Konser tetap berjalan ketika kamera merekam adegan Operasi Pesta Copet di Pestapora. Kondisi itu membuat Iqbaal Ramadhan dan pemain lain tidak memiliki keleluasaan untuk menghentikan acara atau meminta adegan diulang.
Pengambilan gambar di tengah penonton asli menuntut respons spontan. Setiap reaksi pengunjung, musik yang dimainkan, dan dinamika kerumunan hanya dapat dimanfaatkan pada saat itu juga.
Iqbaal memerankan Ijal, salah satu dari empat sahabat yang memilih menjadi pencopet akibat tekanan ekonomi. Karakter itu berada dalam kelompok yang juga terdiri atas Adut, Tia, dan Melodi.
Tekanan lokasi menjadi pengalaman baru karena film biasanya dapat mengatur penempatan pemain dan kebutuhan dialog dengan lebih leluasa. Di festival, pemain justru mengikuti situasi yang sudah berlangsung di sekitar mereka.
Momen Penonton Tidak Dapat Direkayasa
Reaksi pengunjung yang sedang menikmati penampilan musisi tidak dapat disusun ulang oleh kru. Iqbaal mencontohkan penonton yang menangis saat menyaksikan Sal Priadi tidak mungkin diminta mengulangi ekspresinya.
Keadaan tersebut membuat komunikasi serta ketepatan waktu menjadi faktor penting selama syuting. Para pemain perlu menangkap momen tanpa mengganggu jalannya festival musik.
Kawai Labiba, pemeran Melodi, juga harus menyatu dengan penonton pada hari penyelenggaraan. Selain berakting, ia dan pemain lain perlu menjaga agar kostum serta alur cerita film tidak bocor kepada publik.
Musik yang sangat keras di area konser menambah kesulitan koordinasi. Pengulangan adegan terbatas karena penampilan di panggung tidak bisa dihentikan sesuai keperluan produksi.
Peran Pemain dalam Dua Lokasi Syuting
| Pemain | Tokoh | Bagian Produksi yang Disorot |
|---|---|---|
| Iqbaal Ramadhan | Ijal | Adegan spontan di tengah festival |
| Kawai Labiba | Melodi | Syuting bersama penonton asli |
| Kristo Immanuel | Adut | Festival yang dibangun ulang |
| Zulfa Maharani | Tia | Drama dan dialog sebelum hari festival |
Selain pengambilan gambar langsung di Pestapora 2025, tim produksi membangun kembali suasana festival untuk sejumlah adegan. Panggung, tata visual, dan sekitar 500 pemeran pendukung dipakai untuk menciptakan kerumunan yang dapat dikendalikan.
Kristo Immanuel lebih banyak berada dalam bagian rekreasi tersebut. Ia menilai suasananya tetap terasa nyata karena para pemeran pendukung didandani untuk menyerupai penonton Pestapora.
Dalam setiap pengulangan, para pemeran pendukung harus kembali ke posisi awal agar kesinambungan adegan terjaga. Kristo menyebut situasi itu terasa seperti waktu diputar kembali sebelum adegan dimulai dari awal.
Adegan pencopetan yang dijalankannya di tengah kerumunan juga memberi ketegangan tersendiri. Rasa takut ketahuan ketika berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnya membuat atmosfer cerita terasa lebih kuat.
Dialog Disiapkan Sebelum Festival
Zulfa Maharani menjalani jadwal syuting sebelum hari festival untuk mengerjakan adegan drama dan dialog. Langkah itu diperlukan karena percakapan sulit direkam dengan leluasa ketika konser berlangsung.
Ia juga menghadapi tuntutan menjaga ritme tubuh dalam adegan yang sebelumnya memakai musik panduan. Saat musik dimatikan untuk kebutuhan dialog, gerak pemain tetap harus terlihat seolah lagu masih terdengar.
Operasi Pesta Copet mengangkat kisah empat sahabat dari kawasan pinggiran kota yang kesulitan mendapat pekerjaan layak di tengah kenaikan biaya hidup. Ijal, Adut, Tia, dan Melodi lalu mengambil jalan pintas dengan mencopet di konser musik.
Film produksi Imajinari ini menjadi debut penyutradaraan Edy Khemod. Para pemain membahas proses produksinya dalam jumpa pers di XXI Plaza Senayan, Jakarta, pada 22 Juli 2026, dan film tersebut dijadwalkan tayang di bioskop mulai 27 Agustus 2026.






