Daya Tahan Keluarga Tertekan, Ekonom Minta Arah Ekonomi Indonesia Diubah

Menurunnya tabungan masyarakat dapat membuat keluarga menunda pembelian barang tahan lama serta mengurangi investasi pada pendidikan dan kesehatan. Ekonom INDEF Didik J Rachbini menilai kondisi itu melemahkan kemampuan rumah tangga dalam menghadapi tekanan ekonomi.

Masalah tersebut juga berkaitan dengan rasa aman terhadap pekerjaan dan pendapatan. Dalam ekonomi perilaku, kecemasan ekonomi dapat memengaruhi cara masyarakat memandang pemerintah dan kebijakan yang berlaku.

Dampak yang Melampaui Angka Ekonomi

Didik memandang tekanan kesejahteraan tidak sekadar terlihat dalam indikator pendapatan atau pertumbuhan. Jika kelompok menengah dan bawah tidak diperkuat, persoalan ekonomi dapat berkembang menjadi risiko destabilisasi sosial dan politik.

Karena itu, kebijakan dinilai perlu memberi perhatian lebih besar kepada daya tahan kelompok berpendapatan menengah dan rendah. Tujuannya bukan hanya menjaga konsumsi, tetapi juga memastikan keluarga mampu mempertahankan kualitas hidup saat terjadi guncangan.

Tekanan tersebut muncul ketika jumlah kelompok menengah mengalami penurunan. Data LPEM FEB UI menunjukkan sekitar 8,5 juta orang keluar dari kelas menengah Indonesia.

Jumlah kelas menengah yang berada di sekitar 60 juta orang pada 2018 turun menjadi sekitar 52 juta orang pada 2023. Pada 2023, kelompok ini setara dengan 18,8% dari populasi.

Simpanan Kecil Berkurang Rata-ratanya

Perubahan pada rekening simpanan memperlihatkan bahwa semakin banyak rekening kecil tidak selalu mencerminkan kondisi finansial yang lebih baik. Rata-rata dana pada akun dengan saldo Rp100 juta ke bawah justru turun dari Rp2,9 juta menjadi Rp2,7 juta.

Kelompok Simpanan2019Perkembangan Berikutnya
Akun Rp100 juta ke bawah292 juta tabungan, rata-rata Rp2,9 juta666 juta tabungan, rata-rata Rp2,7 juta
Akun di atas Rp5 miliar8.500 orang, rata-rata Rp24 miliar129 ribu orang, rata-rata Rp35 miliar

Di saat yang sama, pemilik akun dengan saldo di atas Rp5 miliar bertambah dari 8.500 orang menjadi 129 ribu orang. Rata-rata simpanan mereka juga meningkat dari Rp24 miliar menjadi Rp35 miliar.

Didik, dalam keterangannya yang dikutip finance.detik.com, menyoroti ketimpangan tabungan tersebut sebagai gambaran kontras antara kelompok bawah dan kelompok kaya. Ia menilai pertumbuhan di kisaran 5% lebih banyak didukung oleh perkembangan golongan atas.

Usulan Struktur Belah Ketupat

Didik mendorong perubahan struktur masyarakat dari bentuk segitiga berpucuk ke atas menjadi belah ketupat. Model itu menempatkan kelas menengah sebagai kelompok yang lebih besar dan lebih kuat dalam struktur kesejahteraan.

Ia juga meminta orientasi ekonomi Indonesia diperkuat ke perdagangan internasional. Jaringan perdagangan luar negeri, devisa, dan daya saing di pasar global dinilai penting untuk mengejar pertumbuhan 6% hingga 7%.

Dalam perbandingannya, Didik menyebut Indonesia telah tertinggal jauh dari Vietnam dalam perdagangan luar negeri. Ia juga mengingatkan bahwa pendapatan Indonesia yang sekitar 1960-an tidak jauh berbeda dari Korea Selatan kini tertinggal, setelah pendapatan Korea Selatan meningkat sekitar tujuh kali lipat dalam 50 tahun.

Indonesia pernah menghadapi tekanan berat pada 1998 ketika pendapatan per kapita sekitar US$455. Setelah stabilitas ekonomi dan politik perlahan terwujud, Indonesia masuk G-20 dengan pendapatan per kapita US$5.000, namun pemerataan kesejahteraan tetap dinilai sebagai pekerjaan besar.

Baca Juga