Terapi oksigen hiperbarik tidak boleh dipilih hanya karena tubuh terasa lelah atau pemulihan belum terasa tuntas. Pemeriksaan medis menjadi tahap penting karena terapi ini memiliki indikasi dan kontraindikasi yang berbeda pada setiap individu.
Penilaian tersebut diperlukan untuk menentukan apakah keluhan berkaitan dengan kebutuhan dukungan oksigenasi jaringan. Dalam kondisi tertentu, Terapi Oksigen Hiperbarik atau HBOT dapat digunakan sebagai terapi pendukung, bukan pengganti penanganan medis utama.
Siapa yang Dapat Mempertimbangkannya?
HBOT dapat relevan bagi pasien yang sedang menjalani masa pemulihan setelah sakit, cedera, atau tindakan medis. Terapi ini bertujuan mendukung regenerasi jaringan dari dalam ketika evaluasi klinis menunjukkan kebutuhan yang sesuai.
Keluhan kelelahan kronis, brain fog, dan stamina yang menurun juga dapat menjadi alasan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Peningkatan oksigenasi menuju otak dan sistem saraf disebut menjadi pertimbangan dalam mendukung fungsi kognitif serta energi harian.
Individu yang aktif secara fisik dapat memasukkan HBOT dalam protokol pemulihan setelah latihan atau kompetisi. Standar terapi tersebut disebut telah tersedia di Seraphim Medical Center.
Dokter Ravenska Theodora menegaskan pemilihan pasien harus dilakukan secara individual. “Terapi ini memiliki indikasi dan kontraindikasi yang harus dinilai secara individual,” tegasnya.
Tekanan Tinggi dan Oksigen Terlarut
HBOT dilakukan dengan menghirup oksigen murni di dalam hyperbaric chamber khusus untuk satu orang. Durasi satu sesi berkisar 60 hingga 90 menit dengan tekanan yang lebih tinggi daripada tekanan atmosfer normal.
Dalam kondisi normal, hemoglobin pada sel darah merah membawa sebagian besar oksigen tubuh. HBOT meningkatkan jumlah oksigen yang larut di dalam plasma darah, sehingga oksigen dapat berdifusi lebih jauh ke jaringan.
Mekanisme tersebut membedakan terapi hiperbarik dari pemberian oksigen biasa. Oksigen terlarut membantu menjangkau area yang sedang membutuhkan dukungan pemulihan, termasuk jaringan yang mengalami kekurangan oksigen.
Mengapa Pemulihan Bisa Terasa Lambat?
Perbaikan sel yang rusak, pemulihan peradangan, dan pembentukan pembuluh darah baru memerlukan pasokan oksigen. Jika ketersediaannya tidak mencukupi, proses perbaikan tetap dapat berjalan tetapi tidak selalu berlangsung secara optimal.
Kekurangan oksigen pada tingkat jaringan, atau Hipoksia Jaringan, sering kali tidak disadari oleh pasien. Seseorang dapat merasa belum pulih setelah sakit atau cedera tanpa mengetahui adanya hambatan oksigenasi di level seluler.
Menurut dr. Ravenska yang dikutip CNBC Indonesia, tekanan lebih tinggi membantu oksigen menjangkau jaringan yang mengalami hipoksia. Kondisi itu dapat menjadi salah satu penyebab penyembuhan berjalan lebih lambat dari perkiraan.
“Dengan tekanan yang lebih tinggi, oksigen bisa menjangkau area jaringan yang mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) yang seringkali menjadi alasan utama mengapa proses penyembuhan berjalan lebih lambat dari yang diharapkan,” jelas dr. Ravenska. Karena itu, HBOT perlu ditempatkan sebagai bagian dari pendekatan klinis yang terarah.
Pasien dalam fase Pemulihan Pasca Prosedur Medis dapat memiliki kebutuhan yang berbeda dengan pasien setelah sakit atau cedera. Keputusan terapi tetap perlu didasarkan pada evaluasi medis, bukan semata-mata pada rasa lelah atau keinginan untuk pulih lebih cepat.






