Anak berhak mengetahui dan ikut menentukan apakah foto, video, atau cerita tentang dirinya boleh dipublikasikan. Hak tersebut perlu dikenalkan sejak dini, lalu dijalankan secara lebih tegas ketika anak tumbuh besar.
Psikolog Arnold Lukito menegaskan bahwa anak bukan “properti digital” orang tua. Persetujuan untuk membagikan kehidupan anak di internet tidak seharusnya berhenti sebagai formalitas.
Persetujuan mengikuti usia dan kematangan
Bayi dan balita belum mampu memberikan persetujuan, sehingga orang tua tetap perlu mengambil keputusan. Dalam situasi ini, pertanyaan pentingnya adalah apakah konten aman, pantas, serta tidak berpotensi merugikan anak pada masa depan.
Anak berusia tiga hingga enam tahun mulai dapat diajak memilih foto atau video yang ingin dibagikan. Percakapan sederhana ini dapat menjadi awal untuk mengenalkan batasan di ruang digital.
Saat memasuki usia sekolah, anak dapat diberi pemahaman bahwa unggahan internet tidak selalu bisa dikendalikan setelah tersebar. Ketika beranjak remaja, meminta izin perlu menjadi kebiasaan dan penolakan anak wajib dihormati.
Prinsip ini sejalan dengan hak anak atas privasi, perlindungan, dan partisipasi sesuai usia serta kematangan. General Comment No. 25 dari Komite Hak Anak PBB juga menekankan penghormatan terhadap hak anak di lingkungan digital.
Sharenting dapat meninggalkan dampak panjang
Kebiasaan orang tua mengunggah foto, video, atau cerita tentang anak disebut sharenting. Banyak orang tua melakukannya untuk mengabadikan kenangan dan memperlihatkan kebanggaan atas tumbuh kembang anak.
Arnold menilai praktik tersebut tidak selalu keliru. Risiko muncul ketika anak terlalu sering ditampilkan hingga diperlakukan sebagai konten, bukan individu yang memiliki privasi.
Masa kecil yang terus dipertontonkan dapat membuat anak terbiasa menilai dirinya dari pandangan penonton. Dalam jangka panjang, cara mereka memandang diri sendiri berpotensi bergeser dari identitas personal menuju penampilan di mata orang lain.
Foto saat makan, menangis, sakit, atau bermain dapat terasa biasa bagi keluarga. Setelah tersebar di internet, unggahan itu dapat diunduh, disimpan, dibagikan ulang, lalu muncul kembali ketika anak telah remaja atau dewasa.
Foto lama yang dianggap lucu oleh orang tua mungkin memalukan bagi anak pada usia 15 tahun. Cerita mengenai nilai sekolah, kesehatan, dan momen rentan juga dapat menjadi bahan ejekan atau cyberbullying.
Privasi tidak harus menghapus kenangan
Orang tua tetap dapat menyimpan dokumentasi tumbuh kembang tanpa harus mempublikasikan semuanya. Foto dengan wajah dari belakang, samping, atau ditutupi emoji dapat menjadi pilihan bagi keluarga yang ingin membatasi paparan.
| Pendekatan | Dokumentasi yang dibagikan | Upaya menjaga anak |
|---|---|---|
| Unggahan terbatas | Aktivitas dan momen liburan | Memilih pengikut, memblokir akun mencurigakan, tidak memperlihatkan rutinitas |
| Dokumentasi privat | Wajah dari belakang, samping, atau ditutupi emoji | Meminta orang lain menyamarkan wajah anak saat mengunggah foto |
Adyanti Putri memakai akun Instagram anaknya untuk menyimpan memori penting dengan akses yang dibatasi. Ia menghindari unggahan yang menunjukkan jam sekolah, jadwal les, maupun lokasi anak secara langsung.
Ia juga berencana menyerahkan kendali akun tersebut kepada anaknya ketika sudah cukup dewasa. Anak itu nantinya dapat memilih untuk melanjutkan atau menutup akun sesuai keinginannya.
Riska Rahman memilih hampir tidak pernah memperlihatkan wajah anak di media sosial. Kekhawatirannya mencakup kemungkinan foto serta data anak disalahgunakan sebagai foto profil, stiker, atau untuk kejahatan siber.
Unggahan rutin dapat membuka informasi sensitif
Deputi Pendidikan Anak-anak Perlindungan Khusus Kementerian Perlindungan Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Ciput Eka Purwiyati, mengingatkan bahwa konten anak bisa dimanfaatkan pihak yang tidak berkepentingan. Risiko tersebut juga mencakup pemanfaatan konten oleh pelaku kejahatan seksual di ruang digital.
Nama sekolah, lokasi rumah, tempat les, dan tempat yang rutin dikunjungi dapat membentuk profil seorang anak. Hashtag, penanda lokasi, serta unggahan berulang dapat membantu orang asing mengenali kebiasaan anak dan membuka peluang online grooming.
Orang tua dapat menghindari unggahan saat anak mandi, tidur, sakit, menangis, atau ketika lokasi real time dan dokumen pribadi terlihat. Menjaga masa kecil di internet berarti mengubah kebiasaan membagikan kenangan tanpa pertimbangan, bukan berhenti menyimpan kenangan itu sendiri.






