail yang menyimpan arti lebih dari sekadar dekorasi. Hiasan bunga-bungaan di bagian ini mencerminkan selera visual sekaligus perjalanan akulturasi budaya di Indonesia.
Pada sejumlah kebaya lama, motif mawar dapat ditemukan sebagai elemen hias. Namun, bunga yang dipakai tidak hanya terbatas pada mawar karena pilihan ornamen mengikuti jenis bunga yang populer pada masanya.
Samleh sebagai bidang hias utama
Samleh merupakan sebutan untuk bagian kerah pada kebaya tertentu. Area ini sering menjadi tempat hadirnya motif floral yang memberi karakter khas pada kebaya encim.
Kreatif direktur Rumi Siddharta atau Om Rum, yang menekuni sejarah dan budaya, menyebut ragam bunganya dapat bermacam-macam. Ia pernah menemukan contoh kebaya lama dengan penggambaran bunga mawar.
“Bunga-bunga yang dipilihnya tuh bisa macam-macam, semua bunga-bunga yang populer,” kata Rumi. Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa ornamen kebaya tidak terlepas dari kecenderungan visual pada periode pembuatannya.
Motif bunga kemudian dapat menjadi petunjuk untuk memahami identitas kebaya yang tumbuh di masyarakat pesisir dan perkotaan. Hiasan ini membawa konteks sosial dan budaya di balik tampilan busana yang terlihat ringan.
Bahan tipis mempertegas ornamen
Kebaya encim dikenal memakai bahan yang ringan, tipis, dan dalam beberapa contoh tampak agak menerawang. Karakter material tersebut membuat hiasan floral terlihat lebih menonjol pada permukaan busana.
Ornamen tidak dapat dipisahkan dari potongan dan bahan kebayanya. Ketiganya bekerja bersama membentuk kesan visual yang menjadi ciri kebaya encim.
| Elemen | Keterangan |
|---|---|
| Motif bunga | Dapat berupa mawar atau bunga populer lain pada masanya |
| Samleh | Bagian kerah yang sering dihiasi floral |
| Bahan | Ringan, tipis, dan dapat agak menerawang |
| Padanan | Sering dikenakan bersama batik pesisir bercorak bunga |
Akulturasi dalam satu setelan busana
Kebaya encim sering dipadukan dengan batik pesisir yang juga memiliki corak bunga. Kombinasi tersebut menciptakan kesinambungan motif dari bagian atas hingga kain bawahan.
Unsur floral dalam setelan itu memperlihatkan bahwa kebaya dan batik saling melengkapi. Permainan motif tersebut menjadi salah satu daya tarik tampilan busana ini.
Rumi menempatkan kebaya encim sebagai hasil percampuran beragam budaya di Indonesia. Jejaknya dapat dibaca dari detail hiasan, pilihan bahan, hingga cara kebaya dipadukan dengan kain.
Pada rentang sekitar 1920 hingga 1950, kebaya seperti ini banyak dikenakan perempuan keturunan Tionghoa di Nusantara. Perempuan Eropa juga pernah mengenakan kebaya semacam itu ketika berada di rumah.
Menurut penjelasan Rumi yang dikutip lifestyle.kompas.com, keberagaman pemakai tersebut memperlihatkan kebaya berkembang di antara komunitas berlatar budaya berbeda. Karena itu, kebaya encim tidak dapat dilihat hanya sebagai pakaian dengan ornamen indah.
Pengamatan atas kerah, motif, bahan, dan batik pasangannya membantu mengenali sejarah panjang busana ini. Kebaya encim menunjukkan bahwa sebuah bunga pada pakaian dapat menyimpan jejak pertemuan budaya yang luas.






