Draf Proklamasi Nyaris Hilang di Tong Sampah, BM Diah Menyelamatkan Jejak Sejarah

Konsep tulisan tangan Soekarno yang menjadi cikal bakal teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pernah nyaris hilang di tempat sampah. Burhanuddin Muhammad Diah atau BM Diah menyelamatkan dokumen itu, sehingga jejak awal perumusan kemerdekaan masih dapat dipelajari hingga kini.

Dokumen tersebut dikenal sebagai Naskah Proklamasi Klad dan saat ini tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia. Keberadaannya menunjukkan bahwa naskah bersejarah itu lahir dalam situasi serba terbatas, bahkan sempat terancam lenyap setelah proses pengetikan selesai.

Dua Naskah dengan Peran Berbeda

Naskah Klad merupakan konsep yang ditulis tangan oleh Soekarno sebelum disalin ke mesin tik. Sementara itu, hasil ketikan Sayuti Melik menjadi Naskah Proklamasi Otentik yang kemudian disetujui serta ditandatangani Soekarno dan Mohammad Hatta.

DokumenBentukStatus
Naskah Proklamasi KladTulisan tangan SoekarnoDiselamatkan BM Diah dan disimpan di ANRI
Naskah Proklamasi OtentikKetikan Sayuti MelikDisetujui dan ditandatangani Soekarno-Hatta

Sayuti Melik meninggalkan konsep tulisan tangan itu di dekat mesin tik setelah tugas pengetikannya rampung. Ketika kembali, dokumen tersebut tidak lagi berada di tempat semula dan ia menduga naskah itu sudah dibuang.

“Setelah konsep saya ketik, saya tinggalkan begitu saja di dekat mesin tik dan ternyata tidak saya temui lagi,” kata Sayuti Melik. Ia menduga naskah yang ditulis Soekarno dengan pena itu mungkin telah masuk ke tempat sampah.

Dugaan itu terbukti karena draf tersebut memang sempat dibuang di rumah Laksamana Tadashi Maeda. BM Diah kemudian memungut serta mengamankannya, yang diduga didorong oleh perhatian terhadap nilai dokumentasi dokumen tersebut.

Mesin Tik dari Kantor Militer Jerman

Sebelum pengetikan dilakukan, perumus Proklamasi menghadapi persoalan peralatan di kediaman Maeda. Mesin tik yang tersedia menggunakan huruf kanji Jepang, sehingga tidak dapat dipakai untuk menyiapkan teks berbahasa Indonesia dengan huruf Latin.

Satsuki Mishima, sekretaris urusan rumah tangga di kediaman Maeda, mencari mesin tik lain menggunakan mobil Jeep. Ia menuju kantor militer Jerman di Gedung KPM, kawasan Koningsplein yang kini dikenal sebagai Medan Merdeka Timur.

Di tempat itu, Mishima bertemu Mayor Kandelar, perwira Angkatan Laut Nazi Jerman. Kandelar bersedia meminjamkan mesin tik yang lalu dibawa ke rumah Maeda untuk dipakai Sayuti Melik.

Waktu sudah menjelang pagi ketika proses pengetikan berlangsung dan Sayuti harus bekerja cepat. Menurut kisah yang dimuat tekno.kompas.com, hasil ketikannya tampak sedikit miring karena dikerjakan dalam keadaan tergesa-gesa.

Perubahan Penting dalam Naskah Ketikan

Sayuti Melik tidak hanya menyalin seluruh isi konsep tulisan tangan Soekarno. Ia melakukan sejumlah penyesuaian ejaan dan susunan kalimat sebelum naskah dibawa ke ruang rapat untuk dibahas.

Kata “tempoh” diubah menjadi “tempo”, sedangkan frasa “wakil-wakil bangsa Indonesia” diganti menjadi “Atas nama Bangsa Indonesia”. Ia juga menambahkan nama “Soekarno-Hatta” pada bagian penandatanganan.

Penulisan tanggal berubah dari “Djakarta,17-8-05” menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05”. Angka 05 merujuk pada tahun 2605 dalam penanggalan Showa Jepang, yang bersamaan dengan 1945 Masehi.

Setelah disepakati peserta perundingan, naskah ketikan itu ditandatangani Soekarno dan Mohammad Hatta. Beberapa jam kemudian, Soekarno membacakan Proklamasi dengan didampingi Hatta di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta Pusat, pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB.

Mesin tik pinjaman yang digunakan Sayuti Melik kini dapat dilihat di Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Menteng, Jakarta Pusat. Bersama Naskah Proklamasi Klad, benda tersebut menjadi penanda penting proses lahirnya teks kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga