Mundur dari Cambridge Usai Disorot, Jason Arday Meninggal di Battersea

Pengunduran diri Jason Arday dari Universitas Cambridge terjadi ketika tuduhan plagiarisme dan pertanyaan tentang sejumlah klaim masa lalunya menguat. Beberapa hari kemudian, sosiolog tersebut dilaporkan ditemukan meninggal di Battersea, London selatan, pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Kepolisian Metropolitan London menyatakan seorang pria berusia 41 tahun ditemukan tidak responsif di sebuah rumah. Polisi menangani perkara itu sebagai kematian tak terduga yang tidak diyakini mencurigakan.

Keluarga Arday menyampaikan duka melalui penerbit Simon & Schuster setelah polisi tidak menyebut identitas pria tersebut. Mereka menyatakan sangat terkejut kehilangan sosok yang mereka sebut sebagai ayah, pasangan, saudara, paman, dan anak yang luar biasa.

Menurut keluarga, disinformasi dan tekanan publik telah menjadi beban yang sangat berat bagi Arday. Pernyataan itu dikutip AP News setelah perhatian terhadap akademisi tersebut meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Disertasi Menjadi Pusat Sorotan

Perdebatan mengenai Arday mengemuka saat Nathan Cofnas, mantan peneliti filsafat Cambridge, mempertanyakan kualifikasinya secara terbuka. The Times of London pada 24 Juli mempublikasikan analisis terhadap disertasi doktoral Arday yang diselesaikan pada 2015.

Analisis itu menyoroti bagian-bagian yang disebut identik atau hampir identik dengan karya peneliti lain. Arday membantah tuduhan plagiarisme, meski mengakui beberapa kesalahan dalam penyusunan disertasinya.

Selain disertasi, publik mempertanyakan klaim Arday mengenai penggalangan dana 5,5 juta pound sterling. Kegiatan yang dikaitkan dengan klaim tersebut meliputi lari 30 maraton dalam 35 hari dan perjalanan 600 mil dalam enam hari.

Dalam surat pengunduran dirinya, Arday menulis bahwa tuduhan, spekulasi, dan komentar publik yang tak henti-hentinya telah berdampak mendalam baginya serta orang-orang yang dicintainya. Ia menegaskan keputusan mundur tidak seharusnya dibaca sebagai pengakuan atas narasi yang berkembang.

PeriodePeristiwaDampak
2023Diangkat sebagai profesor CambridgeArday menjadi profesor kulit hitam termuda di kampus itu pada usia 37 tahun.
24 JuliAnalisis disertasi dipublikasikanDugaan kemiripan dengan karya peneliti lain menjadi sorotan.
Rabu malamMundur dari CambridgeArday melepaskan jabatan profesor sosiologi pendidikan.
14 Agustus 2026Ditemukan meninggalIa ditemukan tidak responsif di Battersea.

Kampus Meninjau Perekrutan Akademik

Universitas Cambridge semula menyatakan tuduhan plagiarisme telah diperiksa oleh Liverpool John Moores University, pemberi gelar doktor Arday. Namun, universitas kemudian memutuskan meninjau proses perekrutan staf akademik setelah muncul informasi tambahan tentang kualifikasi dan jabatan kehormatannya.

Puluhan akademisi Cambridge meminta penyelidikan independen melalui surat yang mereka tandatangani. Wakil Rektor Deborah Prentice menyatakan simpati kepada keluarga dan teman Arday, sembari menegaskan kasus itu tidak boleh digeneralisasi.

Prentice mengatakan kasus khusus tersebut merupakan penyimpangan dan tidak boleh digunakan untuk meragukan pekerjaan maupun legitimasi akademisi kulit berwarna di Cambridge. Sejumlah akademisi dan politisi pendukung Arday juga menilai tuduhan yang beredar berpotensi menjadi kampanye fitnah yang merusak reputasi.

Memoar dan Perjalanan yang Tidak Lazim

Arday dikenal setelah mencatat sejarah di Cambridge pada 2023, ketika berusia 37 tahun. Pencapaian itu kemudian dibayangi sorotan terhadap perjalanan akademik serta beberapa klaim yang pernah disampaikan.

Dalam kisah hidupnya, Arday menyebut dirinya hidup dengan disleksia, keterlambatan perkembangan, dan autisme. Ia mengaku tidak dapat berbicara hingga usia 11 tahun serta baru bisa membaca menjelang akhir masa remajanya.

Memoarnya, Great and Unfortunate Things, tetap diterbitkan Simon & Schuster pada pekan kematiannya. Buku itu terbit di tengah keraguan publik terhadap sebagian klaim tentang perjalanan hidup dan karier akademik Arday.

Baca Juga