Subeng Bali dipertahankan bukan dengan membekukannya pada satu fungsi, melainkan dengan membuka ruang pemaknaan baru. Gagasan tersebut menjadi inti pameran Kawan Nusantara 2026 yang menyusun perjalanan subeng dalam empat fase.
Empat fase itu memperlihatkan pergeseran subeng dari bagian kehidupan spiritual hingga karya yang dapat hadir di ruang sosial, ekonomi, dan desain kontemporer. Perubahan tersebut dirancang sebagai kelanjutan tradisi, bukan pemutusan dari identitas budaya asalnya.
Perjalanan dari Persembahan hingga Transformasi
| Tahap | Gagasan | Elemen yang Ditampilkan |
|---|---|---|
| Persembahan | Subeng dan kehidupan spiritual | Motif padma |
| Ekspresi | Pertumbuhan nilai artistik | Bunga lotus dan tanaman rambat |
| Nilai | Kriya dalam ruang sosial dan ekonomi | Karya bernilai lebih luas |
| Transformasi | Tradisi terus menemukan bentuk | Tipografi Evolusi |
Tahap Persembahan menghubungkan subeng dengan kehidupan spiritual masyarakat Bali. Motif padma yang muncul pada tahap ini merujuk pada arsitektur tempat persembahan Bali.
Tahap Ekspresi kemudian menampilkan bunga lotus dan tanaman rambat. Elemen tersebut menandai perhatian pada perkembangan unsur artistik yang melekat pada perhiasan tradisional.
Pada tahap Nilai, subeng dipandang sebagai karya kriya yang memasuki ruang sosial dan ekonomi. Tahap terakhir, Transformasi, ditandai tipografi bertuliskan “Evolusi” untuk menegaskan kemungkinan bentuk dan tafsir baru.
Founder dan Creative Conceptor TULOLA Happy Salma menyebut tradisi bertahan karena manusia terus memaknainya kembali. “EVOLUSI adalah pameran tentang bagaimana tradisi, keterampilan, dan nilai-nilai leluhur terus menemukan bentuk baru tanpa kehilangan jiwanya,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta pada 23 Juli 2026.
48 Koleksi dalam Bahasa Perhiasan Baru
Gagasan evolusi diterjemahkan TULOLA melalui 48 koleksi artwear. Koleksi itu terdiri atas anting, subeng, bros, sirkam, kalung, dan gelang dengan beragam pengolahan bentuk.
Canang, Macan, Sinar, Bunga, dan Kupu-kupu menjadi motif yang menyertai narasi koleksi. Pengerjaan tangan dipadukan dengan seni perhiasan adiluhung Nusantara agar rancangan tetap memiliki kedekatan dengan akar kriya.
Founder dan Creative Designer TULOLA Sri Luce Rusna mengatakan riset tahun ini menelusuri perjalanan produk budaya yang berkembang bersama kehidupan masyarakat. “Perhiasan selalu menjadi penanda zaman,” kata Sri Luce, seperti dikutip Liputan6.com.
Menurut Sri Luce, subeng menjadi representasi tradisi yang dapat diterjemahkan ke dalam rancangan yang terus berubah. Dalam konteks ini, subeng dapat hadir sebagai ekspresi personal, karya seni, dan sumber inspirasi bagi desain kontemporer.
Kolaborasi dan Ingatan Kriya
Pameran ini juga melibatkan sembilan jenama kreatif Indonesia, perajin binaan Bakti BCA, dan mitra binaan Pertamina. Kolaborasi tersebut memperlihatkan pelestarian budaya sebagai proses yang dapat menghubungkan keterampilan tradisional dengan ekosistem kreatif.
Area Heroes of Heritage menghadirkan karya bersama perajin perak Desa Wisata Taro, Bali. Pratima dan Keris Pusaka Wibawa Gunung Raung turut ditampilkan untuk menunjukkan peran pengetahuan serta keterampilan lintas generasi.
Karya seniman grafis Kadek Widarmawan dan instalasi kurasi Trianzani Sulshi melengkapi pengalaman ruang pamer. Keduanya mengajak pengunjung memperhatikan hubungan antara detail karya, ingatan budaya, dan masa depan.
Pameran bertajuk Evolusi: Heritage and Craft as a Vessel of Light and Wisdom berlangsung pada 23 dan 24 Juli 2026 di Nusantara Ballroom, The Dharmawangsa, Jakarta. TULOLA mempersembahkan Kawan Nusantara 2026 bersama BCA dan Pertamina sebagai perjumpaan antara tradisi, kriya, serta desain kontemporer.






