Gilang Dirga menilai rasa kecewa terhadap berbagai persoalan di Indonesia tidak sama dengan hilangnya cinta kepada negara. Ia menegaskan Bendera Merah Putih tetap perlu dikibarkan sebagai simbol Indonesia, meski masyarakat memiliki kritik terhadap oknum pemerintahan.
Baginya, pengibaran bendera di depan rumah menjadi tindakan sederhana yang menunjukkan keterikatan dengan Tanah Air. Ia juga memandang peringatan 17 Agustus sebagai momentum penting untuk mendoakan Indonesia menjadi lebih baik.
Simbol Negara dan Kritik Harus Dipisahkan
Gilang menekankan bahwa Merah Putih bukan sekadar penanda sikap politik kepada pemerintah. Ia meminta masyarakat memisahkan penghormatan kepada bendera nasional dari kekecewaan terhadap pihak yang menjalankan pemerintahan.
“Bendera Merah Putih tetap harus ditegakkan. Bukan karena sebagai bentuk protes kepada pemerintah lalu bendera Merah Putih tidak harus dikibarkan,” ujar Gilang.
Pernyataan itu disampaikan melalui video di media sosialnya. Gilang memandang bendera tersebut sebagai lambang yang layak diperjuangkan dan diangkat setinggi mungkin.
Ia mengakui sebagian masyarakat dapat merasa Indonesia belum sepenuhnya merdeka dalam konteks tertentu. Namun, ia menilai perbedaan pengalaman tidak semestinya mengendurkan rasa memiliki terhadap Indonesia.
Persoalan Tidak Selalu Berhenti di Tingkat Atas
Gilang turut menyoroti hambatan yang dapat muncul di lapisan bawah dalam upaya memajukan Indonesia. Pandangan itu ia kaitkan dengan pengalamannya saat mengikuti kontestasi politik di salah satu wilayah.
Ia pernah melihat informasi di Instagram mengenai seorang kontraktor yang ingin memperbaiki jalan. Dalam informasi tersebut, perbaikan jalan disebut menghadapi hambatan dari sejumlah aparatur desa.
Gilang menyampaikan dugaan bahwa jalan yang terus rusak dapat dimanfaatkan sebagai alasan untuk meminta sumbangan dari orang yang melintas. Menurutnya, pola pikir seperti itu masih menjadi persoalan di sejumlah daerah.
Keinginan masyarakat untuk melihat Indonesia maju, menurut Gilang, dapat tertahan oleh kepentingan tertentu di tingkat bawah. Beritasatu.com melaporkan bahwa ia tidak menutup mata terhadap berbagai kekecewaan yang muncul dari persoalan semacam itu.
Perbedaan Sikap soal Bendera
Pandangannya muncul ketika pengibaran bendera menjadi pembicaraan di sejumlah daerah, termasuk Aceh, Borneo, dan Papua. Gilang meminta perbedaan sikap tersebut tidak berkembang menjadi alasan untuk memusuhi pihak lain.
Ia menilai makna kemerdekaan memang tidak selalu dipahami secara seragam. Ada yang merasa Indonesia telah merdeka, sementara yang lain masih melihat persoalan yang perlu diperjuangkan.
Gilang meminta masyarakat tidak terburu-buru menghakimi orang yang memilih tidak mengibarkan Merah Putih. Ia menilai sikap itu mungkin berangkat dari rasa kecewa sehingga perlu ditanggapi dengan pemahaman.
Ajakan Menahan Diri
Gilang mengajak publik membicarakan perbedaan melalui argumen yang sehat. Ia mengingatkan bahwa para pendiri bangsa juga memiliki perbedaan pendapat dalam menentukan cara mengelola negara.
Ia membedakan sikap tidak mengibarkan bendera dengan tindakan sengaja mengganti atau menurunkan Merah Putih untuk mengibarkan bendera lain. Kendati demikian, Gilang tetap meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi karena keributan tidak akan menyelesaikan persoalan.
Pernyataan tersebut berpotensi memunculkan pro dan kontra di masyarakat. Gilang menegaskan pandangannya disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap Kemerdekaan Indonesia dan masa depan bangsa.






