Jalur diplomasi Iran dan Amerika Serikat kembali menemui kebuntuan setelah Teheran menolak proposal gencatan senjata dari Washington. Penolakan itu didasarkan pada tidak adanya jaminan mengenai status Selat Hormuz, yang dipandang Iran sebagai persoalan mendasar.
Kebuntuan terjadi saat serangan militer masih berlanjut dan risiko perang meluas di kawasan meningkat. Selat Hormuz tidak hanya menjadi isu politik, tetapi juga titik penting bagi pergerakan kapal dan pasokan energi dunia.
Serangan Berlanjut hingga Malam ke-13
CENTCOM mengonfirmasi serangan intensif AS ke Iran telah memasuki malam ke-13 berturut-turut. Operasi tersebut berlangsung ketika pembicaraan penghentian serangan belum menghasilkan kesepakatan.
Otoritas keamanan Teheran mencatat sedikitnya 53 orang tewas dan 592 orang terluka akibat bombardir AS. Angka korban diperkirakan dapat bertambah karena operasi militer pada malam hari masih berlangsung.
Iran mengklaim telah merusak sejumlah fasilitas dan aset militer AS di beberapa negara tetangga. AS, di sisi lain, terus melakukan pemboman terhadap sejumlah target darat di wilayah Iran.
Dua pejabat Iran mengatakan kepada The New York Times, sebagaimana dikutip Anadolu, bahwa serangan AS berikutnya dapat memperluas perang ke tingkat regional. Salah satu skenario yang disebut adalah penargetan Tel Aviv sebagai bentuk pembalasan.
Hormuz Menjadi Batas Perundingan
Bagi Teheran, pembahasan penghentian perang tidak dapat dipisahkan dari penguasaan atas Selat Hormuz. Ketiadaan jaminan dalam dokumen AS membuat Iran menilai tawaran tersebut belum menyentuh isu yang paling penting.
Lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz dilaporkan terganggu akibat konflik. Kondisi itu menambah kekhawatiran terhadap kelancaran jalur energi dan pelayaran di kawasan.
| Jalur Laut | Kondisi | Dampak yang Dikhawatirkan |
|---|---|---|
| Selat Hormuz | Lalu lintas kapal terganggu | Gangguan pasokan energi dan pelayaran |
| Selat Bab al-Mandab | Berpotensi diblokir total | Tekanan tambahan terhadap jalur logistik kawasan |
Selain Hormuz, Iran disebut menyiapkan kemungkinan tekanan melalui Selat Bab al-Mandab. Kelompok Houthi di Yaman diperkirakan dapat dilibatkan untuk memblokir akses pelayaran di wilayah tersebut.
Ancaman terhadap dua jalur itu membuat dampak konflik tidak lagi terbatas pada serangan langsung. Penutupan jalur udara yang beberapa kali terjadi juga menambah tekanan terhadap mobilitas kawasan.
Utusan Irak Membawa Proposal Washington
Dokumen perdamaian itu dibawa Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi dalam lawatan resminya ke Teheran. Suara.com yang mengutip Anadolu melaporkan al-Zaidi sebelumnya bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih sebelum berangkat ke Iran.
Rincian klausul proposal belum disampaikan kepada publik. Pejabat tinggi Iran menyebut dokumen itu sebagai satu-satunya tawaran resmi dari Washington, tetapi langsung menolaknya karena tidak memuat jaminan soal Hormuz.
Al-Zaidi bertemu Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi selama berada di Teheran. Pertemuan berlangsung ketika Iran memperkuat persiapan pertahanan menghadapi kemungkinan serangan lanjutan.
Teheran menilai kesepakatan damai tanpa penyelesaian isu utama hanya akan menjadi manuver politik. Sikap itu memperlihatkan bahwa Selat Hormuz masih menjadi penghalang terbesar bagi upaya penghentian perang.
Ketegangan saat ini dipicu keputusan Trump pada 8 Juli untuk membatalkan kesepakatan MoU Islamabad. Selama tuntutan Iran mengenai jalur strategis tersebut belum dijawab, peluang kompromi dengan AS diperkirakan tetap terbatas.






