Gangguan Jaringan Meluas di 10 Wilayah NTT, Sikka Catat 51 BTS Terdampak

Gangguan jaringan telekomunikasi meluas ke 10 kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Timur setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores. Sikka menjadi daerah dengan jumlah BTS terdampak paling besar, yakni 51 site.

Dari 192 BTS yang tersedia di Sikka, 26,56 persen mengalami gangguan. Ende mencatat tingkat gangguan hampir serupa, dengan 31 BTS terdampak atau 26,27 persen dari 118 site.

Sebaran Gangguan dari Flores hingga Timor Tengah Utara

Total 200 base transceiver station atau BTS terdampak dalam peristiwa tersebut. Kementerian Komunikasi dan Digital menyatakan jumlah itu setara 16,35 persen dari BTS di wilayah yang teridentifikasi.

Flores Timur mencatat 26 BTS terganggu dari total 161 site, sementara Manggarai mengalami gangguan pada 22 dari 150 BTS. Manggarai Barat juga masuk dalam wilayah terdampak dengan 17 site bermasalah dari 141 BTS.

Kabupaten/KotaBTS TerdampakTotal BTSPersentase
Sikka5119226,56%
Ende3111826,27%
Flores Timur2616116,15%
Manggarai2215014,67%
Manggarai Barat1714112,06%
Manggarai Timur168020,00%
Ngada1310112,87%
Nagekeo117315,07%
Lembata107313,70%
Timor Tengah Utara31342,24%

Manggarai Timur mengalami gangguan pada 16 BTS dari total 80 site, sehingga persentasenya mencapai 20 persen. Ngada mencatat 13 BTS terdampak, sedangkan Lembata memiliki 10 site yang mengalami kendala.

Di Nagekeo terdapat 11 BTS terganggu dari 73 site yang tersedia. Timor Tengah Utara mencatat dampak paling rendah dalam daftar, yaitu tiga BTS dari 134 site.

Gempa Terjadi Pagi Hari di Dekat Mbay

Gempa terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WITA. Lokasi pusat gempa berada di timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Pemadaman pasokan listrik dan gangguan transmisi memengaruhi operasional infrastruktur telekomunikasi. Tiga operator seluler yang mengalami kendala adalah Telkomsel, XLSmart, dan Indosat Ooredoo Hutchison.

Data Jaringan Masih Bersifat Dinamis

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, mengatakan, “Sebanyak 16,35 % BTS di wilayah yang teridentifikasi, terdampak mengalami gangguan.” Komdigi masih menerima laporan operator dan memantau perkembangan di lapangan.

Komdigi berkoordinasi dengan operator, Tim Pemantauan Telekomunikasi, Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio, serta pemerintah daerah. Pemeriksaan site akan dilakukan untuk memastikan sumber gangguan dan kebutuhan penanganan teknis.

Pelaksanaan pemulihan mempertimbangkan kondisi listrik, transmisi, serta keamanan akses petugas menuju lokasi. “Kondisi jaringan sangat dinamis setelah terjadi bencana,” ujar Wayan.

Masyarakat di daerah terdampak diimbau mengutamakan keselamatan selama situasi berkembang. Pemantauan jaringan akan terus dilakukan agar layanan telekomunikasi dapat dipulihkan sesuai kondisi lapangan.

Baca Juga