Untuk Pertama Kalinya Sejak 1964, Florida Siapkan Dua Eksekusi dalam Sehari

Florida berpotensi menjalankan dua eksekusi mati dalam satu hari untuk pertama kalinya sejak 1964. James Duckett dan Dominick Occhicone dijadwalkan menerima suntikan mati pada Selasa dengan selisih waktu hanya enam jam.

Rencana tersebut menempatkan Florida dalam situasi yang jarang muncul pada era modern hukuman mati Amerika Serikat. Dalam 26 tahun terakhir, hanya Arkansas pada 2017 dan Texas pada 2000 yang tercatat melakukan lebih dari satu eksekusi dalam sehari.

Percepatan Eksekusi di Florida

Jadwal dua eksekusi itu muncul ketika Florida meningkatkan pelaksanaan hukuman mati di bawah pemerintahan Gubernur Ron DeSantis. Negara bagian tersebut mengeksekusi 19 terpidana pada 2025, jumlah tertinggi dalam sejarah Florida.

Media Indonesia mencatat Florida telah mengeksekusi 10 terpidana sepanjang tahun ini. Perkembangan itu membuat rencana pelaksanaan dua eksekusi pada hari yang sama mendapat perhatian lebih luas.

DeSantis sebelumnya menyatakan hukuman mati menjadi bagian dari keadilan bagi keluarga korban. Pada November 2025, ia mengatakan sejumlah keluarga ingin melihat keadilan dijalankan dan ia akan melakukan bagiannya untuk mewujudkan hal tersebut.

Dua Terpidana, Dua Perkara Pembunuhan

Duckett, mantan perwira polisi berusia 67 tahun, dijadwalkan menjalani eksekusi pada siang hari. Ia telah berada di penjara selama lebih dari tiga dekade setelah divonis membunuh seorang anak perempuan berusia 11 tahun pada 1987.

Occhicone yang berusia 80 tahun akan dijadwalkan dieksekusi beberapa jam sesudahnya. Ia divonis dalam perkara pembunuhan ganda terhadap orang tua mantan kekasihnya, yang juga terjadi pada 1987.

TerpidanaUsiaWaktu PelaksanaanPerkara
James Duckett67 tahunSiang hariPembunuhan anak perempuan 11 tahun pada 1987
Dominick Occhicone80 tahunBeberapa jam kemudianPembunuhan ganda pada 1987

Menurut Death Penalty Information Center, Occhicone akan menjadi terpidana berusia 80-an tahun kedua yang dieksekusi pada era modern hukuman mati AS apabila jadwal itu terlaksana. Usianya menjadi salah satu titik utama yang dipersoalkan kuasa hukumnya.

Keberatan atas Waktu dan Proses

Tim pengacara Occhicone berpendapat eksekusi terhadap terpidana berusia 80 tahun dapat melanggar larangan hukuman yang kejam dan tidak manusiawi. Mahkamah Agung Florida telah menolak permohonan banding terbaru yang diajukan pihaknya.

Tim hukum Duckett juga meminta penundaan eksekusi. Mereka menyebut hasil tes DNA pascavonis tidak konklusif dan memandang masih ada keraguan serius mengenai kemungkinan kesalahan dalam kasus tersebut.

Pengacara Duckett menyatakan negara tidak seharusnya “terburu-buru membunuh dalam kasus dengan keraguan serius atas kesalahan”. Permohonan banding terbaru kedua pihak memang telah ditolak, tetapi keberatan terhadap pelaksanaan eksekusi tetap menjadi sorotan.

Aktivis hak asasi manusia menilai interval enam jam dapat meningkatkan risiko komplikasi dalam pelaksanaan suntikan mati. Mereka juga menyoroti tekanan waktu yang muncul ketika dua proses eksekusi dilakukan pada hari yang sama.

Rohaniwan Menyebutnya Gangguan Sistem

Pastor Dustin Feddon, rohaniwan Katolik yang mendampingi tahanan hukuman mati Florida, menilai skenario itu mengkhawatirkan. Ia mengatakan dirinya tidak lagi terkejut oleh jumlah surat perintah eksekusi, tetapi dua eksekusi dalam enam jam merupakan “gangguan pada sistem”.

Pernyataan tersebut menggambarkan ketegangan antara kebijakan percepatan eksekusi dan kritik terhadap cara pelaksanaannya. Nasib Duckett dan Occhicone kini menjadi perhatian karena keduanya dijadwalkan menghadapi proses yang sangat jarang terjadi di Florida modern.

Baca Juga