Brent Tertahan di US$126, Elektrifikasi Transportasi China Buka Ruang Pasokan

Harga minyak Brent tidak melampaui US$126 per barel saat konflik di Teluk Persia meningkatkan risiko gangguan pasokan. Kondisi ini terjadi meski terdapat proyeksi harga dapat menembus US$200 per barel apabila Selat Hormuz diblokade.

Salah satu penahan tekanan pasar datang dari China, yang kebutuhan bahan bakar transportasinya terus berkurang akibat elektrifikasi. Berkurangnya permintaan dari pengimpor minyak terbesar dunia memberi kelonggaran pasokan untuk negara lain.

Mobilitas Naik, Bahan Bakar Justru Turun

Data pemerintah China pada Mei menunjukkan perjalanan darat meningkat 2 persen. Namun, konsumsi bensin turun 10 persen dan konsumsi solar merosot 14 persen pada bulan yang sama.

Perbedaan antara mobilitas dan penggunaan bahan bakar menggambarkan dampak ekspansi transportasi listrik China. Hari libur 1 Mei mendorong perjalanan darat, tetapi kenaikan aktivitas tidak menghasilkan lonjakan permintaan bahan bakar seperti sebelumnya.

Penggunaan taksi listrik juga meningkat dalam periode tersebut. Sebanyak 3,05 juta orang memakai taksi listrik pada Mei, atau naik 6 persen sejak perang di Iran.

Indikator Transportasi ChinaAngkaKeterangan
Taksi yang memakai tenaga listrikSekitar separuh dari 1,3 juta unitData Kementerian Transportasi China
Pengguna taksi listrik3,05 juta orangPada Mei
Perjalanan Didi dari kendaraan elektrifikasi75 persenDari total perjalanan platform
Armada elektrifikasi DidiSekitar 8 juta unitMobil listrik dan hibrida

Didi mencatat registrasi 2 juta mobil listrik dan hibrida pada 2025. Jumlah kendaraan elektrifikasi dalam armadanya kini mencapai sekitar 8 juta unit.

Armada yang besar dan harga kendaraan listrik yang semakin murah juga membuat biaya taksi listrik turun ketika harga bahan bakar minyak naik. Perkembangan tersebut mempercepat pergeseran dari kendaraan berbahan bakar minyak di layanan penumpang.

Penjualan Mobil Baru Didominasi Tenaga Listrik

Peralihan ini tidak terbatas pada taksi dan layanan transportasi daring. Pada Juni, kendaraan listrik menyumbang 62 persen dari total penjualan mobil baru di China.

China memproduksi sekitar 75 persen kendaraan listrik dunia. Dominasi produksi dan pasar domestik tersebut memperkuat pengurangan kebutuhan bensin serta solar dalam sektor transportasi.

Rystad memperkirakan konsumsi bensin China turun 6,6 persen pada tahun ini. Konsumsi solar juga diproyeksikan berkurang 6,9 persen.

Sekitar separuh minyak mentah China masih diolah menjadi bahan bakar kendaraan. Namun, pertumbuhan mobil listrik China membuat kebutuhan bahan bakar minyak tidak lagi bergerak searah dengan kenaikan mobilitas.

Pengaruh terhadap Pasar Minyak Dunia

Sebelum perang di Teluk pecah, China mengimpor sekitar 11,5 juta barel minyak per hari. Sejak April, volume impor itu turun menjadi sekitar 8 juta barel per hari.

Penurunan sekitar 3,5 juta barel per hari tersebut mengurangi persaingan untuk mendapatkan minyak mentah di pasar global. Situasi itu menjadi penting karena sekitar 20 persen minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Suara.com mencatat harga rata-rata minyak mentah dunia sempat berada di kisaran US$101 per barel di tengah konflik. Pada awal Juli, harga kemudian turun ke sekitar US$70 per barel.

Selain perubahan permintaan China, kenaikan produksi minyak Amerika Serikat membantu menjaga pasar tetap terpasok. Arab Saudi juga memanfaatkan jalur Laut Merah untuk mengalirkan minyak mentah dan mengurangi dampak gangguan Selat Hormuz.

Risiko Pasokan Tetap Ada

Penurunan konsumsi minyak China tidak berarti risiko krisis energi akibat konflik Teluk hilang sepenuhnya. Jalur pengiriman dan kapasitas pasokan dari produsen utama tetap menjadi faktor penting bagi harga minyak dunia.

Namun, elektrifikasi transportasi China telah menciptakan penyangga permintaan yang signifikan. Ketika kebutuhan bahan bakar domestik berkurang, dampak gangguan pasokan global dapat lebih mudah diredam.

Baca Juga