Perubahan kecil pada huruf “r” dalam logo tulisan Instagram memicu kritik karena dinilai lebih mudah terbaca sebagai “z”. Bentuk karakter itu membuat sebagian pengamat membaca nama platform tersebut sebagai “Instagzam” pada pandangan pertama.
Masalah ini menjadi penting karena wordmark tidak hanya berfungsi sebagai hiasan visual. Tulisan pada logo juga harus membantu publik mengenali nama merek secara cepat dan jelas.
Creative Director Ars Technica, Aurich Lawson, menjadi salah satu pihak yang menyoroti bentuk huruf baru tersebut. Ia menggambarkan karakter pengganti “r” itu seolah dibuat oleh robot yang tidak memahami rupa huruf “r”.
Kritik terhadap karakter tersebut menunjukkan bahwa satu elemen tipografi dapat memengaruhi pembacaan sebuah nama secara keseluruhan. Dalam identitas merek besar, perubahan bentuk huruf dapat menggeser kesan yang diterima pengguna dalam waktu singkat.
Keterbacaan Menjadi Persoalan Utama
Logo baru Instagram dinilai memakai bentuk tulisan yang sulit dipahami pada pandangan awal. Beberapa huruf dianggap tidak membentuk kata “Instagram” dengan tegas seperti yang diharapkan dari sebuah logo berbasis teks.
Lawson menilai karakter-karakter di dalam desain itu tampak seperti terpotong dan memiliki jarak yang tidak seimbang. Struktur teksnya juga disebut terasa acak, berbeda dari wordmark yang mengutamakan ketegasan bentuk serta kemudahan dibaca.
Jarak antarkarakter di sekitar huruf “g” turut menjadi sorotan. Detail tersebut dipandang memengaruhi ritme pembacaan nama merek dan membuat susunan huruf terasa kurang padu.
Lengkungan pada huruf “s” disebut dirancang sebagai penghormatan terhadap gaya tulisan sambung pada logo lama. Namun, hasil akhirnya dinilai menyerupai gabungan beberapa jenis huruf yang dipilih tanpa kesatuan yang kuat.
Perbandingan dengan AI Slop
Lawson menyebut tampilan wordmark baru ini mengingatkan pada AI Slop, istilah untuk visual atau konten berkualitas rendah yang dihasilkan kecerdasan buatan. Penilaian itu tidak berarti Instagram menggunakan AI untuk merancang logo tersebut.
Menurut Lawson, kecerdasan buatan generasi saat ini masih belum baik dalam membuat tipografi atau teks yang presisi. Meski demikian, ia melihat desain baru Instagram menampilkan pola kekeliruan yang sering muncul pada visual berbasis AI.
Perbandingan tersebut muncul karena bentuk huruf, potongan karakter, dan jarak antarelemen dianggap menciptakan kesan canggung. Bagi para pengkritiknya, persoalan itu melampaui perbedaan selera karena menyangkut fungsi dasar tulisan sebagai penanda nama.
Alasan di Balik Penyegaran Identitas
Head of Instagram Adam Mosseri menyatakan desain baru ini dibuat lebih ramping dan modern. Ia juga menyebut pembaruan tersebut tetap merujuk pada versi asli serta mempertahankan kesederhanaan dan keterampilan yang menjadi ciri Instagram sejak awal.
Pembaruan logo tulisan ini dilakukan sekitar 10 tahun setelah Instagram terakhir kali mengubahnya. Rentang tersebut tergolong panjang bagi perusahaan teknologi yang bergerak dalam industri dengan perubahan visual yang cepat.
Penyegaran identitas korporat pada dasarnya lazim dilakukan dan tidak selalu menimbulkan perdebatan panjang. Namun, logo Instagram mendapat perhatian khusus karena karakter-karakternya dinilai mengaburkan kata yang seharusnya langsung dikenali publik.
Liputan6 yang mengutip Ars Technica mencatat bahwa kritik terhadap desain ini bukan semata soal preferensi estetika. Perdebatan itu menegaskan bahwa modernisasi sebuah merek tetap perlu menjaga keseimbangan antara tampilan baru dan keterbacaan nama yang menjadi identitasnya.






