Terlalu Lama Duduk di Toilet Bisa Berisiko, Hindari 5 Kebiasaan Saat BAB Ini

Waktu yang terlalu panjang di toilet dapat menambah tekanan pada area anus dan berkontribusi pada wasir. Risiko ini dapat meningkat ketika seseorang duduk sambil bermain ponsel atau terus menunggu BAB keluar tanpa dorongan yang jelas.

Cleveland Clinic menyarankan waktu di toilet dibatasi sekitar lima menit. Bila tinja tidak keluar atau dorongan belum muncul, proses BAB tidak perlu dilanjutkan dengan duduk lebih lama maupun mengejan.

Kenali Sinyal Alami Tubuh

Setiap orang memiliki pola buang air besar yang berbeda, dari beberapa kali sehari hingga beberapa kali dalam seminggu. Tidak ada kewajiban untuk BAB pada jam yang sama setiap hari selama pola tersebut sesuai dengan kondisi normal tubuh.

Dokter bedah kolorektal Arielle Kanters, MD, dari Cleveland Clinic, mengingatkan bahwa tubuh memiliki mekanisme alami untuk mengeluarkan tinja. Memaksa proses saat belum ada sinyal atau menahan keinginan yang sudah muncul sama-sama dapat mengganggu kebiasaan BAB.

KebiasaanDampakLangkah yang Dianjurkan
Mengejan kuatTekanan pada pembuluh darah anus bertambahHindari memaksa tinja keluar
Duduk lamaDapat berkontribusi pada wasirBatasi waktu sekitar lima menit
Bermain ponselMembuat durasi duduk lebih panjangGunakan toilet tanpa multitugas
Memaksakan BABDilakukan saat tubuh belum siapTunggu dorongan alami
Menahan BABTinja dapat makin kerasSegera ke toilet saat ada dorongan

1. Mengejan Terlalu Kuat

Mengejan sedikit masih dapat terjadi, tetapi dorongan keras yang dilakukan berulang kali tidak sebaiknya menjadi kebiasaan. Tekanan berlebih pada area anus dapat berkontribusi terhadap wasir dan fisura ani.

Fisura ani merupakan robekan pada anus yang dapat terjadi ketika tekanan saat BAB terlalu besar. Jika tinja sering sulit keluar, persoalan tersebut perlu diperhatikan tanpa menjadikan mengejan lebih keras sebagai solusi.

2. Duduk Terlalu Lama di Toilet

Menunggu terlalu lama di toilet dapat membuat tekanan pada area anus terus berlangsung. Seseorang dapat beranjak dan kembali lagi ketika dorongan BAB terasa.

Pembatasan waktu sekitar lima menit dimaksudkan agar toilet tidak menjadi tempat untuk menunggu proses yang belum siap terjadi. Kebiasaan ini juga membantu mengurangi kecenderungan memaksakan BAB.

3. Membawa Ponsel dan Bermain Terlalu Lama

Ponsel dapat membuat durasi duduk menjadi lebih panjang dari yang diperlukan. Membaca berita, menggulir media sosial, atau membalas pesan sering kali mengalihkan perhatian dari tujuan awal menggunakan toilet.

Kanters menyarankan untuk tidak melakukan multitugas ketika berada di toilet. Membatasi penggunaan ponsel dapat membantu seseorang lebih sadar pada lamanya waktu duduk.

4. Memaksakan BAB saat Belum Ada Dorongan

Duduk di toilet karena merasa sudah waktunya BAB tidak selalu berarti tubuh siap mengeluarkan tinja. Usus akan memberi sinyal kepada otak ketika proses tersebut memang siap berlangsung.

Memaksakan BAB saat belum ada dorongan dapat membuat proses menjadi tidak nyaman. Pola tubuh sendiri lebih layak dijadikan acuan daripada jadwal yang dipaksakan.

5. Menahan BAB ketika Dorongan Terasa

Kebiasaan menahan BAB dapat membuat tinja lebih keras dan makin sulit dikeluarkan. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases atau NIDDK menyebut kebiasaan ini dapat memicu atau memperburuk sembelit.

Segera menggunakan toilet saat dorongan muncul dapat mencegah tinja tertahan terlalu lama. Langkah sederhana ini penting terutama bagi orang yang kerap menunda BAB karena kegiatan lain.

Tanda yang Tidak Boleh Diabaikan

NIDDK mencatat sembelit dapat ditandai dengan BAB kurang dari tiga kali seminggu, tinja keras atau kering, nyeri atau kesulitan saat BAB, dan rasa belum tuntas. Kurangnya serat dan cairan, minim aktivitas fisik, atau kondisi medis tertentu juga dapat berkaitan dengan kesulitan BAB.

Konsultasi dengan dokter diperlukan jika perubahan pola BAB disertai darah pada tinja, perdarahan dari anus, nyeri perut menetap, muntah, demam, sulit buang gas, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas. Gejala yang menetap perlu mendapat perhatian meski kebiasaan BAB setiap orang tidak sama.

Baca Juga